Pangandaran, inakor.id — Kecintaan terhadap buku telah menjadi bagian panjang dari perjalanan hidup Masrudin, seorang pemandu wisata (guide) di Pangandaran, Jawa Barat. Selama puluhan tahun, ia mengumpulkan buku dari berbagai negara hingga koleksinya pernah mencapai ribuan eksemplar.

Hal itu disampaikan Masrudin saat ditemui dan diwawancarai di kediamannya di Pangandaran, Rabu (16/9/2026). Dalam perbincangan tersebut, ia menceritakan perjalanan hidupnya sebagai guide sekaligus pengoleksi buku yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

banner 336x280

Masrudin lahir di Desa Sindangjaya, Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran. Ia kemudian datang ke Pangandaran pada akhir 1981 dan mulai bekerja di Hotel Pelangi.

Kedatangannya ke Pangandaran menjadi awal dari perjalanan panjang yang kemudian membawanya menekuni dunia pariwisata, belajar bahasa Inggris secara mandiri, hingga berinteraksi dengan wisatawan mancanegara.

Bukan sekadar koleksi, buku-buku ini adalah bagian dari perjalanan hidup seorang guide Pangandaran. Foto : Agit/ Inakor
Bukan sekadar koleksi, buku-buku ini adalah bagian dari perjalanan hidup seorang guide Pangandaran. Foto : Agit/ Inakor

Masrudin mulai menekuni dunia guiding sekitar 1993–1994. Sejak saat itu, ia banyak berinteraksi dengan wisatawan mancanegara, terutama dari negara-negara Eropa.

“Kalau dulu bule-bule yang datang hampir dari seluruh dunia, tapi kebanyakan dari Eropa. Sekitar 60 persen dari Belanda, kemudian sekitar 20 persen dari Jerman, sisanya dari negara-negara lain,” ujar Masrudin.

Menurutnya, interaksi dengan wisatawan asing juga menjadi salah satu cara dirinya memperluas wawasan, terutama dalam mempelajari bahasa Inggris dan mengenal berbagai kebudayaan.

Ketertarikannya terhadap buku sebenarnya sudah tumbuh sejak lama. Saat datang ke Pangandaran pada akhir 1981, Masrudin mulai memikirkan apa yang harus dilakukan untuk masa depannya.

Ia kemudian memilih belajar bahasa Inggris secara mandiri. Selain membaca buku, ia juga kerap menonton film-film berbahasa Inggris untuk memperkaya kemampuan berbahasa.

“Dari awal saya berpikir, yang pertama harus belajar bahasa Inggris. Kemudian kita juga harus belajar tentang sosial dan bertemu dengan orang-orang yang pintar dan kaya untuk belajar dari mereka,” katanya.

Perjalanan mengoleksi buku semakin berkembang ketika Masrudin bekerja di sejumlah hotel di Pangandaran. Sekitar 1987, ia bertemu seorang warga Australia kelahiran Belanda yang memberikan lima buku kepadanya.

“Dia bilang, kamu jangan jual buku ini, tapi tukar satu untuk dua atau disewakan,” tuturnya.

Dari situlah koleksi buku Masrudin terus bertambah. Setiap bertemu wisatawan, ia menawarkan buku untuk ditukar, dibeli, atau bahkan terkadang diberikan secara cuma-cuma oleh pemiliknya.

Pada awal 1990-an, ketika bekerja di Hotel Pelangi, Masrudin mulai menjadikan buku sebagai bagian dari aktivitas sehari-harinya. Ia membawa buku dari hotel ke restoran dan menawarkan kepada wisatawan asing.

“Saya door to door, dari hotel ke restoran, bawa buku. Kalau ada tamu bule, saya datangin bawa buku. Mereka suka beli, tukar, dan kadang-kadang mereka juga memberikan buku begitu saja,” ujarnya.

Koleksi tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah perpustakaan kecil yang dapat dimanfaatkan wisatawan. Para tamu hotel bisa meminjam buku untuk dibaca tanpa harus membelinya.

Masrudin juga pernah membuka toko buku di kawasan tempat pelelangan ikan (TPI) sekitar 1991. Setelah beberapa tahun, tempat usahanya berpindah hingga akhirnya sempat berada di kawasan Lanjung Sari.

Koleksi bukunya berasal dari berbagai negara. Buku-buku tersebut tidak hanya berbahasa Indonesia, tetapi juga tersedia dalam sejumlah bahasa asing.

“Sekarang ada hampir 11 bahasa. Buku yang ada sekitar 450, dan sekitar 90 persen merupakan buku dari mancanegara. Ada dari Belanda, Jerman, Inggris, Swedia, Norwegia, Spanyol, Jepang dan lainnya,” katanya.

Namun, perjalanan panjang koleksi buku itu tidak sepenuhnya berjalan mulus. Sebagian buku rusak akibat hujan dan serangan rayap. Masrudin bahkan terpaksa menjual lebih dari 250 kilogram buku yang kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk disimpan.

Meski demikian, ia memperkirakan jumlah buku yang pernah dikoleksinya mencapai sekitar 4.500 eksemplar.

“Kalau dihitung semuanya, mungkin sekitar 4.500 buku. Kemarin saya jual hampir 250 kilogram lebih karena terkena hujan dan rayap,” ucapnya.

Sebelum pandemi COVID-19, minat wisatawan untuk datang, membaca, membeli, maupun bertukar buku masih cukup tinggi. Aktivitas tersebut sekaligus menjadi sumber penghasilan bagi Masrudin.

Ia mengaku bersyukur karena dari pekerjaannya selama bertahun-tahun, ia dapat membiayai pendidikan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.

“Saya hidup hanya untuk anak-anak. Saya tidak sekolah tinggi, tetapi saya ingin anak-anak saya bisa sekolah,” katanya.

Kini, setelah tempat usahanya dibongkar, koleksi buku Masrudin untuk sementara disimpan di rumah. Ia masih menyimpan harapan untuk kembali membangun perpustakaan yang dapat diakses masyarakat, khususnya warga Indonesia.

“Sebenarnya saya punya mimpi membuat perpustakaan, bukan hanya toko buku. Orang Indonesia bisa membaca buku di pantai secara gratis,” ujarnya.

Menurut Masrudin, keberadaan perpustakaan dan budaya membaca sangat penting bagi masyarakat. Ia mengaku prihatin ketika masih menemukan anak usia sekolah yang belum mampu membaca.

“Saya sedih kalau melihat keadaan, jangan jauh-jauh, di Pangandaran saja masih ada anak SMP yang belum bisa baca. Bagaimana mau mendapatkan pendidikan?” katanya.

“Bagi saya, untuk menjadi beradab harus berpendidikan. Untuk bisa maju juga harus berpendidikan. Dan tanpa membaca, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan menjadi sangat sedikit. Tidak ada orang yang pintar dan tidak ada orang yang bodoh. Yang ada orang yang berpendidikan dan tidak berpendidikan,” lanjutnya.

Selain mengoleksi dan memperjualbelikan buku, sejak sekitar 1991 hingga sebelum pandemi, Masrudin juga menjalankan layanan informasi wisata bagi wisatawan mancanegara.

Ia menilai keberadaan pusat informasi wisata sangat penting karena wisatawan membutuhkan informasi sebelum menentukan aktivitas dan mengeluarkan uang selama berada di Pangandaran.

“Turis tidak mungkin mengeluarkan uang atau beraktivitas kalau tidak tahu mereka harus ke mana dan untuk apa uang itu dipergunakan. Jadi, tourist information itu penting sekali,” katanya.

Masrudin berharap pemerintah dapat menyediakan tempat khusus yang mudah dijangkau wisatawan untuk layanan informasi tersebut. Menurutnya, lokasi menjadi salah satu faktor penting.

“Kalau jauh dari tempat kunjungan tamu, tamu tidak mau datang, biarpun hanya 50 meter dari tempat itu,” ujarnya.

Ia bahkan menyatakan siap apabila diberi kesempatan untuk ikut mengelola pusat informasi wisata di Pangandaran. Menurutnya, layanan informasi wisata dan keberadaan buku dapat berjalan beriringan.

Masrudin menyebut wisatawan membutuhkan informasi yang jelas mengenai berbagai destinasi, seperti Green Canyon, Citumang, Janggala maupun kawasan wisata lainnya.

“Kalau mereka tidak tahu tempatnya, mereka tidak akan datang. Harus ada tourist information atau informasi dari orang lain, dari mulut ke mulut,” katanya.

Di tengah perubahan zaman dan semakin kuatnya penggunaan buku elektronik, Masrudin masih percaya buku cetak memiliki tempat tersendiri. Ia berharap kebiasaan membaca kembali tumbuh, baik di kalangan wisatawan maupun masyarakat lokal.

Bagi Masrudin, ribuan buku yang pernah dikumpulkannya bukan sekadar barang koleksi. Buku-buku tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup, sumber pengetahuan, sekaligus jembatan yang mempertemukannya dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia.***

(Agit/ Agus Giantoro)

banner 336x280