Pangandaran, inakor.id – Rencana pendirian Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di Kabupaten Pangandaran dinilai menjadi kebutuhan penting bagi daerah, khususnya untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi sekaligus mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Kepala Bappeda Kabupaten Pangandaran, Dindin Solehudin, mengatakan keberadaan perguruan tinggi di Pangandaran sejalan dengan visi pembangunan daerah, yakni mewujudkan Pangandaran sebagai daerah pariwisata dunia yang berkarakter.
“Ya, kita memang membutuhkan IAIN untuk Pangandaran. Pemerintah daerah sangat membutuhkan adanya perguruan tinggi, dan kita sudah memberikan aset untuk mendukung pendiriannya,” kata Dindin saat diwawancarai melalui pesan WhatsApp, Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, keberadaan perguruan tinggi keagamaan juga dinilai relevan dengan karakter pembangunan Pangandaran. Aspek pendidikan agama dianggap penting untuk mendukung visi daerah yang tidak hanya berorientasi pada pariwisata, tetapi juga pembentukan sumber daya manusia yang berkarakter.
Dindin menyebut salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah masih rendahnya angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi di Kabupaten Pangandaran.
“Pada tahun 2020, angka partisipasi kasar orang yang melanjutkan ke perguruan tinggi itu masih sekitar 8 persen. Kemudian pada 2025 meningkat menjadi sekitar 12,8 persen,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan perguruan tinggi di Pangandaran dapat semakin meningkatkan minat lulusan SMA dan sederajat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Selama ini, kata Dindin, sebagian masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar jika anak-anak mereka melanjutkan pendidikan ke luar daerah. Selain biaya pendidikan, terdapat pula kebutuhan biaya hidup dan tempat tinggal.
“Kalau ada perguruan tinggi di Pangandaran, paling tidak anak-anak lulusan SMA dan sederajat tidak harus jauh-jauh pergi ke luar kota. Karena kalau ke luar kota, mereka membutuhkan biaya yang cukup besar,” katanya.
Selain meningkatkan akses pendidikan, keberadaan perguruan tinggi juga diyakini memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dindin mencontohkan perkembangan kawasan pendidikan di Cintaratu yang mulai mendorong tumbuhnya usaha masyarakat.
“Secara ekonomi juga kelihatan. Dengan berdirinya perguruan tinggi di Cintaratu, sudah banyak rumah makan kecil dan kos-kosan yang berdiri. Artinya, secara ekonomi juga meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar,” tuturnya.
Dindin juga menilai pendirian IAIN dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan IPM Pangandaran, khususnya pada sektor pendidikan.
“Dari angka partisipasi kasar, kita ingin meningkatkan minat siswa-siswa Pangandaran untuk melanjutkan pendidikan. Kedua, untuk meningkatkan IPM kita, terutama dari sektor pendidikan,” ucapnya.
Ia mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan dukungan berupa aset dan lokasi untuk rencana pendirian perguruan tinggi tersebut. Proses kajian terkait rencana pendirian juga telah dilakukan bersama pihak terkait.
Dindin menambahkan, secara geografis, keberadaan perguruan tinggi di Pangandaran tidak hanya akan melayani masyarakat Kabupaten Pangandaran, tetapi juga berpotensi menjangkau daerah-daerah di sekitarnya.
“Sekolah atau perguruan tinggi itu tidak hanya untuk orang Pangandaran. Dari daerah sekitar juga bisa. Jadi kalau melihat jumlah penduduk, calon mahasiswa tidak hanya berasal dari Pangandaran,” katanya.
Ia berharap rencana pendirian IAIN Pangandaran dapat terus berproses sehingga masyarakat memiliki pilihan pendidikan tinggi yang lebih dekat, terjangkau, dan mampu mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah.
“Dengan adanya perguruan tinggi, mudah-mudahan angka partisipasi kasar semakin besar, semakin banyak orang Pangandaran yang melanjutkan pendidikan, dan IPM kita juga semakin meningkat,” pungkasnya.***
(Agit/ Agus Giantoro)



Tinggalkan Balasan