Bandung, inakor.id – Pemerintah Kota Bandung menegaskan bahwa pemberantasan penyalahgunaan narkotika tidak dapat dibebankan hanya kepada aparat penegak hukum maupun Badan Narkotika Nasional (BNN). Diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, organisasi kemasyarakatan hingga lingkungan sekitar untuk menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkoba.
Hal tersebut disampaikan Pengelola Bidang Kewaspadaan Nasional Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bandung, Tatang Hamdani, saat ditemui usai kegiatan Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026 yang digelar di Halaman Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Tatang, peringatan HANI bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum untuk kembali mengingatkan masyarakat akan bahaya penyalahgunaan narkotika yang dapat merusak masa depan generasi bangsa.
“Melalui peringatan Hari Anti Narkotika Internasional ini kami ingin mengajak seluruh masyarakat agar bersama-sama meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman narkoba. Persoalan ini tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah atau BNN saja, tetapi membutuhkan kepedulian dan keterlibatan semua pihak,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data BNN hingga pembaruan tahun 2023, Kota Bandung masih menjadi salah satu daerah dengan angka prevalensi penyalahgunaan narkoba yang cukup tinggi di Indonesia. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bandung untuk terus memperkuat langkah-langkah pencegahan.
Tatang menjelaskan, Pemerintah Kota Bandung bersama BNN, Forkopimda, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, serta berbagai pemangku kepentingan terus memperkuat sinergi dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika melalui edukasi dan pembinaan kepada masyarakat.
Ia juga menyambut baik gagasan Wali Kota Bandung yang mendorong adanya penguatan komitmen antara orang tua, sekolah, dan peserta didik sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam melindungi anak-anak dari pengaruh narkoba.
Menurutnya, keluarga merupakan benteng pertama dalam mencegah penyalahgunaan narkotika. Karena itu, peran orang tua harus diperkuat melalui berbagai program pembinaan keluarga yang melibatkan Posyandu, kader masyarakat, organisasi kemasyarakatan hingga tokoh agama.
“Penguatan ketahanan keluarga menjadi sangat penting. Orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam mendidik dan mengawasi anak-anaknya. Pemerintah hanya membantu melalui berbagai program edukasi agar keluarga mampu menjadi pelindung pertama dari ancaman narkoba,” jelasnya.
Selain keluarga, Tatang menilai sekolah juga memiliki peran strategis. Namun ia mengakui para guru sering kali mengalami kesulitan ketika menemukan indikasi penyalahgunaan narkoba pada peserta didik karena minimnya pemahaman mengenai penanganan awal.
Oleh sebab itu, Kesbangpol berencana mendorong program pelatihan bagi guru Bimbingan Konseling (BK), wali kelas, serta wakil kepala sekolah bidang kesiswaan agar memiliki kemampuan mengenali gejala awal penyalahgunaan narkoba dan memahami langkah penanganannya secara tepat.
“Guru perlu dibekali pengetahuan sehingga ketika menemukan siswa yang terindikasi terpapar narkoba, mereka tahu langkah apa yang harus dilakukan dan ke mana harus berkoordinasi,” katanya.
Tatang juga mengingatkan bahwa modus peredaran narkoba kini semakin beragam dan sulit dikenali. Tidak hanya berbentuk obat-obatan atau serbuk, tetapi telah dikemas menyerupai makanan ringan, permen, rokok elektrik (vape), minuman, hingga berbagai produk yang menyasar kalangan pelajar.
“Kita harus semakin waspada karena jenis narkoba sekarang sudah sangat banyak, bahkan lebih dari 200 jenis. Modus peredarannya juga terus berkembang sehingga masyarakat harus lebih teliti terhadap berbagai produk yang beredar, terutama di sekitar lingkungan sekolah,” ungkapnya.
Menurutnya, para pelaku peredaran narkoba terus mencari keuntungan dengan berbagai cara karena bisnis tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Oleh karena itu, selain penindakan terhadap bandar narkoba, upaya pencegahan melalui pendidikan dan penguatan karakter masyarakat harus terus ditingkatkan.
Ia menambahkan, penguatan nilai-nilai agama dan karakter menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan generasi muda menghadapi berbagai pengaruh negatif, termasuk penyalahgunaan narkoba.
“Kalau pondasi moral dan agama anak-anak kuat, mereka akan memiliki benteng untuk menolak ajakan yang mengarah pada penyalahgunaan narkoba maupun perilaku menyimpang lainnya,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Tatang mengajak masyarakat untuk tidak bersikap acuh terhadap berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar. Kepedulian warga dinilai menjadi kunci dalam mendeteksi sejak dini berbagai bentuk penyalahgunaan narkoba maupun tindak kejahatan lainnya.
“Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa bahaya narkoba ada di sekitar kita. Mari saling peduli, saling mengingatkan, dan bersama-sama melindungi generasi muda agar terhindar dari penyalahgunaan narkotika demi masa depan Kota Bandung yang lebih baik,” pungkasnya.***
(Wawat S)



Tinggalkan Balasan