Pangandaran, inakor.id – Kader Partai Golkar Kabupaten Pangandaran, Ade Ruminah, menyatakan kesiapannya untuk maju sebagai calon Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Pangandaran apabila mendapat amanah dari kader partai. Hal tersebut disampaikannya saat diwawancarai pada Kamis (6/8/2026).

Ade menegaskan, keputusannya untuk maju bukan didorong oleh ambisi pribadi, melainkan karena adanya permintaan dan dorongan dari kader Partai Golkar, para pengurus di berbagai tingkatan, serta sejumlah tokoh masyarakat yang menginginkan regenerasi kepemimpinan di tubuh Partai Golkar Kabupaten Pangandaran.

banner 336x280

“Saya diminta oleh kader partai, para pengurus, dan juga tokoh-tokoh masyarakat. Sebagai kader, tentu saya harus siap apabila memang diberikan amanah. Kalau partai membutuhkan, saya siap mengemban tanggung jawab itu,” kata Ade.

Menurut Ade, setiap kader Partai Golkar memiliki hak yang sama untuk mencalonkan diri sebagai Ketua DPD sepanjang memenuhi persyaratan organisasi. Salah satu syaratnya adalah telah menjadi pengurus partai selama satu periode berturut-turut. Ia mengaku dukungan terhadap dirinya telah melampaui batas minimal tersebut.

“Alhamdulillah dukungan sudah lebih dari 30 persen. Saya maju karena memang diminta oleh kader, para pemilik hak suara, dan mendapat dorongan dari tokoh-tokoh masyarakat yang berharap Golkar semakin maju,” ujarnya.

Sebagai kader yang telah tiga periode dipercaya menjadi anggota DPRD Kabupaten Pangandaran aktif sekaligus pengurus DPD Partai Golkar, Ade menilai regenerasi kepemimpinan merupakan hal yang wajar dalam sebuah organisasi politik. Menurutnya, regenerasi dibutuhkan agar partai mampu menghadapi tantangan politik yang terus berkembang.

Ia pun mengusung visi “Perubahan Golkar Lebih Baik untuk Regenerasi” sebagai arah kepemimpinannya apabila dipercaya menjadi Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Pangandaran.

Menurut Ade, perubahan yang dimaksud bukan berarti meninggalkan capaian yang telah diraih, melainkan melanjutkan hal-hal baik yang sudah ada dengan menghadirkan semangat baru, inovasi, serta kepemimpinan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Yang sudah baik tentu harus dipertahankan, tetapi ke depan harus menjadi lebih baik lagi. Kita membutuhkan regenerasi dan penyegaran agar Partai Golkar semakin dipercaya masyarakat,” tuturnya.

Untuk mewujudkan visi tersebut, Ade membawa sejumlah misi, di antaranya memperkuat soliditas kader, meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan politik, memperluas ruang bagi kader muda untuk berkiprah, memperkuat komunikasi dengan masyarakat, serta meningkatkan perolehan suara dan kursi Partai Golkar pada Pemilu 2029.

“Sekarang Golkar memiliki lima kursi di DPRD. Walaupun jumlah kursinya masih tetap, perolehan suara kita mengalami penurunan. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama agar suara Golkar kembali meningkat dan kursi legislatif bertambah pada Pemilu 2029,” katanya.

Selain fokus pada penguatan internal partai, Ade juga ingin Partai Golkar menjadi wadah yang mampu menarik minat generasi muda terhadap dunia politik. Menurutnya, Generasi Z dan Generasi Alpha harus mulai diberikan ruang untuk belajar dan terlibat dalam proses demokrasi.

“Saya ingin Generasi Z dan Generasi Alpha melek politik. Mereka adalah calon pemimpin masa depan yang harus kita rangkul, kita beri pendidikan politik yang baik, dan kita libatkan dalam berbagai kegiatan partai agar tumbuh rasa memiliki terhadap bangsa dan daerah,” ujarnya.

Ia menambahkan, Ketua DPD Partai Golkar harus menjadi sosok yang mampu membangun kepercayaan masyarakat sekaligus menjadi magnet bagi kebangkitan partai.

“Ketua DPD harus menjadi magnet yang mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Partai Golkar. Kalau masyarakat percaya, maka kader juga semakin semangat untuk bekerja,” ucapnya.

Terkait mekanisme pemilihan Ketua DPD, Ade menegaskan seluruh proses akan ditentukan oleh para pemilik hak suara dalam Musyawarah Daerah (Musda). Menurutnya, apabila seluruh pemilik hak suara dapat mencapai kesepakatan melalui musyawarah, maka pemilihan secara aklamasi merupakan hal yang sangat mungkin terjadi.

“Semua ditentukan oleh pemilik hak suara. Dalam politik tentu yang dikedepankan adalah komunikasi, kompromi, dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan. Kalau memang bisa aklamasi, tentu itu menjadi pilihan yang baik,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa sebelum Musda dilaksanakan, Partai Golkar akan lebih dahulu menggelar pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi para kader. Setelah seluruh rangkaian diklat selesai, barulah jadwal pelaksanaan Musda akan ditetapkan.

“Rencananya diklat dulu, setelah itu baru ditentukan jadwal Musdanya,” jelasnya.

Menutup pernyataannya, Ade berharap dinamika menjelang Musda tetap berjalan dalam suasana kekeluargaan dan tidak menimbulkan perpecahan di internal partai.

“Yang paling penting adalah komunikasi. Kita boleh memiliki strategi untuk memperoleh dukungan, tetapi jangan sampai berbenturan. Kita tetap satu rumah, tujuannya sama, yaitu membesarkan Partai Golkar. Siapa pun yang nanti dipercaya memimpin harus mampu membawa Golkar menjadi lebih baik melalui regenerasi dan kebersamaan,” pungkasnya.***

 

(Agit/ Agus Giantoro) 

banner 336x280