Pangandaran, inakor.id — Mantan Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata menyoroti rencana rangkaian peringatan Hari Jadi (Milangkala) ke-14 Kabupaten Pangandaran di tengah kondisi kemarau yang berdampak terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Jeje menilai pemerintah daerah perlu mempertimbangkan kembali prioritas kegiatan seremonial apabila kondisi kekeringan masih berlangsung dan kebutuhan dasar masyarakat mulai terdampak.

banner 336x280

Sorotan Jeje disampaikan menyusul klarifikasi Pemerintah Kabupaten Pangandaran terkait agenda Milangkala ke-14, termasuk rencana pawai atau karnaval yang melibatkan perangkat daerah hingga pemerintah desa.

Menurut Jeje, penyelenggaraan kegiatan tersebut perlu memperhatikan sumber pembiayaan serta kondisi fiskal dan kebijakan efisiensi anggaran yang sedang dijalankan pemerintah daerah.

“Miris saya lihat sikap bupati dalam mengklarifikasi Milangkala, tidak paham regulasi dan dinamika. Soal karnaval, biaya dari mana? Dinas-dinas katanya efisiensi, terus desa-desa uang dari mana?” ujar Jeje, Kamis (8/10/2026).

Ia mengatakan, apabila terdapat anggaran yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan tersebut, pemerintah sebaiknya mempertimbangkan pemanfaatannya untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.

“Kalau pun ada (anggarannya), mending buat kepentingan penanganan dampak kekeringan,” tegasnya.

 

Soroti Penanganan Kekeringan

Selain persoalan anggaran kegiatan Milangkala, Jeje juga mempertanyakan langkah pemerintah daerah dalam menangani dampak kemarau, khususnya terkait ketersediaan air bersih.

Ia mengaku belum mendengar adanya rapat koordinasi lintas sektor yang secara khusus membahas penanganan kekeringan di Kabupaten Pangandaran.

“Saya belum mendengar ada rakor penanganan kekeringan. Pantauan saya, PDAM juga mulai kekurangan air, artinya suplai air bersih terbatas,” ungkapnya.

Menurut Jeje, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah daerah karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Terlebih, berdasarkan informasi yang diterimanya, kondisi kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga November atau Desember.

“Info kemarau sampai November atau Desember, ini namanya krisis. Terus, kenapa harus ada pesta?” pungkas Jeje.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan di tengah pembahasan mengenai pelaksanaan Milangkala ke-14. Jeje mendorong agar pemerintah daerah menempatkan penanganan kebutuhan dasar masyarakat sebagai salah satu prioritas ketika menghadapi kondisi kekeringan.***

(Agit/ Agus Giantoro)

banner 336x280