Pangandaran, inakor.id – Pemandangan hasil tangkapan nelayan yang tidak terserap pasar membuat Ketua KUD Minasari Kabupaten Pangandaran, Jeje Wiradinata, prihatin. Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah udang korosok, yang dalam kondisi tertentu tidak mendapatkan pembeli di tempat pelayanan ikan.

Jeje mengaku tak tega melihat hasil tangkapan nelayan yang sudah dibawa ke tempat pelayanan tetapi berakhir tidak terjual. Padahal, hasil tangkapan tersebut merupakan sumber penghasilan bagi nelayan dan keluarganya.

banner 336x280

“Semua yang seperti ini tidak ada yang beli, tidak laku. Sedih saya. Yang seperti ini ada kurang lebih tiga kita, tidak laku. Terus mau dikemanakan? Siapa yang bertanggung jawab?” ujar Jeje melalui pesan WhatsApp, Minggu (20/9/2026).

 

Ketua KUD Minasari Kabupaten Pangandaran Jeje Wiradinata meninjau langsung hasil tangkapan udang korosok yang tidak terserap pasar di tempat pelayanan ikan, Pangandaran, Sabtu (19/9/2026). Foto : Dok. Jeje Wiradinata / Inakor
Ketua KUD Minasari Kabupaten Pangandaran Jeje Wiradinata meninjau langsung hasil tangkapan udang korosok yang tidak terserap pasar di tempat pelayanan ikan, Pangandaran, Sabtu (19/9/2026). Foto : Dok. Jeje Wiradinata / Inakor

Dalam kondisi tersebut, KUD Minasari mengambil langkah dengan membeli hasil tangkapan yang tidak terserap pasar sebagai bentuk tanggung jawab. Selanjutnya, hasil tangkapan tersebut dipersilakan untuk dibawa dan dibagikan.

“Dengan satu pertimbangan sebagai tanggung jawab, maka dibeli oleh KUD Minasari. Barangnya dipersilakan dibawa untuk dibagikan,” katanya.

Jeje mengatakan, sejak Agustus hingga awal September, dirinya hampir setiap hari berada di lokasi pelayanan ikan yang dikelola KUD Minasari. Biasanya, ia hadir sekitar tiga hari dalam sepekan. Namun, ketika hasil tangkapan meningkat, pemantauan terhadap transaksi menjadi semakin penting.

“Saya hadir untuk memastikan bagaimana transaksi ini berjalan dengan sehat,” ujarnya.

Sejumlah hasil tangkapan udang korosok terlihat menumpuk di area pelayanan ikan KUD Minasari, Kabupaten Pangandaran, Sabtu (19/9/2026). Foto : Dok. Jeje Wiradinata /Inakor
Sejumlah hasil tangkapan udang korosok terlihat menumpuk di area pelayanan ikan KUD Minasari, Kabupaten Pangandaran, Sabtu (19/9/2026). Foto : Dok. Jeje Wiradinata /Inakor

Menurut Jeje, perjuangan nelayan tidak berhenti ketika mereka berhasil membawa hasil tangkapan ke darat. Mereka harus menghadapi gelombang dan berbagai risiko di laut. Karena itu, ketika hasil tangkapan seperti udang korosok tidak mendapatkan pembeli, persoalan tersebut perlu segera dicarikan jalan keluar.

“Bagi saya adalah pengabdian. Dan pengabdian ini yang paling nyata untuk orang kecil, untuk orang yang tidak mampu,” tuturnya.

Jeje mengaku kondisi tersebut sangat menyentuh perasaannya. Ketika komoditas seperti layur memiliki harga bagus, nelayan dapat tersenyum. Namun, situasinya berbeda ketika hasil tangkapan tidak terserap pasar.

“Kalau layur, saya ketawa karena harganya bagus. Tapi kalau kondisi seperti ini terus, sangat menguras dada saya. Menangis saya, sedih saya,” kata Jeje.

Ia menyebut persoalan tersebut sebagai pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Jeje juga membuka kemungkinan bahwa persoalan serupa terjadi di tempat pelelangan ikan (TPI) lainnya.

“Ini PR saya, sehingga saya sedang mencari jalan keluar agar persoalan ini ke depan bisa ditangani dengan baik. Mungkin TPI-TPI lain juga sama seperti ini,” ujarnya.

Jeje menegaskan, pihaknya sedang melakukan sejumlah langkah agar transaksi di TPI dapat berjalan lebih baik dan persoalan harga maupun penyerapan hasil tangkapan dapat ditangani.

“Saya sedang melakukan langkah-langkah penanganan itu agar harganya bisa berjalan dengan baik. Mulai Senin saya sedang mencoba bagaimana TPI ini bisa berjalan,” pungkasnya.

Persoalan udang korosok yang tidak terserap pasar menjadi salah satu tantangan yang dihadapi nelayan Pangandaran. Bagi KUD Minasari, kondisi tersebut membutuhkan langkah nyata agar hasil tangkapan nelayan tetap memiliki nilai ekonomi dan tidak berakhir sia-sia.***

(Agit/ Agus Giantoro)

banner 336x280