Pangandaran, inakor.id – Di tengah rimbunnya kawasan hutan di Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, masih berdiri kokoh sebuah peninggalan bersejarah yang menjadi saksi perkembangan transportasi kereta api di wilayah selatan Jawa Barat. Bangunan tersebut adalah Jembatan Cikacepit, jembatan kereta api peninggalan era Hindia Belanda yang dahulu menjadi bagian penting dari jalur Banjar-Cijulang.
Warga Kalipucang, Muhammad Fuad Darin, mengatakan Jembatan Cikacepit dan Terowongan Cikacepit merupakan salah satu warisan Infrastruktur kolonial yang hingga kini masih menyimpan nilai sejarah tinggi.
“Di Pulau Jawa banyak peninggalan era kolonial Belanda. Salah satunya Jembatan dan Terowongan Cikacepit di Pangandaran. Suasana di sini sangat sejuk dan asri, tetapi aura sejarah dan nuansa mistisnya masih sangat terasa,” ujar Fuad saat mengunjungi lokasi tersebut, Jumat (5/6/2026).
Untuk mencapai jembatan, pengunjung harus berjalan kaki melewati Terowongan Hendrick yang lebih dikenal masyarakat sebagai Terowongan Cikacepit. Terowongan sepanjang sekitar 105 meter itu membelah bukit dan menjadi akses utama menuju lokasi jembatan.
Menurut Fuad, suasana di dalam terowongan memberikan pengalaman tersendiri bagi para pengunjung yang ingin melihat langsung jejak perkeretaapian masa lalu.
“Ketika melewati terowongan ini, seolah-olah kita sedang memasuki lorong waktu yang membawa kita kembali ke masa puluhan tahun lalu,” katanya.
Setelah keluar dari terowongan, pengunjung akan disuguhi pemandangan rangka baja Jembatan Cikacepit yang membentang di atas lembah. Meski sudah tidak difungsikan sebagai jalur kereta api, konstruksi jembatan tersebut masih tampak kokoh.
Fuad menjelaskan, keberadaan Jembatan Cikacepit tidak dapat dilepaskan dari sejarah pembangunan jalur kereta api Banjar-Cijulang pada awal abad ke-20. Jalur sepanjang sekitar 82 kilometer itu dibangun Pemerintah Hindia Belanda untuk menunjang distribusi hasil perkebunan dan kehutanan dari wilayah Priangan Timur.
“Jalur ini dibangun untuk mengangkut berbagai hasil bumi seperti kopra, karet, dan hasil hutan menuju pusat perdagangan. Kehadirannya menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat pada masa itu,” ujarnya.
Pembangunan jalur kereta api tersebut menghadapi tantangan geografis yang cukup berat. Medan berupa perbukitan, jurang, dan kawasan hutan memaksa para insinyur Belanda serta pekerja lokal membangun sejumlah infrastruktur penunjang, termasuk Jembatan Cikacepit. Jembatan tersebut memiliki panjang sekitar 290 meter dengan ketinggian kurang lebih 38 meter dari permukaan tanah.
“Pada masanya, Jembatan Cikacepit menjadi salah satu jembatan kereta api terpanjang di Indonesia. Tanpa alat berat modern, mereka mampu membangun struktur baja yang menghubungkan dua bukit yang dipisahkan jurang,” kata Fuad.
Ia menambahkan, jalur kereta api Banjar-Cijulang tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi barang, tetapi juga memperlancar mobilitas masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah selatan Jawa Barat.
“Jembatan ini bukan hanya penghubung rel kereta api. Kehadirannya dulu menghidupkan ekonomi masyarakat, mempermudah perjalanan, dan menjadi simbol kemajuan wilayah selatan Jawa Barat,” tuturnya.
Namun, perkembangan transportasi jalan raya pada dekade 1980-an membuat penggunaan kereta api di jalur tersebut terus menurun. Operasional jalur Banjar-Cijulang akhirnya resmi dihentikan pada 1 Februari 1982.
Sejak saat itu, aktivitas kereta api berhenti dan Jembatan Cikacepit berubah menjadi bangunan bersejarah yang menyimpan kenangan masa kejayaan perkeretaapian di Pangandaran.
“Ketika jalur ini ditutup, seolah detak jantung Jembatan Cikacepit ikut berhenti. Namun hingga hari ini bangunan tersebut masih berdiri kokoh sebagai pengingat bahwa wilayah ini pernah memiliki salah satu jalur kereta api paling bersejarah di Indonesia,” ucap Fuad.
Saat ini, Jembatan dan Terowongan Cikacepit menjadi salah satu tujuan yang kerap dikunjungi pecinta sejarah, fotografer, maupun penjelajah alam. Perpaduan antara peninggalan kolonial dan panorama alam yang masih terjaga menjadikan kawasan tersebut memiliki daya tarik tersendiri.
Selain menawarkan keindahan visual, keberadaan Jembatan Cikacepit juga menjadi pengingat pentingnya menjaga dan melestarikan warisan sejarah agar tetap dapat dikenal oleh generasi mendatang.**
(Agit/ Agus Giantoro)



Tinggalkan Balasan