Pangandaran, inakor.id – Dua puluh dua tahun berlalu sejak aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib meninggal dunia. Namun, pertanyaan mengenai keadilan dan kemanusiaan yang melekat pada namanya masih menjadi bahan perenungan.

Di Pangandaran, ingatan terhadap Munir dirawat melalui cara yang berbeda. Para pelajar SMK Bakti Karya Parigi mengambil bagian dalam sebuah ruang refleksi yang tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga mengajak generasi muda melihat kembali persoalan sosial di sekitarnya.

banner 336x280

Kegiatan “Mengenang 22 Tahun Kematian” digelar di Alun-Alun Parigi, Kabupaten Pangandaran, Senin (7/9/2026). Kegiatan tersebut diinisiasi OSIS SMK Bakti Karya Parigi bersama Pangandaran Kolektifa.

Sejumlah kegiatan digelar dalam agenda tersebut, di antaranya ziarah, refleksi, orasi, pembacaan puisi hingga pertunjukan musik akustik. Beragam kegiatan itu menjadi media bagi para peserta untuk menyampaikan pandangan sekaligus menghidupkan kembali pembicaraan mengenai HAM di kalangan anak muda.

Pembina OSIS SMK Bakti Karya Parigi, Rendi Stiadi, mengatakan kegiatan tersebut tidak muncul begitu saja. Menurutnya, gagasan berasal dari kegelisahan para siswa yang melihat masih banyak persoalan sosial dan kemanusiaan yang terjadi di lingkungan mereka.

“Yang kami lakukan sebenarnya berangkat dari keresahan anak-anak. Mereka melihat banyak hal, memiliki pertanyaan, tetapi membutuhkan ruang untuk menyampaikannya. Karena itu, keresahan tersebut kami jadikan sebagai bagian dari proses belajar,” ujar Rendi.

Ia mengatakan, pelajar perlu mendapatkan kesempatan untuk memahami persoalan HAM secara lebih dekat. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya membuat siswa mengetahui sebuah peristiwa, tetapi juga perlu mendorong mereka memahami sebab, dampak dan nilai yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut.

Dalam konteks itu, sosok Munir menjadi salah satu bagian penting untuk dibicarakan bersama generasi muda.

“Munir bisa menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk belajar tentang keberanian, tentang bagaimana seseorang memperjuangkan apa yang diyakininya benar dan bagaimana kita melihat persoalan keadilan,” katanya.

Rendi menilai sekolah mempunyai tanggung jawab untuk membangun keberanian intelektual siswa. Ruang belajar, kata dia, seharusnya tidak hanya berisi penyampaian materi dan aturan, tetapi juga membuka kesempatan bagi peserta didik untuk bertanya serta menguji berbagai persoalan melalui diskusi.

“Anak-anak tidak boleh hanya dibentuk untuk menerima. Mereka harus punya keberanian bertanya, berpikir dan menyampaikan pendapat. Kritis bukan berarti selalu menolak, tetapi mampu melihat persoalan dan memiliki alasan ketika mengambil sikap,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan tersebut semakin penting di tengah derasnya arus informasi. Pelajar perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi dan melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang.

“Jangan sampai mereka hanya hafal sejarah, tetapi tidak memahami makna dari sejarah itu sendiri. Peristiwa masa lalu harus bisa menjadi cermin untuk melihat persoalan yang terjadi hari ini,” kata Rendi.

Sementara itu, Ketua OSIS SMK Bakti Karya Parigi, Nur Afiqa Zakirah, mengatakan kegiatan tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi para siswa.

Ia menyebut keterlibatan pelajar membuat peringatan tersebut terasa lebih dekat dengan dunia mereka. Para siswa tidak hanya menjadi peserta, tetapi ikut terlibat dalam proses menyampaikan gagasan melalui berbagai bentuk ekspresi.

Bagi Afiqa dan rekan-rekannya, mengenang Munir bukan hanya tentang mengetahui perjalanan seorang aktivis HAM. Ada pesan yang lebih besar, yakni pentingnya keberanian untuk peduli terhadap persoalan yang terjadi di sekitar.

Orasi, puisi dan musik akustik kemudian menjadi bagian dari cara para pelajar menyuarakan refleksi mereka.

Satu kalimat yang menjadi bagian dari refleksi kegiatan tersebut menggambarkan bahwa perjalanan waktu tidak serta-merta menghapus pertanyaan yang pernah muncul.

“22 tahun berlalu, tetapi pertanyaan-pertanyaan itu belum selesai.”

Pesan itu menjadi titik renungan bahwa sejarah tidak seharusnya berhenti sebagai catatan masa lalu. Sejarah dapat menjadi ruang untuk bertanya kembali tentang apa yang telah terjadi dan bagaimana generasi hari ini menyikapinya.

Melalui kegiatan tersebut, OSIS SMK Bakti Karya Parigi berharap pelajar semakin memiliki keberanian untuk bersuara, tanpa kehilangan sikap kritis dan tanggung jawab.

Peringatan 22 tahun kematian Munir di Pangandaran pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda mengenang. Di tengah suasana refleksi, para pelajar menemukan ruang untuk belajar bahwa HAM, keadilan dan kemanusiaan bukan hanya tema dalam buku pelajaran, melainkan persoalan yang terus hadir dalam kehidupan sehari-hari.***

 

(Agit/ Agus Giantoro) 

banner 336x280