Pangandaran, inakor.id – Tradisi Hajat Lembur atau Hajat Bumi melalui kegiatan Ngarumat Lembur Kuring kembali digelar di Lembur Kuring, Dusun Bojongkarekes RW 13, Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Minggu (11/10/2026).

Mengusung tajuk “Mupusti Tradisi, Mulasara Budaya, Neruskeun Carita Kolot”, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya masyarakat menjaga tradisi, merawat kebudayaan Sunda, sekaligus meneruskan warisan leluhur kepada generasi berikutnya.

banner 336x280

Panglima Baranusa, Yana Macan, mengatakan Hajat Lembur atau Hajat Bumi bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, tradisi tersebut mengandung nilai kebersamaan, silaturahmi, rasa syukur, serta kepedulian terhadap lingkungan yang perlu terus dijaga.

“Makna kegiatan ini bukan sebatas sakralitas karena hari ini kita berkumpul. Lebih dari itu, ada makna yang sangat mendalam, yakni kita bisa bersilaturahmi, bersama-sama, dan berbagi,” ujar Yana.

Ia menjelaskan, semangat ngarumat lembur juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Masyarakat diajak mengurangi sampah plastik sekaligus mempertahankan budaya gotong royong yang telah menjadi bagian dari kehidupan warga.

 

Yana Macan, Panglima Baranusa (Barisan Adat Raja Sultan Nusantara) selaku tuan rumah di Lembur Kuring, memberikan Kata Sambutan. Foto : Agit/ Inakor
Yana Macan, Panglima Baranusa (Barisan Adat Raja Sultan Nusantara) selaku tuan rumah di Lembur Kuring, memberikan Kata Sambutan. Foto : Agit/ Inakor

 

Menurut Yana, menjaga kampung halaman tidak dapat dipisahkan dari upaya merawat tradisi. Nilai-nilai yang diwariskan para leluhur perlu tetap hidup dan dikenalkan kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman.

 

Pentas Kaulinan Barudak dalam rangkaian tradisi Hajat Lembur Ngarumat Lembur Kuring di Bojongkarekes, Pangandaran, Minggu (11/10/2026). Foto: Agit/ Inakor.
Pentas Kaulinan Barudak dalam rangkaian tradisi Hajat Lembur Ngarumat Lembur Kuring di Bojongkarekes, Pangandaran, Minggu (11/10/2026). Foto: Agit/ Inakor.

 

Ia berharap Hajat Lembur dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun sehingga tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempererat kebersamaan sekaligus melestarikan tradisi di Bojongkarekes.

Kegiatan serupa sebelumnya pernah dilaksanakan pada Senin (21/7/2025) dan saat itu turut dihadiri Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami.

 

Dari Ngepus Sajen hingga Nugar Tumpeng

Hajat Lembur Ngarumat Lembur Kuring tahun ini diisi dengan berbagai rangkaian adat dan budaya Sunda. Prosesi diawali dengan ngepus sajen, kemudian dilanjutkan dengan persiapan kaulinan barudak atau permainan tradisional anak.

Rangkaian berikutnya meliputi rajah, persiapan penyambutan pupuhu, hingga prosesi nugar tumpeng. Masyarakat kemudian mengikuti cucurak atau makan bersama sebagai bentuk kebersamaan warga. Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama.

Salah satu yang menarik perhatian dalam kegiatan tersebut adalah tumpeng berukuran besar dengan tinggi sekitar dua meter dan lebar sekitar dua meter.

Dalam pembuatannya, masyarakat menggunakan sekitar 200 kilogram beras, 200 kilogram daging, 200 butir kelapa yang diparut, serta kurang lebih 50 kilogram sayuran.

Tumpeng tersebut menjadi bagian dari tradisi yang merepresentasikan rasa syukur dan kebersamaan masyarakat. Dalam kegiatan itu, terdapat pula simbol angka 14 yang dikaitkan dengan Milangkala Kabupaten Pangandaran ke-14 pada Oktober 2026.

 

Abah Anton: Budaya Bisa Jadi Daya Tarik Wisata

Kegiatan Hajat Lembur Ngarumat Lembur Kuring turut dihadiri Ketua Umum Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat periode 2026–2027, Irjen Pol. (Purn.) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N., yang akrab disapa Abah Anton.

Hadir pula Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pangandaran, Megi Rijua Parlumi, perwakilan Dewan Kebudayaan Daerah Kabupaten Pangandaran, tokoh masyarakat, serta warga setempat.

Abah Anton menilai tradisi seperti Hajat Bumi perlu terus dipertahankan dan dikembangkan. Selain menjaga warisan budaya, kegiatan semacam ini dinilai memiliki potensi untuk memperkuat daya tarik pariwisata Pangandaran.

“Wisata tidak hanya sebatas menjual alam atau atraksi-atraksi yang berkaitan dengan alam. Budaya juga perlu ditumbuhkembangkan agar menjadi salah satu daya tarik pariwisata,” ungkap Abah Anton.

Menurutnya, Pangandaran memiliki kekayaan budaya yang beragam. Kondisi geografis mulai dari kawasan pesisir, pantai, hingga perbukitan turut membentuk karakter dan tradisi masyarakat di masing-masing wilayah.

Pertemuan budaya Sunda dan Jawa juga dinilai menjadi kekayaan tersendiri yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari identitas Pangandaran.

“Akulturasi budaya Sunda dan Jawa ini bisa menjadi miniatur kebangsaan, yang menggambarkan persatuan Indonesia dalam keberagaman. Potensi ini perlu dilestarikan, dikemas, dan ditampilkan sebagai sajian bagi wisatawan,” tuturnya.

Abah Anton menilai, apabila dikembangkan secara serius, wisata berbasis budaya tidak hanya dapat menjaga tradisi agar tetap hidup, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, termasuk seniman dan pelaku budaya.

Ia berharap pemerintah daerah turut memperkuat pengembangan wisata budaya, termasuk memperhatikan kebutuhan sarana dan prasarana pendukungnya.

 

Disparbud Dorong Wisata Berbasis Budaya

Sekretaris Disparbud Kabupaten Pangandaran, Megi Rijua Parlumi, menyambut baik tradisi Hajat Lembur yang masih dipertahankan masyarakat Bojongkarekes.

Menurut Megi, budaya dan kearifan lokal memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari pengembangan pariwisata Pangandaran. Dengan demikian, daya tarik daerah tidak hanya bertumpu pada wisata alam, tetapi juga kekayaan tradisi masyarakatnya.

“Pariwisata Pangandaran tidak hanya mengandalkan keindahan alam dan atraksi wisata. Budaya juga perlu kita tumbuhkembangkan agar menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan,” kata Megi.

Ia mengatakan, Pangandaran memiliki potensi budaya yang tersebar di berbagai wilayah, baik kawasan pesisir maupun perbukitan. Potensi tersebut perlu terus digali dan dikembangkan tanpa meninggalkan nilai serta karakter masyarakat setempat.

“Kita akan memaksimalkan potensi yang memang bisa dikembangkan. Pangandaran memiliki kekayaan budaya yang beragam, baik di wilayah pesisir maupun perbukitan. Potensi ini perlu dilestarikan dan dikemas agar bisa dinikmati wisatawan,” ujarnya.

Megi menambahkan, pemerintah daerah akan berupaya mendorong potensi budaya yang memungkinkan untuk dikembangkan, termasuk memperhatikan kebutuhan sarana dan prasarana pendukung sesuai kemampuan yang tersedia.

Keberagaman budaya Sunda dan Jawa juga menjadi salah satu kekuatan Pangandaran. Jika dikelola dan dikemas dengan baik tanpa menghilangkan nilai aslinya, tradisi lokal dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat dan pelaku seni budaya.

 

Menjaga Tradisi, Meneruskan Carita Kolot

Hajat Lembur Ngarumat Lembur Kuring di Bojongkarekes tidak sekadar menjadi ruang berkumpul warga. Rangkaian tradisi mulai dari ngepus sajen, kaulinan barudak, rajah, penyambutan pupuhu, nugar tumpeng, cucurak, hingga doa bersama menjadi bagian dari upaya mempertahankan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.

Semangat “Mupusti Tradisi, Mulasara Budaya, Neruskeun Carita Kolot” membawa pesan agar warisan generasi terdahulu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi terus dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Rencana menjadikan Hajat Lembur sebagai kegiatan tahunan diharapkan dapat memberikan ruang bagi tradisi tersebut untuk terus berkembang di tengah perjalanan Pangandaran sebagai daerah tujuan wisata.

Dengan demikian, Hajat Lembur tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tetap hidup sebagai identitas masyarakat, memperkuat kebersamaan, serta menjadi bagian dari kekayaan budaya Sunda yang diwariskan kepada generasi mendatang.***

(Agit/ Agus Giantoro)

banner 336x280