Pangandaran, inakor.id – Polemik rencana pendirian Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di Kabupaten Pangandaran mendapat tanggapan dari mantan Bupati Pangandaran, Jeje Wiradinata.

Jeje menilai gagasan menghadirkan perguruan tinggi negeri di Pangandaran bukan keputusan yang muncul secara tiba-tiba. Menurutnya, rencana tersebut telah menjadi bagian dari pembahasan pemerintah daerah sejak awal masa kepemimpinannya pada 2016.

banner 336x280

Pernyataan Jeje disampaikan menyusul kritik Pengasuh Pondok Pesantren Riyadussalikin Padaherang, KH Luthfi Fauzi, yang sebelumnya meminta kajian mengenai pendirian IAIN dilakukan secara lebih komprehensif. Luthfi juga mengingatkan agar pemerintah daerah tidak terburu-buru menyerahkan aset tanah untuk kepentingan tersebut.

Jeje mengatakan, kebutuhan perguruan tinggi di Pangandaran saat itu dikaji dengan melihat berbagai indikator pembangunan, terutama sektor pendidikan.

“Ketika awal menjabat sebagai bupati, persoalan paling mendasar yang kami kaji adalah pendidikan dan kesehatan. Saat itu, Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi di Pangandaran sangat rendah, hanya sekitar 8 persen,” kata Jeje via pesan Whatsapp, Sabtu (15/8/2026).

Ia menyebut setiap tahun terdapat sekitar 5.000 lulusan SMA, SMK, dan MA di Pangandaran. Namun, tidak seluruh lulusan tersebut mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di luar daerah.

Menurut Jeje, kendala yang dihadapi masyarakat bukan hanya biaya kuliah, tetapi juga kebutuhan hidup selama tinggal di luar daerah.

“Beban biaya kuliah di luar daerah bukan hanya soal UKT, tetapi juga biaya hidup (living cost). Kesimpulan kami saat itu, kampus yang harus didekatkan ke masyarakat,” ujarnya.

Selain meningkatkan akses pendidikan tinggi, Jeje menilai keberadaan perguruan tinggi Islam juga memiliki nilai strategis bagi Pangandaran. Sebagai daerah tujuan wisata dengan mobilitas masyarakat yang tinggi, menurutnya, penguatan pendidikan agama perlu terus dilanjutkan hingga jenjang perguruan tinggi.

“Pangandaran memiliki dinamika sosial yang tinggi dengan arus jutaan wisatawan. Pendidikan agama formal di tingkat Aliyah maupun pesantren sudah banyak, tetapi kita butuh kesinambungan ke jenjang pendidikan tinggi Islam yang berbobot akademis agar menjadi benteng moral generasi muda,” tuturnya.

Terkait rencana penyediaan lahan sekitar 26 hektare di Kecamatan Sidamulih, Jeje menjelaskan bahwa penyediaan aset tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah agar perguruan tinggi yang direncanakan dapat berkembang secara mandiri di Pangandaran.

Ia menegaskan, tujuan pemerintah saat itu bukan sekadar menghadirkan program pendidikan yang berstatus rintisan atau Program Studi di Luar Kampus Utama (PDKU), tetapi mendorong terbentuknya perguruan tinggi yang memiliki keberadaan permanen di daerah.

Dalam rencana tersebut, pemerintah daerah juga mendorong adanya kebijakan afirmasi bagi masyarakat Pangandaran. Salah satunya melalui target agar sedikitnya 50 persen mahasiswa nantinya berasal dari putra-putri daerah.

Jeje menyebut kebijakan itu diharapkan dapat memperluas kesempatan masyarakat lokal mengakses pendidikan tinggi sekaligus mendukung peningkatan rata-rata lama sekolah.

Jeje Dorong Dialog

Mengenai munculnya perbedaan pandangan terkait rencana IAIN, Jeje menilai hal tersebut merupakan bagian dari dinamika pembangunan daerah.

Ia meminta perbedaan pendapat tidak langsung dipandang sebagai bentuk penolakan terhadap pembangunan, tetapi menjadi bahan untuk melakukan evaluasi dan memperkuat kajian.

“Kita tidak boleh apriori terhadap pandangan yang menolak atau berbeda sikap. Saya meyakini tokoh seperti Ustaz Luthfi memiliki niat baik untuk daerah,” ucapnya.

Jeje pun mendorong Pemerintah Kabupaten Pangandaran, Dewan Pendidikan, serta tokoh masyarakat membuka ruang dialog bersama. Menurutnya, pembahasan secara terbuka diperlukan agar seluruh pihak memahami latar belakang rencana tersebut.

“Perlu ada ruang dialog agar seluruh latar belakang kebijakan, proyeksi SDM, serta persoalan perguruan tinggi di daerah kita bisa dipahami secara utuh dan berkelanjutan,” pungkasnya.***

 

(Agit/ Agus Giantoro) 

banner 336x280