Pangandaran, inakor.id – Nelayan di Kabupaten Pangandaran kini mulai diperkenalkan dengan teknologi digital yang dapat membantu menentukan lokasi potensial keberadaan ikan sekaligus memberikan panduan navigasi saat melaut.

Teknologi tersebut dikembangkan Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) dalam bentuk Aplikasi Tangkap.

banner 336x280

Sosialisasi dan implementasi aplikasi berlangsung di Aula Desa Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jumat (4/9/2026), melalui kegiatan Workshop Sosialisasi dan Implementasi Aplikasi Tangkap untuk Peningkatan Kapasitas dan Keselamatan Penangkapan Ikan di Pangandaran.

Kepala Desa Pangandaran, Adi Fitriadi, mengatakan hadirnya aplikasi tersebut berawal dari keinginannya menghadirkan program yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya nelayan.

Hal itu tidak terlepas dari kondisi masyarakat Desa Pangandaran yang sebagian besar menggantungkan mata pencaharian dari sektor perikanan.

“Mengingat warga Desa Pangandaran itu paling banyak bermata pencaharian sebagai nelayan, saya berpikir bagaimana memberikan program yang benar-benar menyentuh masyarakat nelayan. Alhamdulillah, ada beberapa program yang sudah kami laksanakan, khususnya melalui Pemerintah Desa Pangandaran,” ujar Adi saat diwawancarai, Jumat (4/9/2026).

Menurut Adi, pemerintah desa kemudian berupaya mencari informasi dan dukungan dari berbagai pihak untuk menghadirkan program yang sesuai dengan kebutuhan nelayan.

Dalam proses tersebut, Adi bertemu dengan salah seorang dosen ITB, Wiwin, yang selama ini aktif dalam kegiatan pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat di Pangandaran.

“Saya mencari informasi dan dukungan berkaitan dengan program. Alhamdulillah, saya bertemu dengan Pak Wiwin sebagai dosen ITB yang sering ke Pangandaran berkaitan dengan pendidikan dan pengabdian masyarakat. Kemudian saya konsultasikan bahwa saya ingin memberikan program untuk nelayan, dan Alhamdulillah Pak Wiwin akhirnya memberikan program itu, yaitu Aplikasi Tangkap,” katanya.

Adi berharap aplikasi tersebut dapat membantu nelayan Desa Pangandaran dalam menentukan lokasi penangkapan sehingga aktivitas melaut menjadi lebih efektif.

“Jelas, harapannya bisa mempermudah warga Desa Pangandaran, khususnya nelayan, untuk menangkap ikan,” ungkapnya.

 

Nelayan Pangandaran mendapat pendampingan penggunaan Aplikasi Tangkap sebagai inovasi untuk meningkatkan efektivitas dan keselamatan saat melaut. Foto : Agit/ Inakor
Nelayan Pangandaran mendapat pendampingan penggunaan Aplikasi Tangkap sebagai inovasi untuk meningkatkan efektivitas dan keselamatan saat melaut. Foto : Agit/ Inakor

 

Tak Hanya Cari Ikan, Aplikasi Beri Panduan Navigasi

Lektor Kepala Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB menjelaskan, Aplikasi Tangkap tidak hanya dirancang untuk memberikan informasi mengenai lokasi potensial ikan.

Aplikasi tersebut juga dilengkapi dengan fungsi navigasi yang membantu nelayan menuju lokasi yang telah ditentukan.

“Aplikasi ini digunakan untuk membantu nelayan mencari ikan di laut, tetapi sudah mengetahui di mana ikan berada sehingga tinggal pergi ke sana. Aplikasi ini juga membantu nelayan dalam hal navigasi ke tempat ikan itu berada,” ujarnya.

Melalui aplikasi tersebut, nelayan dapat memperoleh informasi mengenai arah perjalanan, jarak, perkiraan waktu tempuh hingga kondisi laut menuju lokasi yang dituju.

Konsep navigasinya, kata dia, kurang lebih menyerupai penggunaan aplikasi peta digital saat berkendara di darat.

“Seperti halnya kalau Bapak-Bapak menggunakan Google Maps di mobil, untuk di kapal pun konsepnya kurang lebih seperti itu, yaitu menunjukkan arah dan jalan,” jelasnya.

 

Manfaatkan Data Citra Satelit

Salah satu fitur yang menjadi bagian penting dalam pengembangan Aplikasi Tangkap adalah informasi mengenai potensi keberadaan ikan yang diperoleh melalui pengolahan data terkini dari citra satelit.

“Kelebihannya adalah memunculkan informasi terkini mengenai ikan itu ada di mana. Itu berdasarkan informasi terkini juga dari citra satelit. Kita interpretasikan di mana ikan itu berada, kondisi untuk hari ini itu ada di mana,” katanya.

Dengan informasi tersebut, nelayan diharapkan dapat memiliki gambaran mengenai lokasi yang berpotensi menjadi daerah penangkapan ikan sebelum berangkat melaut.

Teknologi tersebut juga tidak hanya berorientasi pada hasil tangkapan. Aspek keselamatan menjadi bagian yang turut diperhatikan dalam pengembangan aplikasi.

Informasi mengenai kondisi laut dan cuaca dapat menjadi bahan pertimbangan nelayan dalam menentukan perjalanan menuju lokasi penangkapan.

 

Belum Bisa Identifikasi Jenis Ikan

Meski telah memiliki sejumlah fitur, Aplikasi Tangkap saat ini masih dalam tahap pengembangan.

Salah satu tantangan yang tengah dikembangkan adalah kemampuan aplikasi untuk mengidentifikasi atau mengklasifikasikan jenis ikan yang berpotensi berada di lokasi tertentu.

“Aplikasinya baru kami kembangkan setahun terakhir, jadi kami belum bisa mengklasifikasikan ini ikannya apa. Secara teori itu bisa, tetapi kami masih mencoba mengembangkannya,” ungkapnya.

Kemampuan tersebut dinilai penting karena nelayan menggunakan berbagai jenis alat tangkap yang disesuaikan dengan jenis ikan maupun musim penangkapan.

Ke depan, ITB berharap aplikasi dapat dikembangkan lebih jauh sehingga informasi yang diterima nelayan semakin spesifik.

Dengan demikian, nelayan nantinya tidak hanya mendapatkan informasi mengenai lokasi potensial ikan, tetapi juga dapat menyesuaikan alat tangkap yang digunakan.

“Mudah-mudahan dalam perkembangannya ke depan, aplikasi ini juga akan dikembangkan lebih lanjut untuk bisa sampai menjawabnya. Kita juga harus mempersiapkan alat tangkap yang sesuai dengan jenis ikannya,” ujarnya.

Kolaborasi Pemerintah Desa Pangandaran dan ITB tersebut diharapkan menjadi langkah awal pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung aktivitas nelayan.

Selain membantu meningkatkan efisiensi dalam mencari lokasi penangkapan, Aplikasi Tangkap diharapkan turut meningkatkan kapasitas dan keselamatan nelayan saat beraktivitas di laut.

Jika pengembangannya semakin matang, teknologi tersebut juga berpeluang diterapkan di wilayah pesisir lainnya.***

 

(Agit/ Agus Giantoro)

banner 336x280