Pangandaran, inakor.id – Setelah lebih dari setahun diterapkan, Program Pendidikan Karakter Melesat di Kabupaten Pangandaran dinilai perlu dievaluasi secara menyeluruh. Evaluasi tidak cukup hanya melihat terlaksananya berbagai kegiatan di sekolah, tetapi harus menyentuh perubahan sikap dan perilaku peserta didik.
Anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Pangandaran, Jenal Abidin, mengatakan program pendidikan karakter harus mampu menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan siswa.
“Setelah program berjalan lebih dari satu tahun, yang perlu dilihat bukan hanya kegiatannya terlaksana atau tidak. Kita harus melihat apakah ada perubahan perilaku pada peserta didik,” ujar Jenal, Jum’at (4/9/2026).
Program Pendidikan Karakter Melesat sendiri mulai diterapkan Pemerintah Kabupaten Pangandaran sejak Juni 2025. Program tersebut diisi dengan berbagai aktivitas pembiasaan, antara lain salat berjamaah, pembelajaran tata cara salat dan baca tulis Al-Qur’an, doa atau surat pendek sebelum pembelajaran, kegiatan kebangsaan, kerja bakti serta makan bersama.
Jenal mengapresiasi pelaksanaan berbagai kegiatan tersebut. Namun, menurutnya, pembiasaan harus diarahkan pada pembentukan karakter yang lebih substantif.
Ia menyebut kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, kemandirian dan kesadaran moral harus menjadi hasil yang ingin dicapai.
“Misalnya salat berjamaah. Jangan hanya dihitung berapa siswa yang hadir, tetapi apakah kebiasaan itu kemudian melahirkan kedisiplinan dan rasa tanggung jawab dalam diri anak,” katanya.
Hal serupa berlaku pada kegiatan kerja bakti. Menurut Jenal, kegiatan tersebut idealnya tidak berhenti ketika lingkungan sekolah selesai dibersihkan. Nilai yang ingin ditanamkan adalah tumbuhnya kesadaran siswa untuk menjaga kebersihan dan peduli terhadap lingkungan dalam kesehariannya.
Perlu Disinergikan dengan Kebijakan yang Sudah Ada
Jenal juga mengingatkan bahwa Melesat sebaiknya tidak berjalan sebagai program yang terpisah dari kebijakan pendidikan karakter yang sebelumnya telah dimiliki Pangandaran.
Kabupaten Pangandaran telah memiliki landasan kebijakan pendidikan karakter melalui Peraturan Bupati Pangandaran Nomor 58 Tahun 2017 yang kemudian diperbarui melalui Peraturan Bupati Nomor 54 Tahun 2019.
Di dalamnya telah terdapat sejumlah nilai yang berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik, seperti religiusitas, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kreativitas, kemandirian, semangat kebangsaan, cinta tanah air, kepedulian sosial dan lingkungan serta tanggung jawab. Pendidikan antikorupsi juga menjadi bagian di dalamnya.
Karena itu, Jenal berpandangan Melesat akan lebih kuat jika diarahkan sebagai penguatan terhadap kebijakan yang telah berjalan.
“Jangan sampai Melesat berjalan sendiri. Justru program ini bisa menjadi momentum untuk menghidupkan kembali, memperkuat sekaligus mempercepat pendidikan karakter yang sudah dimiliki Pangandaran,” ujarnya.
Aktivitas Harus Berujung pada Perubahan
Persoalan lain yang perlu diperkuat adalah sistem evaluasi. Jenal mendorong pemerintah daerah memiliki ukuran yang jelas untuk mengetahui tingkat keberhasilan program.
Menurutnya, ada perbedaan antara sekadar melaksanakan kegiatan dengan berhasil membangun karakter. Karena itu, evaluasi dapat dilakukan secara bertahap mulai dari melihat aktivitas, perubahan perilaku hingga dampak yang dihasilkan.
Dengan pola tersebut, setiap kegiatan memiliki sasaran karakter yang jelas.
Pembelajaran Al-Qur’an, misalnya, tidak hanya diarahkan agar siswa mampu membaca, tetapi juga memahami dan menerapkan nilai akhlak. Kegiatan kebangsaan tidak berhenti pada seremoni, melainkan dapat diarahkan pada pembentukan sikap toleran dan kecintaan terhadap Indonesia.
Sementara itu, nilai antikorupsi dapat ditanamkan melalui pembiasaan sederhana seperti berkata jujur, bertanggung jawab dan memiliki integritas.
Karakter Anak di Tengah Tantangan Digital
Menurut Jenal, arah pendidikan karakter juga perlu disesuaikan dengan kondisi generasi saat ini.
Perkembangan teknologi telah membawa tantangan baru bagi anak-anak. Media sosial, video pendek, game online, kecerdasan buatan, budaya konsumtif, penyebaran informasi palsu dan perundungan di dunia maya menjadi bagian dari lingkungan yang harus dihadapi peserta didik.
Karena itu, karakter yang dibangun tidak cukup hanya berkaitan dengan aspek religius dan nasionalisme.
Anak juga perlu memiliki kemampuan memilah informasi, berpikir kritis, mengendalikan diri, memahami etika digital, menghindari perundungan serta memiliki kesadaran terhadap dampak penggunaan teknologi.
Keluarga Jangan Ditinggalkan
Jenal menilai keberhasilan pendidikan karakter juga sangat bergantung pada keterlibatan keluarga.
Sekolah, kata dia, tidak mungkin membentuk karakter anak seorang diri. Nilai yang ditanamkan di sekolah harus mendapatkan penguatan di rumah dan lingkungan masyarakat.
Salah satu bentuk yang dapat dikembangkan adalah program parenting yang menjadi bagian dari gerakan Melesat. Orang tua dapat diberikan pembekalan mengenai pendampingan anak dalam menggunakan gawai, membangun kebiasaan membaca, penguatan ibadah di rumah, komunikasi antara orang tua dan anak, pencegahan bullying hingga literasi digital.
Sementara di lingkungan masyarakat, pendidikan karakter dapat diperkuat melalui kerja sama dengan madrasah diniyah, pesantren, organisasi keagamaan dan kepemudaan, tokoh masyarakat, komunitas, dunia usaha maupun pemerintah desa.
“Anak menghabiskan waktu bukan hanya di sekolah. Karena itu, pembentukan karakternya juga harus mendapatkan dukungan dari rumah dan lingkungan tempat mereka tumbuh,” tutur Jenal.
Melesat 2.0 Jadi Gagasan Penguatan
Sebagai langkah lanjutan, Jenal mengusulkan agar program tersebut dikembangkan menuju konsep Melesat 2.0, dengan orientasi dari sekadar pembiasaan menuju terbentuknya budaya karakter.
Ia menawarkan tujuh fokus karakter yang dapat menjadi pijakan, yakni religius; jujur dan berintegritas; disiplin dan bertanggung jawab; mandiri dan pekerja keras; nasionalis dan toleran; peduli sosial dan lingkungan; serta cakap digital dan mampu berpikir kritis.
Nilai-nilai tersebut kemudian diterapkan melalui berbagai pendekatan, mulai dari budaya sekolah, proses pembelajaran, keteladanan guru, pembinaan keluarga, keterlibatan masyarakat hingga evaluasi karakter siswa.
“Ukuran keberhasilan Melesat bukan sekadar semua sekolah mempunyai kegiatan karakter. Yang lebih penting adalah ketika kita mulai melihat anak-anak Pangandaran mengalami perubahan dalam sikap dan perilakunya,” jelasnya.
Jenal berharap penguatan program pendidikan karakter dapat menghasilkan generasi Pangandaran yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, integritas, kemandirian, rasa tanggung jawab, kemampuan menghargai perbedaan, kepedulian terhadap lingkungan serta kecakapan menghadapi perkembangan teknologi.
Menurutnya, pendidikan karakter yang konsisten merupakan investasi penting untuk mempersiapkan generasi Pangandaran menghadapi perubahan dan tantangan di masa mendatang.***
(Agit/ Agus Giantoro)



Tinggalkan Balasan