Pangandaran, inakor.id – Pemerintah Desa Cikalong, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, angkat bicara mengenai polemik rencana pembangunan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pangandaran. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul munculnya kritik dan penolakan terhadap rencana pendirian kampus melalui media sosial.
Kepala Desa Cikalong, Ruspandi, menyayangkan adanya anggapan bahwa rencana pendirian IAIN tidak didasarkan pada kajian yang matang. Ia menilai pandangan tersebut perlu diluruskan agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh mengenai proses yang telah ditempuh.
Ruspandi mengatakan, proses menuju rencana pendirian IAIN tidak berlangsung singkat. Kajian telah dilakukan selama kurang lebih lima tahun dan melibatkan tenaga ahli dari Kementerian Agama.
Ia menegaskan, terbitnya keputusan dari Kementerian Agama menjadi bagian dari rangkaian proses yang telah dilalui sebelum rencana tersebut dilanjutkan ke tahap berikutnya.
“Prosesnya tidak sebentar, sekitar lima tahun. Kajian dilakukan oleh para ahli dari Kementerian Agama, sehingga bukan sesuatu yang dibuat secara sembarangan. Dengan terbitnya SK dari Kemenag, berarti tahapan yang diperlukan sudah melalui proses pengkajian,” kata Ruspandi melalui WhatsApp, Minggu (16/8/2026).
Menurutnya, dukungan terhadap rencana pembangunan kampus juga telah diwujudkan melalui proses penyediaan lahan. Tahapan tersebut, kata dia, membutuhkan komunikasi panjang dengan masyarakat karena lahan yang dipersiapkan berkaitan dengan tanah garapan warga.
Ruspandi menyebut sekitar 750 penggarap telah didekati dan diajak berdiskusi agar bersedia menyerahkan tanah garapannya secara sukarela. Langkah itu dilakukan dengan harapan pembangunan kampus dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.
Ia menilai keberadaan IAIN akan membuka peluang lebih luas bagi masyarakat Pangandaran untuk memperoleh pendidikan tinggi tanpa harus selalu pergi ke luar daerah. Ribuan lulusan sekolah menengah setiap tahun dinilai membutuhkan pilihan perguruan tinggi yang dapat dijangkau secara lebih dekat.
Selain meningkatkan akses pendidikan, Ruspandi melihat kampus berbasis keagamaan tersebut memiliki peran strategis bagi Pangandaran yang terus berkembang sebagai daerah pariwisata.
Menurut dia, pertumbuhan pariwisata membawa konsekuensi berupa semakin terbukanya interaksi masyarakat dengan berbagai budaya dari luar. Dalam kondisi tersebut, pendidikan agama dinilai dapat menjadi salah satu unsur penting dalam memperkuat nilai moral dan karakter generasi muda.
Karena itu, Ruspandi berharap perbedaan pandangan mengenai rencana IAIN tidak berkembang menjadi polemik berkepanjangan. Ia mengajak pihak-pihak yang memiliki kritik untuk melihat seluruh proses secara objektif dan mengedepankan dialog.
“Harapannya, persoalan ini bisa dibicarakan dengan baik. Jangan sampai perbedaan pendapat justru menghilangkan peluang besar di bidang pendidikan yang manfaatnya bisa dirasakan masyarakat Pangandaran,” ujarnya.***
(Agit/ Agus Giantoro)



Tinggalkan Balasan