BONE,INAKOR,ID – Pemerintah Kabupaten Bone melalui Wakil Bupati Andi Akmal Pasluddin menghadiri dan melakukan peletakan batu pertama pembangunan Laboratorium Terbuka Universitas Sipatokkong Mambo (UNSIMA) pada Senin (27/10/2025).
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Ketua Yayasan UNSIMA Dr. H. Mustar, A.Per.Pen., M.Kes., Rektor Dr. Hj. Hasnidar, S.ST., M.Kes., serta sejumlah pejabat akademik dan tokoh masyarakat.

Pembangunan laboratorium ini dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat infrastruktur riset dan memperluas daya dukung pendidikan tinggi di Kabupaten Bone. Kehadiran pemerintah daerah di tengah komunitas akademik juga diharapkan dapat mempererat sinergi antara dunia pendidikan dan pembangunan daerah.

banner 336x280

Namun di balik suasana seremonial yang penuh apresiasi tersebut, muncul pandangan kritis dari kalangan muda yang menilai bahwa kehadiran simbolik pejabat dalam kegiatan pendidikan seharusnya diimbangi dengan komitmen nyata terhadap responsivitas sosial dan keterbukaan terhadap aspirasi masyarakat.

Aktivis muda Bone, Try Ardiansyah, menyampaikan bahwa penting bagi pemerintah daerah untuk tidak hanya hadir dalam ruang-ruang seremonial, tetapi juga aktif mendengar dan menanggapi dinamika sosial yang berkembang di masyarakat.

“Hadir di panggung seremoni tetapi absen di panggung aspirasi dapat menimbulkan kesan paradoks dalam etika pemerintahan. Seremonial membangun citra, namun kepercayaan tumbuh dari partisipasi dan dialog yang tulus,” ujarnya.

Pandangan ini menggarisbawahi adanya tantangan dalam membangun komunikasi politik yang sehat antara pemerintah dan masyarakat sipil. Dalam perspektif tata kelola pemerintahan yang baik (good public governance), partisipasi publik dan keterbukaan terhadap kritik merupakan pilar utama dari pemerintahan yang responsif dan berintegritas.

Kehadiran Wakil Bupati Bone di UNSIMA patut diapresiasi sebagai bentuk dukungan terhadap kemajuan pendidikan dan riset daerah. Namun demikian, ke depan diharapkan momentum seperti ini tidak hanya menjadi simbol seremonial, tetapi juga menjadi jembatan penguatan komunikasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat luas.

Pembangunan fisik seperti laboratorium terbuka tentu memberi manfaat konkret bagi kemajuan pendidikan. Namun tanpa dibarengi dengan pembangunan keadilan aspiratif dan dialog sosial yang konstruktif, maka capaian tersebut berisiko kehilangan makna sosial yang lebih dalam.

Dalam konteks sosiologis, pembangunan yang ideal adalah ketika kemajuan infrastruktur berjalan beriringan dengan tumbuhnya kepercayaan publik dan keterbukaan ruang partisipasi. Sebab pada akhirnya, kemajuan daerah tidak hanya diukur dari megahnya bangunan, tetapi juga dari kuatnya suara rakyat yang didengar dan dihargai.

Laporan :Ardiansyah

banner 336x280