Pangandaran, inakor.id — Persoalan konektivitas antarpulau kembali menjadi perhatian mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Ia menilai pembangunan transportasi di Indonesia selama ini masih terlalu menitikberatkan pada infrastruktur darat, sementara karakter Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan konektivitas udara yang lebih kuat.

Pandangan tersebut disampaikan Susi ketika membuka Pangandaran Airshow 2026 di Susi Air International Beach Strip, Pangandaran, Sabtu (5/9/2026) pagi.

banner 336x280

Di hadapan peserta dan masyarakat yang hadir, Susi mengatakan cara pandang terhadap sistem transportasi nasional perlu diubah. Menurutnya, transportasi udara semestinya menjadi pilihan utama untuk menghubungkan wilayah-wilayah yang dipisahkan oleh laut.

“Seharusnya Indonesia, udara ini menjadi nomor satu. Nomor dua laut, nomor tiga darat. Mindset ini harus kita ubah,” kata Susi.

Ia menjelaskan, karakter geografis Indonesia membuat pembangunan jalan tidak selalu menjadi solusi paling efektif untuk menciptakan konektivitas nasional. Jalan memang penting untuk menghubungkan wilayah di dalam satu pulau, tetapi memiliki keterbatasan ketika kebutuhan konektivitas sudah menyangkut antarpulau.

Sementara itu, keberadaan landasan pacu dapat membuka akses menuju wilayah yang jauh lebih luas.

“Kalau satu pulau dibangun jalan, 10 kilometer ya 10 kilometer muter di situ. Tapi satu kilometer runway akan membawa kita ke dunia,” ujarnya.

Susi mencontohkan konektivitas udara Jakarta-Papua yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar enam hingga tujuh jam. Menurutnya, kecepatan tersebut menunjukkan betapa strategisnya penerbangan dalam menghubungkan wilayah Indonesia yang sangat luas.

Ia menilai bandara dan landasan pacu seharusnya tidak hanya dipandang sebagai proyek pembangunan fisik. Infrastruktur penerbangan memiliki dampak lebih luas karena dapat menjadi pintu masuk bagi pariwisata, investasi, pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

 

Airshow dan Ketertarikan Generasi Muda

Dalam kesempatan tersebut, Susi juga mengaitkan pentingnya konektivitas udara dengan penyelenggaraan Pangandaran Airshow.

Menurutnya, kegiatan dirgantara bukan sekadar pertunjukan pesawat, tetapi dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan dunia penerbangan kepada masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda.

Susi berkaca pada pengalaman setelah airshow pertama di Pangandaran pada 2022. Ia menceritakan pernah menerima foto dari salah seorang pilot Susi Air yang memperlihatkan seorang anak membuat pesawat mainan dari kayu.

“Biasanya mainan anak-anak bikin mobil-mobilan. Tapi ini anak di bandara, membuat pesawat dan bermain pesawat,” katanya.

Bagi Susi, hal sederhana tersebut menunjukkan bahwa kehadiran kegiatan penerbangan di tengah masyarakat mampu membangkitkan rasa ingin tahu sekaligus kecintaan anak-anak terhadap dunia aviasi.

Karena itu, ia berharap kegiatan seperti airshow, joy flight, maupun olahraga dirgantara lainnya dapat semakin mudah dilaksanakan dan tidak terhambat prosedur administratif yang terlalu rumit.

 

Kritik Biaya Bandara dan Regulasi Penerbangan

Tidak hanya berbicara mengenai pentingnya konektivitas udara, Susi juga menyoroti persoalan biaya operasional dan kebijakan penerbangan yang menurutnya perlu mendapatkan perhatian pemerintah.

Ia mengambil contoh penerbangan Susi Air rute Banjarmasin-Palangkaraya yang saat ini tidak lagi beroperasi. Salah satu persoalannya, kata Susi, berkaitan dengan meningkatnya biaya pendaratan dan lepas landas setelah pembangunan terminal bandara.

Menurutnya, biaya tersebut dapat mencapai sekitar Rp5 juta untuk satu kali pendaratan dan lepas landas. Sementara itu, penerbangan dengan pesawat kecil melayani masyarakat dengan harga tiket sekitar Rp750 ribu.

 

Kondisi itu membuat penerbangan menjadi sulit secara ekonomi.

Akibatnya, masyarakat yang hendak bepergian dari Banjarmasin menuju Palangkaraya harus mengambil jalur yang lebih panjang dengan transit melalui Jakarta.

“Sekarang masyarakat kembali dari Banjarmasin ke Jakarta, dari Jakarta ke Palangkaraya,” ujarnya.

Susi mengingatkan agar pembangunan terminal dan fasilitas bandara tidak hanya mengejar tampilan fisik yang semakin megah. Menurutnya, kemampuan maskapai dan daya beli masyarakat juga harus menjadi bagian dari pertimbangan.

“Setiap kali dibangun terminal lebih canggih, harga landing fee-nya lebih mahal,” katanya.

Ia berharap kebijakan mengenai biaya bandara dievaluasi sehingga pembangunan infrastruktur tidak justru membuat penerbangan perintis semakin sulit berkembang.

 

Permudah Joy Flight dan Olahraga Dirgantara

Susi juga menyoroti aspek regulasi. Menurutnya, prosedur penerbangan untuk kegiatan masyarakat, joy flight, maupun olahraga dirgantara perlu dibuat lebih sederhana tanpa mengabaikan aspek keselamatan.

Ia mempertanyakan kondisi ketika pesawat yang telah terdaftar dan memenuhi persyaratan masih harus menghadapi proses perizinan tambahan sebelum dapat digunakan.

“Jangan sampai mau terbang, sudah punya pesawat, sudah terdaftar, tapi mau terbang masih harus minta izin lagi,” katanya.

Menurut Susi, semakin mudah masyarakat berinteraksi dengan dunia penerbangan, semakin besar pula peluang tumbuhnya minat terhadap sektor dirgantara.

Ia menilai pengembangan aviasi tidak semestinya hanya dilihat dari sisi komersial. Pesawat, khususnya pesawat kecil, memiliki fungsi penting untuk menjangkau masyarakat di wilayah terpencil.

 

Penerbangan Bukan Sekadar Bisnis

Susi menegaskan, konektivitas udara berkaitan langsung dengan berbagai kebutuhan masyarakat. Mulai dari akses kesehatan, pendidikan, kegiatan ekonomi, penanganan bencana hingga evakuasi medis.

Susi Air, kata dia, selama ini turut menjalankan penerbangan perintis, membantu penanganan kebencanaan dan melakukan evakuasi medis dengan menggunakan pesawat-pesawat berukuran kecil.

Namun, keberlanjutan layanan tersebut membutuhkan dukungan pemerintah serta kebijakan yang tidak membebani operasional penerbangan.

“Kami masih ingin meningkatkan jumlah armada dan menjangkau lebih banyak pulau. Kami ingin lebih bisa menghubungkan saudara-saudara kita di pulau-pulau terkecil ke Jakarta,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah, regulator, pengelola bandara, maskapai serta berbagai pihak terkait memiliki pemahaman yang sama mengenai pentingnya konektivitas udara.

Bagi Susi, membangun jaringan penerbangan berarti membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan akses yang lebih cepat terhadap berbagai kebutuhan dan peluang.

Karena itu, ia mendorong adanya keberanian untuk mengubah paradigma pembangunan transportasi di Indonesia agar tidak terlalu berorientasi pada darat.

“Bantulah untuk memudahkan masyarakat melakukan konektivitas bisnis, kesehatan, untuk kehidupan, untuk livelihood menjadi lebih mudah,” kata Susi.***

 

(Agit/ Agus Giantoro) 

banner 336x280