Pangandaran, inakor.id – Desa Cikalong, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, tidak hanya menyimpan sejarah dan tradisi adat. Masyarakat setempat juga memiliki warisan berupa alat tradisional yang digunakan untuk menangkap belalang, yakni tampaling.
Kepala Desa Cikalong Ruspandi mengatakan, tampaling merupakan salah satu peralatan tradisional yang masih dikenal dan dibuat oleh masyarakat setempat.
Hal tersebut disampaikannya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (29/9/2026).
Menurut Ruspandi, tampaling diperkirakan telah dikenal sejak sekitar tahun 1800-an, ketika kehidupan pertanian dan persawahan mulai berkembang. Namun, ia mengaku belum memiliki data tertulis yang memastikan siapa orang pertama yang menciptakan alat tersebut.
“Katanya tahun 1800-an. Bersamaan dengan peradaban sudah tumbuh dan sawah sudah tercipta. Namanya tampaling,” ujar Ruspandi.

Tampaling dibuat menggunakan bambu pilihan, salah satunya bambu tali. Proses pembuatannya membutuhkan keterampilan khusus agar alat tersebut kuat dan dapat digunakan dalam waktu lama.
Menurut Ruspandi, tampaling tidak sekadar memiliki fungsi praktis untuk menangkap belalang. Bentuk dan bagian-bagian alat tersebut juga memiliki filosofi yang berkaitan dengan kehidupan manusia.
Di dalam filosofi tampaling terdapat gambaran mengenai hubungan manusia dengan sesama serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
“Manusia itu jangan lepas dari hubungan manusia dengan hubungan Sang Pencipta,” katanya.
Masih Ada Pengrajin
Keberadaan tampaling hingga saat ini masih dipertahankan oleh sejumlah pengrajin di Cikalong.
Ruspandi menyebut beberapa nama yang masih dikenal sebagai pembuat tampaling, di antaranya Aki Karsa, Aki Karmin dan Aki Utung.
Pembuatan tampaling tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Bambu harus dipilih dengan kualitas tertentu dan melalui proses pengerjaan agar menghasilkan alat yang kuat.
Karena dibuat dari bahan yang relatif awet dan dapat bertahan lama apabila disimpan dengan baik, tampaling tidak cepat rusak.
Ruspandi berharap keberadaan tampaling tidak hanya dipandang sebagai alat tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya Cikalong.
Masyarakat dengan Latar Budaya Beragam
Saat ini, Desa Cikalong memiliki sekitar 3.500 penduduk dengan sekitar 2.600 pemilih.
Ruspandi mengatakan, masyarakat Cikalong memiliki latar belakang budaya dan bahasa yang beragam.
Mayoritas masyarakat menggunakan bahasa Sunda. Namun, terdapat pula pengaruh budaya dan bahasa Jawa dari sejumlah daerah, seperti Banyumas, Kebumen, Yogyakarta dan Cirebon, serta pengaruh Sunda Banten.
Keragaman tersebut terbentuk melalui perjalanan masyarakat dari generasi ke generasi.
Menurut Ruspandi, keberagaman tersebut hidup berdampingan dengan tradisi lokal yang tetap dipertahankan.
“Tradisi gotong royongnya masih kuat. Hukum adat juga masih dijalankan. Itu yang menjadi kekuatan masyarakat Cikalong,” ujarnya.
Bagi masyarakat Cikalong, tampaling, tradisi adat, penanggalan tradisional, gotong royong dan berbagai cerita sejarah merupakan bagian dari warisan yang tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi juga identitas masyarakat yang masih hidup hingga sekarang.***
(Agit/ Agus Giantoro)



Tinggalkan Balasan