Pangandaran, inakor.id – Masyarakat Basisir Pangandaran tahun ini tidak melaksanakan prosesi larung dalam tradisi Hajat Laut di Pantai Barat, Pangandaran. Keputusan tersebut diambil berdasarkan kesepakatan tokoh dan sesepuh adat karena pelaksanaannya tidak bertepatan dengan Jumat Kliwon di bulan Muharam yang selama ini menjadi pakem tradisi.
Tokoh Adat Pangandaran, Yana Macan, mengatakan masyarakat tetap menggelar doa bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, meski tanpa prosesi larung.
“Rasa syukur tetap kami lakukan melalui doa bersama. Hanya larungnya yang tidak dilaksanakan karena tidak sesuai pakem yang diwariskan para leluhur,” kata Yana saat ditemui di Lembur Kuring, Babakan, Pangandaran, Rabu (3/6/2026).
Sementara itu, Sesepuh Adat Pangandaran, Edi Rusmiadi, menjelaskan bahwa ketentuan waktu pelaksanaan Hajat Laut merupakan bagian penting dari tradisi yang selama ini dijaga masyarakat.
Menurut Edi, tradisi Hajat Laut yang dilaksanakannya sejak 2011 berupaya mempertahankan tata cara yang diwariskan para pendahulu, termasuk pelaksanaan pada Jumat Kliwon bulan Muharam.
“Saya hanya melanjutkan tradisi yang sudah ada. Karena ini menyangkut pakem adat, saya tidak bisa menggeser atau mengubah waktunya,” ujarnya.
Ia menambahkan, Hajat Laut bukan hanya milik nelayan, melainkan bentuk rasa syukur seluruh masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari keberadaan laut dan kawasan pantai Pangandaran.
Meski tahun ini larung tidak digelar, para tokoh adat menegaskan tradisi Hajat Laut tetap dijaga dan dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya Masyarakat Basisir Pangandaran.**
(Agit/ Agus Giantoro)



Tinggalkan Balasan