Pangandaran, inakor.id — Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kabupaten Pangandaran mendorong Pemerintah Kabupaten Pangandaran mengevaluasi kembali rangkaian peringatan Milangkala ke-14 Kabupaten Pangandaran.
Para kepala desa se-Kabupaten Pangandaran mengusulkan agar perayaan hari jadi daerah tersebut dilaksanakan secara sederhana dengan mempertimbangkan kondisi fiskal pemerintah desa dan situasi sosial masyarakat.
Ketua DPC Apdesi Kabupaten Pangandaran, Dedi Hermawan, mengatakan aspirasi tersebut merupakan bentuk kegelisahan para kepala desa yang sehari-hari berhadapan langsung dengan kondisi masyarakat di tingkat desa.
Menurut Dedi, kondisi keuangan pemerintah desa saat ini menghadapi berbagai tekanan akibat adanya penyesuaian dan pemangkasan sejumlah alokasi anggaran, termasuk program bantuan dari pemerintah pusat maupun provinsi.
Di tengah kondisi tersebut, keterlibatan pemerintah desa dalam berbagai rangkaian kegiatan Milangkala dinilai berpotensi menambah beban operasional desa.
“Kalau dihitung, kebutuhan untuk rangkaian kegiatan itu cukup besar. Latihan paduan suara saja membutuhkan waktu berminggu-minggu, belum seragam, konsumsi, dan kebutuhan lainnya sampai hari puncak. Anggaran Rp10 juta saja tidak akan cukup,” ujar Dedi, Kamis (8/10/2026).
Ia mengatakan persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai besaran biaya, tetapi juga menyangkut prioritas penggunaan anggaran desa di tengah keterbatasan fiskal.
Selain aspek anggaran, Apdesi juga mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat Pangandaran yang saat ini menghadapi sejumlah persoalan, termasuk keterbatasan air bersih dan dampak kekeringan terhadap sektor pertanian.
Menurut Dedi, kondisi tersebut membuat para kepala desa perlu mempertimbangkan bentuk perayaan yang sesuai dengan situasi masyarakat.
“Masyarakat kita di bawah sedang kesulitan air bersih dan gagal panen. Pandangan masyarakat tentu beragam melihat situasi ini. Rasanya kurang elok kalau pemerintah dan aparatur desa justru terlihat berhura-hura di tengah masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan,” katanya.
Dedi menegaskan, sikap Apdesi bukan berarti menolak peringatan hari jadi Kabupaten Pangandaran. Para kepala desa, kata dia, tetap mendukung momentum tersebut sebagai bagian dari perjalanan pembangunan daerah.
Namun, menurutnya, bentuk kegiatan perlu disesuaikan dengan kondisi yang sedang dihadapi pemerintah dan masyarakat.
Apdesi pun mendorong agar rangkaian Milangkala ke-14 lebih diarahkan pada kegiatan yang bersifat sederhana dan memiliki nilai sosial serta spiritual, salah satunya doa bersama atau istigasah.
“Demi Pangandaran tentu kami sangat mendukung. Ini hanya masalah waktu dan situasi. Kami menyarankan perayaan digelar sesederhana mungkin. Jauh lebih bermakna jika kita mengadakan doa bersama atau istigasah, memohon agar alam kembali bersahabat dan masyarakat Pangandaran keluar dari masa-masa sulit,” pungkasnya.***
(Agit/ Agus Giantoro)



Tinggalkan Balasan