CILEGON, Inakor.id – PDI Perjuangan mengerahkan Kapal Laksamana Malahayati bersama Badan Penanggulangan Bencana (Baguna), relawan kesehatan, dan kader partai untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi di wilayah Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pengiriman bantuan tersebut dilakukan pada Kamis (20/8/2026) sebagai tindak lanjut arahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Gempa berkekuatan magnitudo 5,7 dilaporkan terjadi di wilayah 37 kilometer barat laut Manggarai Timur, Flores.

banner 336x280

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, pengerahan Kapal Laksamana Malahayati merupakan bentuk nyata kepedulian partai terhadap masyarakat yang menjadi korban bencana,”ujarnya

“PDI Perjuangan melalui Kapal Laksamana Malahayati bersama Tim Baguna dan relawan, sekaligus kader PDI Perjuangan, menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat yang terdampak gempa di NTT,” Jelas Hasto.

Menurut Hasto, langkah tersebut merupakan implementasi pesan Megawati agar seluruh kader bergerak berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan Ketuhanan.

Ia mengatakan, semangat gotong royong harus terus dihidupkan, terutama ketika masyarakat menghadapi situasi sulit akibat bencana alam.

“Baguna merupakan salah satu alat kelengkapan partai. Nilai-nilai kemanusiaan harus terus digerakkan dan bergelora, terlebih ketika rakyat menjadi korban. Baguna wajib berada di garis terdepan membantu rakyat yang menjadi korban bencana,” katanya.

Hasto menuturkan, Megawati telah menginstruksikan agar Kapal Laksamana Malahayati segera diberangkatkan menuju Manggarai Timur. Persiapan pun dilakukan dengan melibatkan sejumlah tokoh dan relawan.

Ia menyebut sejumlah kader dan relawan, termasuk Risma, Ribka Tjiptaning, serta tim Baguna dan relawan kesehatan, telah berada di Flores untuk membantu masyarakat terdampak.
“Kita melihat spirit gotong royong menyala ketika rakyat menghadapi bencana,” terang Hasto.

Selain memberikan pelayanan kesehatan, tim yang diterjunkan juga membantu kebutuhan dasar masyarakat, termasuk mendirikan dapur umum dan menyalurkan perlengkapan bagi para pengungsi.

Hasto mengatakan sejumlah kebutuhan mendesak, seperti tenda untuk pengungsi, telah dikirim ke lokasi bencana agar dapat segera digunakan masyarakat.

Menurut dia, kepedulian terhadap korban bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab satu kelompok atau organisasi. Semangat kemanusiaan harus menjadi bagian dari solidaritas masyarakat Indonesia, bahkan dalam konteks hubungan antarnegara.

Ia mencontohkan bantuan internasional yang diterima Indonesia ketika sejumlah wilayah mengalami bencana besar, seperti tsunami Aceh dan gempa bumi Bantul.

“Ketika Aceh terkena tsunami, Bantul terkena gempa tektonik, seluruh negara datang membantu Indonesia. Demikian pula Indonesia memiliki tanggung jawab bagi warga dunia yang terkena bencana,” tutur Hasto.

Karena itu, Hasto menilai bantuan kemanusiaan dari negara sahabat ketika terjadi bencana tidak semestinya dipandang bertentangan dengan prinsip kedaulatan.
Menurutnya, kemandirian dan kedaulatan sebuah negara tetap harus dijaga melalui kemampuan melindungi wilayah, kekayaan alam, kepentingan ekonomi, kebudayaan, serta aspek strategis lainnya.

Namun, ketika bencana terjadi, nilai kemanusiaan harus ditempatkan sebagai landasan utama untuk menyelamatkan dan membantu masyarakat yang terdampak.

“Jangan dimaknai kedaulatan tersebut ketika terjadi bencana alam kita menolak bantuan dari negara-negara sahabat yang juga digerakkan oleh nilai-nilai kemanusiaan, sebagaimana kita membantu negara-negara lain ketika mereka menjadi korban bencana alam,” kata Hasto.

PDI Perjuangan menyatakan akan terus mendorong gerakan gotong royong melalui Baguna dan para relawan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, terutama di wilayah terdampak bencana.
(Rohim)

banner 336x280