Pangandaran, inakor.id – Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Ida Nurlaela Wiradinata, menilai insiden kapal tongkang bermuatan batu bara yang terdampar di pesisir Kabupaten Pangandaran tidak dapat dipandang sebagai kecelakaan pelayaran semata.

Menurutnya, peristiwa tersebut telah menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan pesisir dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada laut.
Saat meninjau lokasi pencemaran pada Senin (29/6/2026), Ida mengatakan pemerintah perlu memberikan perhatian serius terhadap dampak ekologis yang ditimbulkan akibat tumpahan batu bara tersebut.

banner 336x280

“Mengomentari tentang tumpahan muatan batu bara yang ada di perairan Pangandaran, itu bukan hanya kecelakaan pelayaran biasa,” kata Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Ida Nurlaela Wiradinata, Selasa (30/6/2026).

Kapal tongkang yang mengangkut sekitar 8.100 ton batu bara sebelumnya dilaporkan sengaja didamparkan di kawasan Pantai Sukaresik, Kecamatan Sidamulih. Sebagian muatan kemudian tumpah ke laut dan terbawa arus hingga menyebar ke sejumlah wilayah pesisir, termasuk kawasan Pantai Cibenda di Kecamatan Parigi.

Penyebaran material batu bara dikhawatirkan mengganggu keseimbangan ekosistem laut. Air laut yang tercampur partikel batu bara menjadi lebih keruh sehingga menghambat masuknya cahaya matahari ke dalam perairan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu proses fotosintesis fitoplankton dan padang lamun yang menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas ekosistem laut.

Selain melayang di kolom air, sebagian material diperkirakan mengendap di dasar laut. Endapan tersebut berpotensi menutupi terumbu karang serta merusak habitat berbagai biota laut, seperti kerang, udang, dan ikan yang hidup di kawasan pesisir.

Tidak hanya itu, batu bara juga diketahui mengandung sejumlah unsur logam berat, di antaranya arsenik, merkuri, timbal, kadmium, dan selenium. Apabila unsur-unsur tersebut terlepas ke lingkungan perairan, terdapat potensi masuk ke dalam rantai makanan melalui proses bioakumulasi yang dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem maupun kesehatan manusia.

Habitat penyu yang berada di sepanjang pesisir Pangandaran juga disebut menjadi salah satu kawasan yang perlu mendapat perhatian karena berpotensi terdampak pencemaran.

Dampak tumpahan batu bara tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga masyarakat pesisir. Aktivitas nelayan tradisional terancam karena sejumlah lokasi penangkapan ikan mengalami pencemaran. Kondisi tersebut dikhawatirkan memengaruhi hasil tangkapan dan pendapatan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan.

Menanggapi kondisi tersebut, Ida mendesak pemerintah bersama instansi terkait segera melakukan langkah-langkah penanganan secara menyeluruh.

“Yang harus dilakukan sekarang adalah investigasi secara menyeluruh, pemantauan kualitas air dan sedimentasi, serta kajian terhadap dampak pencemaran terhadap biota laut agar penanganannya tepat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya percepatan program pemulihan lingkungan atau environmental remediation untuk meminimalkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem pesisir maupun kesehatan masyarakat.

Menurut Ida, upaya pemulihan harus dilakukan secara terukur dengan melibatkan pemerintah, ahli lingkungan, serta seluruh pemangku kepentingan agar kawasan pesisir Pangandaran dapat kembali pulih dan aktivitas masyarakat dapat berlangsung normal.***

 

(Agit/ Agus Giantoro) 

banner 336x280