Pangandaran, inakor.id – Program Studi S1 Keperawatan PSDKU Universitas Padjadjaran Kampus Pangandaran kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran berbasis praktik nyata. Melalui kegiatan Simulasi Bencana Tanah Longsor bertajuk “SLIDEOUT” (Landslide and Get Out), mahasiswa diajak langsung untuk mengalami pengalaman lapangan dalam penanganan kebencanaan di depan kampus Unpad Pangandaran, Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Rabu (01/9/2025).

Kegiatan yang menjadi bagian dari metode Project Based Learning pada Mata Kuliah Keperawatan Bencana ini diselenggarakan dengan bimbingan penuh dari Departemen Keperawatan Gawat Darurat dan Kritis Fakultas Keperawatan Unpad. Simulasi digelar dengan menghadirkan skenario bencana sedekat mungkin dengan kondisi sebenarnya, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga dapat menguji kemampuan praktis mereka secara langsung.

banner 336x280

Dalam simulasi tersebut, 43 mahasiswa angkatan 2022 berperan sebagai pelaksana utama, didukung 39 mahasiswa dari angkatan 2023 hingga 2025 yang bertugas sebagai talent atau pemeran korban. Skenario yang ditampilkan meliputi rangkaian evakuasi warga, proses triase, hingga tindakan medis darurat di lapangan.

Selain menguji keterampilan teknis seperti keperawatan gawat darurat, kegiatan ini juga melatih aspek non-teknis mahasiswa, yakni komunikasi, koordinasi tim, hingga kepemimpinan dalam situasi krisis. Semua keterampilan itu dinilai sangat penting karena menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi bencana di dunia nyata.

Kegiatan “SLIDEOUT” mendapatkan dukungan luas dari civitas akademika dan mitra eksternal. Hadir jajaran dosen Fakultas Keperawatan Unpad, Ketua Program Studi S1 Keperawatan Kampus Pangandaran yang sekaligus mewakili Direktur PSDKU Unpad Kampus Pangandaran, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta mitra dari pemerintah daerah dan aparat keamanan.

Dari unsur pemerintah hadir Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran yang diwakili Kabid Darlog Yatno, serta Kasat Samapta Polres Pangandaran Jatnika bersama sejumlah anggota. Kehadiran media cetak dan elektronik turut memeriahkan acara, sekaligus memperluas jangkauan pesan edukasi kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat.

Prof. Cecep Eli Kosasih, S.Kp., MNS., Ph.D., selaku Koordinator Mata Kuliah Keperawatan Bencana, menegaskan pentingnya kegiatan ini bagi mahasiswa. Menurutnya, kesiapan menghadapi bencana tidak bisa hanya dipelajari melalui teori di ruang kelas.

“Situasi bencana menuntut kecepatan, ketepatan, dan koordinasi. Semua itu hanya bisa dilatih melalui pengalaman langsung di lapangan. Harapannya, mahasiswa mampu mengasah keterampilan teknis maupun kemampuan bekerja sama dalam situasi kritis,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa simulasi kebencanaan semacam ini tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar terhadap potensi bencana, terutama di wilayah rawan longsor seperti Pangandaran.

Pengalaman langsung juga dirasakan para mahasiswa yang terlibat. Salah satunya, Dewi Nurhaliza, mahasiswa angkatan 2022, mengaku simulasi ini memberikan tantangan baru yang berbeda dengan praktik di kelas.

“Awalnya tegang sekali karena harus cepat mengambil keputusan saat melakukan triase korban. Tapi justru dari situ saya merasa terbentuk kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi dengan tim,” ungkap Dewi.

Hal serupa disampaikan Rizki Ramadhan, mahasiswa angkatan 2023 yang berperan sebagai talent korban. Ia menilai pengalaman ini membuka wawasan tentang pentingnya kesiapan mental. “Sebagai korban simulasi, saya bisa merasakan bagaimana panik dan takutnya orang saat bencana. Itu membuat saya semakin paham bahwa tenaga kesehatan tidak hanya harus sigap, tapi juga mampu menenangkan pasien,” katanya.

Apresiasi datang dari Kabid Darlog BPBD Kabupaten Pangandaran, Yatno, yang menilai kegiatan ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam membangun budaya sadar bencana.

“Universitas Padjadjaran telah konsisten menggelar kegiatan simulasi kebencanaan yang sangat membantu misi BPBD. Edukasi seperti ini penting untuk memperkuat ketangguhan masyarakat. Kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan aparat keamanan tentu akan semakin memperkuat kesiapsiagaan kita bersama,” ungkapnya.

Pihak penyelenggara mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung suksesnya kegiatan ini—mulai dari jajaran dosen dan tenaga kependidikan, mahasiswa yang terlibat aktif, Departemen Keperawatan Gawat Darurat dan Kritis FKep Unpad yang memberikan pendampingan, hingga BPBD dan Polres Pangandaran yang memberikan dukungan lapangan. Ucapan apresiasi juga ditujukan kepada media yang membantu menyebarkan pesan penting mengenai kesiapsiagaan bencana kepada publik.

Melalui “SLIDEOUT”, Fakultas Keperawatan Unpad tidak hanya memperkuat kompetensi mahasiswa di bidang keperawatan bencana, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Kegiatan ini selaras dengan visi fakultas untuk menghadirkan pendidikan keperawatan yang unggul, berorientasi pada kemanusiaan, serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 3 (Good Health and Well-being) dan 11 (Sustainable Cities and Communities).

Dengan adanya simulasi ini, diharapkan mahasiswa mampu menjadi tenaga kesehatan yang sigap, tangguh, dan peka terhadap kondisi darurat. Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa perguruan tinggi dapat mengambil peran strategis dalam membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi ancaman bencana.**

 

(Agit Warganet)

banner 336x280