Pangandaran, inakor.id – Penolakan terhadap keberadaan Keramba Jaring Apung (KJA) di kawasan Pantai Timur, Pangandaran kembali ditegaskan oleh Forum Pelaku Usaha Wisata dan Nelayan.
Sekretaris Forum Komunikasi Para Pelaku Wisata Pangandaran (FKP2WP) Iwan Sofa menilai, KJA bersifat permanen, memakan ruang laut yang luas, dan mengganggu aktivitas wisata bahari serta jalur perahu nelayan.
“KJA itu permanen, nge-plot di situ dan tidak bisa dipindah. Ini jelas mengganggu water sport, jalur perahu nelayan, hingga jet ski. Laut jadi tidak bisa dilalui, sangat merugikan,” katanya kepada inakor.id, di Mina Family, Kampung Turis, Pangandaran, Sabtu (23/8/2025)
Ia menegaskan, forum tetap solid dan tidak akan mundur dari komitmen menolak KJA di kawasan Pantai Timur.
“Kami satu langkah, satu misi, satu komitmen menjaga Pantai Timur. Saya minta teman-teman tetap kondusif, menahan emosi, tapi jangan pernah berhenti bersuara. Kalau ada satu langkah pergerakan untuk memaksakan KJA, kami akan lawan dengan sepuluh langkah,” tandas Iwan Sofa
Iwan Sofa juga menegaskan, deklarasi penolakan KJA yang sebelumnya dilakukan di Lapangan Susi International Beach Strip, Pamugaran, Pangandaran, Rabu, (13/8) lalu, menurutnya, deklarasi itu murni inisiatif para pelaku usaha wisata, bukan dorongan pihak luar.
“Itu inisiatif kami, bukan Bu Susi, bukan HNSI, bukan PHRI. Kami hanya meminta dukungan, dan hingga hari ini kami tetap satu barisan,” ujarnya
Iwan Sofa mengingatkan para akademisi dan ilmuwan agar penelitian dan pengembangan yang dilakukan tidak mengorbankan kehidupan masyarakat pesisir.
“Penelitian harus dengan hati nurani dan moral. Jangan sampai atas nama riset, kalian menghancurkan kehidupan orang lain yang sudah puluhan tahun bertahan di sini. Itu tidak lucu,” tuturnya
Lebih lanjut Iwan Sofa mengatakan, terdapat 1.040 kepala keluarga yang menggantungkan hidup di Pantai Timur.
“Atas dasar moral dan nurani, kami tidak akan diam. Kami akan terus bergerak menolak KJA,” pungkasnya**
(Agit Warganet)



Tinggalkan Balasan