Cilegon,Inakor.id – Kisah Hidup Tb.Iman Ariyadi lahir di Cilegon pada 10 Juli 1974. Di kota baja itu ia melewati masa kecil, mengenal denyut hidup warga, dan perlahan mengerti bahwa kekuasaan bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab.
Di dalam rumahnya ia tidak asing dengan politik. Ayahnya, almarhum Tubagus Aat Syafa’at, memimpin Cilegon dua periode, 2000–2010.
Dari sang ayah, ia melihat kepemimpinan dibangun lewat hubungan dengan masyarakat, ulama, tokoh lokal, dan beragam kepentingan. Itulah sekolah pertamanya. Namun ia tahu, nama keluarga hanyalah titik berangkat. Selebihnya, jalan harus ditempuh sendiri.
Ia memilih pendidikan untuk melebarkan cakrawala. Selepas SD Negeri II Cilegon, ia belajar di Pesantren Daar El-Qalam, Balaraja, tempat disiplin, agama, dan hidup bersama ditanamkan.
Tahun 1993 ia berangkat ke Bandung untuk mendalami Komunikasi Penyiaran Islam di IAIN Sunan Gunung Djati. Di sana ia berkenalan dengan dunia pergerakan lewat Himpunan Mahasiswa Islam, hingga dipercaya memimpin Badko HMI Jawa Barat. Disamping, Ia juga aktif dan pernah terpilih jadi ketua KNPI Banten.
Rasa ingin tahunya tak pernah selesai. Pada 2001 ia menempuh Magister Manajemen di Universitas Trisakti, lalu menekuni ilmu politik di Universitas Indonesia: magister dengan predikat cum laude pada 2009.
Kesinambungan jalur akademiknya mencapai puncak tatkala ia menyelesaikan Program Doktor (S3) Ilmu Politik di fakultas yang sama pada Desember 2014. Dengan disertasinya yang berjudul “Peran Kiai Dalam Pemilihan Gubernur Propinsi Banten Tahun 2011.” Upayanya memahami bagaimana agama, kepemimpinan, dan kekuatan sosial saling memengaruhi.
Pengabdiannya bergerak dari ruang kelas ke gedung parlemen. Ia mengajar di STAIN Serang, duduk di DPRD Provinsi Banten pada 2004, lalu di DPR RI Komisi II pada 2009.
Tetapi panggilan kota sendiri menariknya pulang. Pada 2010, Tb Iman Ariyadi terpilih menjadi Wali Kota Cilegon bersama Edi Ariadi dengan 77,37 persen suara. Infrastruktur, penguatan Jalan Lingkar Selatan, dan kapasitas ekonomi daerah menjadi agenda utama.
Di periode kedua, ia menaruh perhatian pada Pelabuhan Warnasari melalui PT Pelabuhan Cilegon Mandiri. Baginya, pelabuhan daerah adalah jalan bagi Cilegon untuk mandiri secara fiskal dan kokoh sebagai kota industri.
Namun hidup tak selalu mengikuti rencana. Pada September 2017, Tb Iman Ariyadi dinyatakan bersalah dalam sebuah perkara hukum. Itulah babak paling berat dalam hidupnya. Di sana ia dipaksa menimbang ulang kekuasaan, pilihan, tanggung jawab, dan arti pengabdian. Ia belajar bahwa perjalanan manusia tidak pernah hanya berisi keberhasilan.
Kini ia kembali mengabdi lewat organisasi, sebagai Ketua Harian Depinas SOKSI periode 2025–2030 dan bagian dari DPP Partai Golkar.
Tb Iman Ariyadi tak ingin dikenang sebatas jabatan yang pernah diduduki atau peristiwa yang pernah menimpanya. Di bawah langit baja Cilegon, ia belajar bahwa hidup bukan soal seberapa tinggi ia pernah berdiri, melainkan seberapa tabah ia merangkul luka.
Dengan langkah tenang dan kepala tetap tegak, ia kembali mengabdi. Sebab kemuliaan sejati bukan pada singgasana yang runtuh, melainkan jiwa elegan yang tak pernah lelah merawat sesama.
Dan, bumi Cilegon pun tersenyum memeluk anaknya yang kembali pulang.
( Tim/RED )



Tinggalkan Balasan