Bandung, inakor.id – Alunan merdu angklung menggema di halaman Balai Kota Bandung saat Festival Bandung Angklung 2026 di gelar pada Sabtu (5/6/2026). Acara yang menjadi bagian dari upaya pelestarian warisan budaya Nusantara tersebut berlangsung meriah dengan melibatkan puluhan komunitas angklung serta mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat Kota Bandung.

Festival ini di hadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bandung, Adi Djunjunan beserta jajaran, tokoh angklung Ujo, Taufik Hidayat beserta jajaran, para budayawan, tokoh masyarakat, serta sejumlah tamu undangan dari berbagai kalangan.

banner 336x280

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat eksistensi angklung sebagai salah satu identitas budaya Kota Bandung. Sekaligus warisan budaya bangsa yang harus terus di jaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Kepala Disparbud Kota Bandung, Adi Djunjunan, menyampaikan bahwa keberadaan angklung di Kota Bandung memiliki akar yang sangat kuat. Bahkan, menurutnya, jumlah komunitas angklung yang tersebar di berbagai wilayah menjadi bukti bahwa seni tradisional tersebut masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

“Angklung telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Bandung memiliki begitu banyak komunitas angklung yang aktif. Karena itu, penyebutan Bandung sebagai Kota Angklung bukan hanya slogan, melainkan kenyataan yang terlihat dari aktivitas dan partisipasi masyarakat,” ujarnya.

Pada festival kali ini, sebanyak 57 komunitas angklung turut berpartisipasi menampilkan berbagai pertunjukan. Keterlibatan tersebut mencerminkan luasnya jaringan pelaku seni angklung yang terus berkontribusi menjaga keberlangsungan budaya tradisional Sunda.

Menurut Adi, perkembangan angklung saat ini telah menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Tidak hanya dimainkan oleh seniman dan komunitas budaya, tetapi juga oleh kelompok lansia, pelajar, hingga komunitas sosial lainnya.

“Ini menunjukkan bahwa angklung telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Semakin banyak yang terlibat, semakin besar peluang budaya ini tetap lestari dan berkembang,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Festival Bandung Angklung 2026, Dadang, menjelaskan bahwa penyelenggaraan festival merupakan agenda tahunan yang di rancang untuk memperluas ruang apresiasi terhadap seni angklung sekaligus mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Bandung.

Ia menuturkan bahwa rangkaian kegiatan festival telah dimulai sejak bulan Mei melalui kolaborasi dengan sejumlah pusat perbelanjaan di Kota Bandung. Program tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan angklung kepada masyarakat yang lebih luas.

“Festival ini di harapkan tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga mampu memberikan dampak positif terhadap pariwisata dan memperkuat citra Bandung sebagai kota yang memiliki kekayaan seni tradisional,” ujarnya.

Dadang mengungkapkan, pihaknya juga tengah mendorong lahirnya pengakuan yang lebih luas terhadap Bandung sebagai Kota Angklung. Menurutnya, pengakuan tersebut diharapkan datang dari pemerintah tingkat provinsi maupun kementerian sehingga memiliki legitimasi yang lebih kuat.

“Kami berharap ke depan ada dukungan dan pengakuan dari tingkat yang lebih tinggi. Bandung memiliki potensi besar untuk menjadi ikon angklung Indonesia karena komunitasnya sangat banyak dan terus berkembang,” katanya.

Tingginya antusiasme peserta terlihat dari jumlah pemain angklung yang tampil pada puncak acara. Dari target awal sekitar 500 peserta, jumlah yang hadir dan bermain bersama mencapai lebih dari 600 orang, menjadikan pertunjukan kolosal tersebut sebagai salah satu momen paling menarik dalam festival.

Selain pertunjukan budaya, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas seni, pelaku budaya, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa.

Ke depan, penyelenggara berharap suara angklung dapat semakin akrab di ruang-ruang publik Kota Bandung sehingga menjadi identitas budaya yang langsung di rasakan oleh setiap orang yang datang ke Kota Kembang.

Melalui Festival Bandung Angklung 2026, semangat pelestarian budaya kembali ditegaskan. Angklung tidak hanya menjadi alat musik tradisional, tetapi juga simbol kebersamaan, kreativitas, serta kebanggaan masyarakat Bandung dalam menjaga warisan budaya Indonesia di tengah perkembangan zaman.***

(Wawat S)

banner 336x280