Pangandaran, inakor.id – Pengelola objek wisata Body Rafting Citumang, Kabupaten Pangandaran, PT Perhutani Alam Wisata Risorsis mulai menggunakan teknologi Early Warning System (EWS) untuk mengantisipasi ancaman banjir bandang.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat penyampaian informasi apabila terjadi kenaikan debit air, sehingga wisatawan maupun pelaku usaha di kawasan Body Rafting Citumang bisa segera melakukan langkah penyelamatan.
Manager Cluster Priangan, Yudi Priono, mengatakan sebelum menggunakan EWS, pengelola masih melakukan pemantauan secara manual dengan melihat alat pengukur ketinggian air.
“EWS ini muncul karena sebelumnya kami mengandalkan secara manual ketika ada bencana banjir bandang. Ketika air naik, kami hanya melihat dari alat mengukur ketinggian air,” kata Yudi, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Yudi, cara tersebut dirasa belum cukup untuk memberikan peringatan secara cepat. Karena itu, pengelola kemudian mencoba memanfaatkan teknologi EWS yang bisa memberikan informasi ketika terdapat indikasi kenaikan debit air.
Saat ini terdapat dua perangkat yang dipasang. Satu berada di kawasan Santirah yang jaraknya sekitar lima kilometer dari Citumang, sementara satu perangkat lainnya berada di kawasan Citumang dan dilengkapi dengan sirene.
“Jarak untuk informasi dari atas, sekitar lima kilometer sampai sini hanya sekitar satu sampai dua menit sudah kami terima,” ujarnya.
Selain menggunakan sirene, sistem tersebut juga terhubung melalui WhatsApp. Ketika terdapat indikasi kenaikan air, pemberitahuan akan masuk kepada pengelola.
Informasi tersebut tidak hanya diterima oleh pengelola wisata. Para pelaku usaha di kawasan Citumang hingga unsur pemerintahan di tingkat desa dan kecamatan juga akan mendapatkan informasi tersebut.
Dengan begitu, pengelola bisa lebih cepat mengambil tindakan, terutama apabila kondisi air mulai menunjukkan potensi membahayakan wisatawan.
“Ini memudahkan kami untuk cepat, terutama dalam melakukan evakuasi pengunjung atau wisatawan,” kata Yudi.
Yudi menyebut pemasangan EWS menjadi salah satu upaya pengelola untuk memberikan rasa aman kepada wisatawan yang datang ke Citumang. Terlebih, karakter wisata Citumang yang berada di kawasan sungai memiliki risiko tersendiri ketika terjadi perubahan debit air secara tiba-tiba.
“Harapan kami dengan menambah fasilitas ini, pengunjung merasa nyaman dan merasa aman saat berwisata di Citumang. Wisata yang berisiko ini tetap aman bagi mereka, sehingga mereka tidak ragu-ragu untuk datang,” katanya.

Selain sistem peringatan dini, pengelola Citumang juga menambah fasilitas pendukung bagi wisatawan. Salah satunya musala yang diberi nama Al-Anhar dan baru saja diresmikan.
Fasilitas tersebut disiapkan setelah pengelola menerima masukan dari sejumlah pengunjung yang kesulitan mencari tempat untuk beribadah ketika berada di kawasan wisata.
“Ini menjawab keluhan beberapa pengunjung yang selama ini ketika ingin beribadah susah mencari tempat. Sehingga kami mewujudkan fasilitas tempat ibadah,” ujar Yudi.
Nama Al-Anhar sendiri memiliki arti sungai-sungai yang indah, yang dinilai sesuai dengan karakter Citumang sebagai kawasan wisata yang identik dengan sungai dan alam.
Ke depan, pengelola juga menyiapkan teknologi lain untuk mendukung pengawasan kawasan wisata. Salah satunya bodyguard system yang ditargetkan mulai dipasang pada akhir bulan ini.
Sistem tersebut nantinya digunakan untuk memantau jumlah pengunjung secara digital dan real time. Dengan demikian, pengelola dapat mengetahui jumlah wisatawan yang berada di kawasan wisata pada saat tertentu.
“Bodyguard system ini untuk memantau jumlah pengunjung secara real time, sehingga nanti bisa terpantau secara digital melalui alat-alat kami,” pungkasnya.***
(Agit/ Agus Giantoro)



Tinggalkan Balasan