Jakarta,Inakor.id — Dinamika politik di Indonesia terus berkembang dan menyuguhkan isu serta wacana baru yang hangat untuk diperbincangkan. Bagaimana tidak, kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto bukan hanya tangguh di dalam negeri, namun juga kekar melawan “musuh-musuh negara” yang berasal dari luar yang selama ini memandang rendah Indonesia sebagai suatu bangsa dan negara yang berdaulat.

Kegigihan dari Presiden Republik Indonesia bapak H. Prabowo Subianto dalam memperjuangkan kepentingan nasional (national interest) negara Indonesia sebagai negara yang berdaulat demi menjamin keberlangsungan hidup (survival), keamanan, kemandirian, keutuhan NKRI, dan kesejahteraan rakyat, baik dalam skala domestik maupun internasional tampaknya tidak main-main.

banner 336x280

Baru-baru ini, kita sama-sama menyaksikan jika pemerintah Singapura melakukan pemanggilan terhadap kurang-lebih 10 pimpinan perusahaan raksasa multi-nasional yang selama ini menjadi pemain global atas dugaan keterlibatan terhadap terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia dan kabur asap lintas batas , diantaranya ; Wilmar Internasional, Sinar Mas Group, Bumitama Agri, First Resources, Golden Agri-Resources, Indofood Agri Resources, Kencana Agri, dan TSH Resources.

Perusahaan-perusahaan tersebut merupakan entitas bisnis yang berafiliasi kuat dengan negara Malaysia dan Singapura, namun juga memiliki kaki-tangannya di Indonesia. Ironisnya, pada mulanya pemerintah Malaysia dan Singapura secara terang-terangan di media menuding pemerintah Indonesia sebagai penyebab utama terjadinya bencana tersebut. Setelah Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan ancaman serius dan memutus ekspor gas bumi ke negara Singapura, barulah pihak pemerintah Singapura mengambil sikap serta mengutus menteri luar negerinya menemui bapak presiden Indonesia ke Hambalang untuk menjalin kerjasama demi memperoleh kejelasan nasib bangsanya kedepan.

Jika kita melihat beberapa perusahaan tersebut, tampaknya nama-namanya begitu sangat tidak asing. Mengapa demikian? Karena mereka adalah bagian dari elit kelompok oligarki yang selama ini telah menguasai kekayaan dan sumber daya alam negara kita, serta menipu bangsa dan rakyat Indonesia melalui skema kejahatan under pricing dan transfer pricing tanpa pernah disadari. Bahkan mereka juga adalah aktor utama dari kebakaran-kebakaran hutan di Indonesia yang telah berpuluh-puluh tahun tidak pernah tersentuh oleh hukum, baru pada era Presiden Prabowo mereka terungkap.

Anehnya, disaat Presiden Prabowo Subianto menabuh genderang perang melawan kelompok oligarki dan negara-negara yang selama ini memandang rendah Indonesia, pada saat bersamaan segelintir pihak seolah membuat kegaduhan di dalam negeri dengan berbagai kritikan, kecaman, dan makian terhadap sosok Presiden Prabowo Subianto tanpa dasar yang jelas. Mereka seolah tidak ingin, jika Indonesia ini berdiri di atas kaki sendiri dan sistem kapitalisme moderen yang selama ini menghegemoni itu diruntuhkan.

Mereka secara sporadis dan bergerak serampangan tanpa gagasan yang jelas menolak program-program kerakyatan yang bersentuhan langsung dengan rakyat paling. Program MBG yang selalu mereka kecam dan ingin berhentikan, secara tidak langsung menjadi tindakan yang ingin merampas hak anak-anak Indonesia, rakyat kecil yang bekerja sebagai relawan, dan para petani maupun peternak yang selama ini telah menikmati hasil yang selama ini belum pernah dirasakannya.

Program MBG, Sekolah Rakyat, KDKMP, Kampung Nelayan, Revitalisasi Sekolah, Peradalah, Pembangunan Jembatan Merah-Putih, dan lain-lain adalah program strategis yang dinikmati oleh masyarakat bawah yang selama ini hidup serta tinggal di wilayah pedesaan. Namun lucunya, yang menolak adalah segelintir kaum kelas menengah yang selama ini berjibaku dengan hiruk-pikuk dan gemerlapan ibu kota.

Yang lebih menggelikkan adalah beberapa influenser dan artis-artis justru seolah memberi dukungan moril, meski kita membaca jika ada maksud terselubung (underline off ideas) dari aksi-aksi itu yang bukan hanya sekadar kritik terhadap pemerintah, akan tetapi upaya coba-coba untuk menggulingkan kekuasaan yang sah dari Presiden RI bapak H. Prabowo Subianto. Ada dua kemungkinan, mereka masih malu-malu atau mereka masih ragu-ragu dengan melihat karakter kuat dari sosok yang selama ini dikenal sebagai “Macan Asia”.

Selain itu, adanya artis-artis yang secara vulgar membela mafia atau koruptor yang telah merugikan negara ratusan hingga ribuan trilliun selama puluhan tahun lamanya membuat kita bertanya. Sebenarnya mereka berjuang untuk siapa?!.

Seolah kita ini senang menyaksikan Indonesia menjadi mainan dari oligarki atau menjadi pangsa global dari sistem kapitalisme moderen yang selama ini membuat rakyat Indonesia menjerit, sulit keluar dari jurang kemiskinan.

Kita mungkin bisa saja damai dengan ketidak-adilan jika diam, tapi itu tentulah tidak benar. Dan kita pasti benar jika ikut bersuara melawan sistem oligarki dan kapitalisme modern, meski itu tidak akan berjalan damai.

(Handi)

banner 336x280