Rabat, Maroko, inakor.id – Hubungan Maroko dan Spanyol kembali menghadapi ujian serius setelah lonjakan migrasi ke Ceuta pada akhir Juli 2026 memicu perdebatan politik di Spanyol. Di tengah persoalan tersebut, Rabat berupaya mempertahankan kerangka hubungan bilateral yang sejak 2022 dibangun di atas dialog politik, kerja sama ekonomi, keamanan, dan pengelolaan migrasi.

Kementerian Luar Negeri, Kerja Sama Afrika dan Warga Maroko di Luar Negeri pada 10 September 2026 menegaskan bahwa Maroko tidak ingin persoalan bilateral maupun isu migrasi berkembang menjadi sumber ketegangan permanen antara dua negara yang memiliki kedekatan geografis dan kepentingan strategis yang kuat.

banner 336x280

Pernyataan itu sekaligus menjadi respons Rabat terhadap tudingan mengenai keterlibatan Maroko dalam arus masuk massal ke Ceuta pada akhir Juli. Pemerintah Maroko menyatakan tidak terdapat bukti yang menunjukkan keterlibatan otoritasnya dalam peristiwa tersebut dan menolak menjadikan Maroko sebagai sasaran pertarungan politik domestik di Spanyol.

 

Fondasi Hubungan Dibangun Sejak 2022

Hubungan Maroko-Spanyol memasuki fase baru setelah Deklarasi Bersama 7 April 2022, menyusul pertemuan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez dengan Raja Mohammed VI. Kerangka tersebut kemudian menjadi landasan bagi peningkatan dialog politik dan kerja sama kedua negara.

Pemerintah Spanyol pada 2025 menyebut hubungan bilateral dengan Maroko berada dalam momentum yang sangat baik dan menegaskan kembali komitmen terhadap peta jalan yang disepakati pada 2022. Kedua negara juga terus memperluas kerja sama ekonomi, keamanan, migrasi, serta persiapan penyelenggaraan Piala Dunia 2030 bersama Portugal.

Secara ekonomi, kedekatan kedua negara tercermin dari besarnya volume perdagangan. Data yang dirujuk pemerintah Spanyol menunjukkan bahwa Spanyol merupakan mitra dagang utama Maroko, dengan nilai perdagangan bilateral mencapai sekitar €22,7 miliar pada 2025. Pada 2024, perdagangan kedua negara juga mencatat rekor sekitar €22,69 miliar.

Hubungan tersebut tidak hanya mencakup perdagangan barang. Perusahaan-perusahaan Spanyol memiliki kehadiran yang signifikan di Maroko, sementara kedua negara mengembangkan kerja sama di sektor infrastruktur, energi, transportasi, teknologi, pariwisata, dan berbagai proyek yang berkaitan dengan Piala Dunia 2030.

 

Migrasi Menjadi Titik Ujian

Namun, hubungan yang semakin erat itu tidak berarti bebas dari persoalan. Isu migrasi kembali menjadi salah satu titik paling sensitif setelah puluhan ribu orang memasuki Ceuta dari arah Maroko pada akhir Juli 2026.

Peristiwa tersebut menimbulkan konsekuensi kemanusiaan dan politik yang besar. Laporan Reuters menyebut lebih dari 70.000 orang memasuki Ceuta dalam gelombang tersebut, sementara organisasi masyarakat sipil dan pejabat setempat melaporkan lebih dari 100 orang meninggal. Ribuan migran kemudian masih berada di wilayah tersebut setelah sebagian besar lainnya meninggalkan Ceuta.

Rabat menolak tudingan bahwa pemerintah Maroko secara sengaja mengarahkan arus migrasi tersebut. Kementerian Luar Negeri Maroko juga mengkritik penggunaan isu Maroko dalam perdebatan politik domestik Spanyol dan menegaskan bahwa persoalan migrasi semestinya ditangani berdasarkan fakta serta mekanisme kerja sama yang telah tersedia.

Pada saat yang sama, persoalan tersebut menunjukkan betapa eratnya keterkaitan antara hubungan bilateral, keamanan perbatasan, mobilitas manusia, dan politik domestik di kedua negara.

 

Kepentingan Bersama di Bidang Keamanan

Di luar persoalan migrasi, Madrid dan Rabat memiliki kepentingan bersama dalam menghadapi terorisme dan kejahatan lintas negara.

Pemerintah Spanyol sebelumnya menyebut kerja sama keamanan dan migrasi dengan Maroko sebagai salah satu unsur penting dalam hubungan bilateral. Penurunan kedatangan tidak teratur ke pantai Spanyol pada 2024 juga dikaitkan dengan dinamika kerja sama kedua negara dalam pengelolaan migrasi.

Dengan posisi geografis yang berhadapan langsung di Selat Gibraltar dan kawasan Mediterania Barat, stabilitas hubungan Maroko-Spanyol memiliki konsekuensi yang melampaui kepentingan bilateral. Perubahan kebijakan di salah satu negara dapat berdampak pada migrasi, perdagangan, keamanan, serta hubungan Spanyol dengan kawasan Afrika Utara dan Uni Eropa.

 

Persisma Soroti Model Diplomasi Ketetanggaan

Perkembangan hubungan kedua negara tersebut mendapat perhatian dari Indonesia. Wilson Lalengke, Presiden Indonesia-Sahara-Morocco Brotherhood (Persisma), menyampaikan apresiasi terhadap upaya mempertahankan komunikasi antara Rabat dan Madrid di tengah berbagai persoalan.

Menurut Lalengke, hubungan Maroko-Spanyol menunjukkan bahwa perbedaan kepentingan antarnegara tidak selalu harus berkembang menjadi konflik terbuka apabila tersedia saluran dialog dan kepentingan bersama yang cukup kuat.

“Persisma merasa bangga dan bersyukur melihat bagaimana Kerajaan Maroko di bawah kepemimpinan King Mohammed VI mengedepankan kebijaksanaan, transparansi, dan ketegangan diplomatik yang elegan. Model kemitraan Maroko-Spanyol ini membuktikan bahwa perbedaan tidak harus berujung pada konflik, melainkan dapat diselesaikan melalui dialog yang jujur, saling menghormati, dan pragmatisme yang berorientasi pada kesejahteraan bersama,” ujar Wilson Lalengke dari Jakarta, Jumat, 11 September 2026.

Ia juga menilai penolakan Maroko untuk dijadikan instrumen dalam pertarungan politik domestik negara lain merupakan bagian dari upaya menjaga hubungan bilateral agar tidak terjebak dalam siklus saling menuduh.

Bagi Lalengke, tantangan tersebut relevan bagi negara-negara lain yang memiliki persoalan perbatasan, migrasi, dan kepentingan keamanan yang saling beririsan.

 

Dari Kant ke Realisme Etis

Dinamika tersebut juga dapat dibaca melalui perspektif pemikiran hubungan internasional. Dalam Toward Perpetual Peace (Zum ewigen Frieden) yang diterbitkan pada 1795, Immanuel Kant membahas prinsip hubungan antarnegara dan gagasan tentang perdamaian yang ditopang oleh hukum serta keteraturan internasional.

Salah satu konsep yang dikenal dalam karya tersebut adalah cosmopolitan right atau hak kosmopolitan, yang antara lain berkaitan dengan prinsip hospitality.

Gagasan tersebut tidak secara langsung merupakan teori mengenai hubungan Maroko dan Spanyol, tetapi dapat digunakan sebagai kerangka pemikiran untuk melihat pentingnya aturan dan tata hubungan yang memungkinkan negara-negara bertetangga mengelola perbedaan tanpa menjadikannya sebagai alasan permusuhan permanen.

Perspektif lain dapat ditemukan dalam pemikiran Reinhold Niebuhr mengenai Christian realism atau realisme etis. Dalam pendekatan tersebut, hubungan politik tidak hanya dipandang melalui kepentingan kekuasaan, tetapi juga melalui kebutuhan untuk mengakui keterbatasan, mengendalikan kepentingan diri, dan mencari kompromi yang memungkinkan terciptanya stabilitas.

Dalam konteks Maroko-Spanyol, pendekatan semacam itu dapat digunakan untuk membaca pentingnya dialog ketika kepentingan kedua negara tidak selalu bertepatan, terutama dalam persoalan migrasi, perbatasan, keamanan, dan isu Sahara.

 

Tantangan ke Depan

Hubungan Maroko dan Spanyol kini berada dalam posisi yang kompleks. Di satu sisi, kedua negara memiliki kepentingan ekonomi yang semakin terintegrasi dan kerja sama keamanan yang luas. Di sisi lain, persoalan migrasi, Ceuta, serta isu Sahara tetap menjadi bagian dari dinamika politik yang berpotensi memunculkan ketegangan.

Karena itu, keberlanjutan hubungan bilateral tidak hanya bergantung pada pernyataan politik, tetapi juga pada kemampuan kedua pemerintah mengelola perbedaan secara institusional, menjaga saluran komunikasi, melakukan verifikasi atas persoalan sensitif, dan mencegah isu bilateral digunakan untuk memperuncing konflik politik domestik.

Hubungan Maroko-Spanyol dengan demikian memperlihatkan dua wajah diplomasi ketetanggaan: adanya kepentingan bersama yang mendorong kerja sama, sekaligus persoalan sensitif yang membutuhkan pengelolaan terus-menerus.

Bagi kawasan Mediterania Barat, kemampuan Rabat dan Madrid mempertahankan dialog di tengah tekanan tersebut akan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas hubungan antara Eropa dan Afrika Utara.***

(Agit/ Agus Giantoro/ Redaksi)

banner 336x280