Pangandaran, inakor.id – Di tengah suara debur ombak Pantai Pangandaran, puluhan insan pers dan sejumlah unsur terkait menundukkan kepala. Tangan mereka terangkat dalam doa, sementara puluhan lilin menyala di tengah lingkaran sebagai simbol harapan.
Kegiatan tersebut digelar pada Minggu (20/9/2026) malam sekitar pukul 19.00 WIB. Doa bersama menjadi bentuk kepedulian dan solidaritas insan pers terhadap lima jurnalis serta keluarga yang masih menanti kabar mengenai keberadaan mereka.
Kelima jurnalis tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, serta Donal Husni, jurnalis lepas.
Suasana haru terasa ketika lantunan doa dan dzikir bergema. Para jurnalis yang hadir berharap proses pencarian segera menemukan titik terang dan kelima rekannya dapat kembali berkumpul bersama keluarga.
Perwakilan IJTI Galuh Raya Pangandaran, Padna, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus solidaritas rekan-rekan jurnalis terhadap lima jurnalis yang masih dalam pencarian.
“Malam ini kita melaksanakan kegiatan doa bersama untuk mendoakan lima rekan jurnalis dan ABK yang hilang saat menjalankan tugas. Saat ini sudah 14 hari dan beberapa hari ke belakang pencarian sudah ditutup. Ini salah satu bentuk kepedulian kita kepada mereka yang dinyatakan belum ditemukan atau hilang,” ujar Padna.
Menurut Padna, kegiatan tersebut diikuti rekan-rekan jurnalis dari organisasi profesi lainnya di Kabupaten Pangandaran bersama sejumlah unsur terkait. Doa bersama diharapkan menjadi dukungan moral bagi keluarga yang masih menunggu kepastian.
“Kita bersama teman-teman dan rekan-rekan jurnalis di Kabupaten Pangandaran, kemudian ada Dandim, Kapolres, unsur SAR, DPRD Kabupaten Pangandaran, bersama-sama melakukan doa bersama. Mudah-mudahan mereka bisa segera ditemukan, meski dalam keadaan apa pun,” katanya.
Sementara itu, pembawa acara, Aldi Nurfadillah, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk solidaritas sekaligus penguat bagi keluarga dan rekan-rekan lima jurnalis yang masih menunggu kabar.
Menurutnya, pekerjaan jurnalistik memiliki risiko yang tidak selalu dapat diprediksi ketika seorang jurnalis berada di lapangan menjalankan tugas. Nyala lilin yang diletakkan di tengah lingkaran peserta menjadi simbol harapan agar kelima jurnalis yang masih dalam pencarian segera ditemukan.
“Ini bentuk kepedulian kita. Mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan mereka yang masih hilang bisa segera ditemukan,” tutur Padna.
Malam itu, para jurnalis tidak sedang mengejar gambar dramatis maupun pernyataan narasumber. Kamera dan mikrofon seolah dikesampingkan sejenak. Mereka berkumpul dalam satu harapan: semoga lima rekan seprofesi yang masih dalam pencarian segera ditemukan dan kembali ke tengah keluarga.

Sementara itu, pembawa acara, Aldi Nurfadillah, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk solidaritas sekaligus penguat bagi keluarga dan rekan-rekan lima jurnalis yang masih menunggu kabar.
Menurutnya, pekerjaan jurnalistik memiliki risiko yang tidak selalu dapat diprediksi ketika seorang jurnalis berada di lapangan menjalankan tugas.
Nyala lilin yang diletakkan di tengah lingkaran peserta menjadi simbol harapan agar kelima jurnalis yang masih dalam pencarian segera ditemukan.
“Ini bentuk kepedulian kita. Mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan mereka yang masih hilang bisa segera ditemukan,” tutur Padna.
Malam itu, para jurnalis tidak sedang mengejar gambar dramatis maupun pernyataan narasumber. Kamera dan mikrofon seolah dikesampingkan sejenak. Mereka berkumpul dalam satu harapan: semoga lima rekan seprofesi yang masih dalam pencarian segera ditemukan dan kembali ke tengah keluarga.***
(Agit/ Agus Giantoro)



Tinggalkan Balasan