KOTA BANDUNG, INAKOR.ID – Ketua DPRD Kota Bandung H. Asep Mulyadi, SH., membuka Pelatihan Ekonomi Kreatif Subsektor Fesyen yang merupakan hasil Pokok Pikiran (Pokir) Reses Tahun 2025–2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Avery de’Grandcity Bandung, Jalan Pungkur No. 245, Kota Bandung, Selasa (22/9/2026).
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari, 22–23 September 2026, ini diikuti sebanyak 40 peserta. Kegiatan turut dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, para peserta pelatihan, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, H. Asep Mulyadi menegaskan bahwa pelatihan ekonomi kreatif tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial maupun sekadar pemberian sertifikat kepada peserta. Menurutnya, keberhasilan sebuah pelatihan harus diukur dari kemampuan peserta dalam mengimplementasikan ilmu yang diperoleh sehingga mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi dan mendapatkan akses pasar.
“Keberhasilan pelatihan ini bukan diukur dari berapa banyak sertifikat yang diberikan, bukan pula hanya dari jumlah peserta yang hadir. Ukurannya adalah berapa banyak peserta yang setelah mengikuti pelatihan mampu menghasilkan produk, mendapatkan pasar, meningkatkan omzet, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujarnya.
Ia menilai subsektor fesyen memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan di Kota Bandung. Kreativitas, inovasi, kualitas produk, serta kemampuan membaca kebutuhan pasar menjadi faktor penting agar para pelaku ekonomi kreatif mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan usaha yang semakin dinamis.
Asep juga mengajak para peserta untuk membangun sikap sebagai pemenang dalam mengembangkan usaha. Menurutnya, pelaku usaha perlu memiliki optimisme, keberanian mengambil peluang, serta tidak mudah menyalahkan keadaan maupun pihak lain ketika menghadapi berbagai tantangan.
“Salah satu sikap yang harus dimiliki sebagai pemenang adalah membangun harapan dari apa yang bisa kita lakukan. Hindari menyalahkan orang lain. Mulailah dari kemampuan dan potensi yang kita miliki,” katanya.
Lebih lanjut, Asep berharap pelatihan tersebut dapat menjadi langkah awal bagi peserta untuk mengembangkan keterampilan menjadi produk fesyen yang memiliki daya saing sekaligus mampu membuka peluang ekonomi baru.
Ia menekankan bahwa terbentuknya pasar harus menjadi salah satu indikator penting dari keberlanjutan program. Dengan demikian, ilmu dan keterampilan yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah pelatihan selesai, tetapi dapat diterapkan dalam kegiatan usaha secara nyata.
“Ukuran keberhasilannya adalah bagaimana pasar bisa terbentuk. Ketika produk mampu diterima pasar, omzet meningkat, usaha berkembang, dan memberikan dampak terhadap kesejahteraan keluarga, maka di situlah pelatihan ini benar-benar memberikan manfaat,” tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kota Bandung bersama DPRD diharapkan dapat terus mendorong penguatan sektor ekonomi kreatif, khususnya subsektor fesyen, sebagai salah satu potensi ekonomi masyarakat.
Para peserta juga diharapkan mampu memanfaatkan pelatihan secara optimal, mulai dari peningkatan keterampilan, pengembangan desain dan produk, hingga strategi pemasaran, sehingga mampu menciptakan produk fesyen yang inovatif, berkualitas, dan memiliki nilai jual.
Dengan bekal keterampilan dan wawasan yang diperoleh selama pelatihan, para peserta diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat program, tetapi juga mampu menjadi pelaku usaha yang mandiri, produktif, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif di Kota Bandung.***
(Wawat S.)



Tinggalkan Balasan