Pangandaran, inakor.id – Kabar duka kembali menyelimuti pelaksanaan program nasional Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Hingga Sabtu (27/6/2026), tercatat lima calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil).

Berdasarkan informasi yang beredar, lima peserta yang meninggal dunia yakni Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari yang dilaporkan meninggal di RSUD Abdul Azis Singkawang.

banner 336x280

Menanggapi peristiwa tersebut, Wakil Ketua Bidang Pembangunan Pedesaan dan Daerah Tertinggal DPD KNPI Kabupaten Pangandaran, Burhanudin, meminta pemerintah dan penyelenggara program melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Latsarmil.

Menurut Burhanudin, bertambahnya jumlah peserta yang meninggal dunia perlu menjadi perhatian serius agar penyebabnya dapat diketahui secara objektif.

“Lima nyawa melayang dalam satu rangkaian kegiatan merupakan persoalan yang sangat serius. Kami mempertanyakan bagaimana proses pemeriksaan kesehatan awal dilakukan. Jika seluruh peserta dinyatakan memenuhi syarat kesehatan, maka perlu ada penjelasan mengenai penyebab terjadinya peristiwa ini,” ujar Burhanudin, Senin (29/6/2026).

Ia juga menilai perlu dilakukan evaluasi terhadap mekanisme seleksi kesehatan peserta, sehingga standar pemeriksaan yang diterapkan benar-benar mampu mengukur kesiapan fisik calon peserta sebelum mengikuti pelatihan.

Selain itu, Burhanudin meminta proses rekrutmen dilakukan secara transparan agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.

“Kami berharap seluruh proses seleksi, termasuk hasil pemeriksaan kesehatan, dapat dibuka secara transparan sesuai ketentuan yang berlaku. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan seluruh tahapan rekrutmen dilaksanakan secara profesional,” katanya.

DPD KNPI Kabupaten Pangandaran juga mendorong pemerintah melakukan audit menyeluruh terhadap standar keselamatan dan kesehatan selama pelaksanaan Latsarmil, serta memberikan pendampingan dan perhatian kepada keluarga peserta yang meninggal dunia.

“Jangan sampai kejadian serupa kembali terulang. Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan program. Evaluasi menyeluruh diperlukan agar tujuan membentuk penggerak pembangunan desa tidak dibayangi oleh jatuhnya korban jiwa,” ucap Burhanudin.

Hingga berita ini ditulis, pihak Kementerian Pertahanan menyampaikan bahwa proses evaluasi dan pendalaman terhadap penyebab meninggalnya para peserta masih berlangsung. Pemerintah juga diharapkan segera menyampaikan hasil investigasi secara terbuka kepada publik setelah proses tersebut selesai.***

 

(Agit/ Agus Giantoro) 

banner 336x280