Pangandaran, inakor.id – Kader Muda Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Pangandaran mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga persatuan dan kondusivitas pascainsiden Jembatan Gantung Pongpet di Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran.
Insiden jembatan tersebut terjadi pada Minggu (30/8/2026), sesaat setelah proses peresmian, ketika jembatan dilintasi secara bersamaan oleh warga dan sejumlah pejabat daerah.
Kader Muda NU Pangandaran menyampaikan keprihatinan atas peristiwa tersebut sekaligus mengingatkan masyarakat agar tidak memperkeruh suasana dengan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi maupun saling menyalahkan.
“Kami bersyukur tidak ada korban jiwa. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama kita bersama,” ujar Gus Arief, Kader Muda NU Pangandaran, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, kondisi pascainsiden harus dihadapi dengan mengedepankan empati, kepedulian terhadap warga terdampak, serta memberikan ruang bagi pihak terkait untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh.
“Di situasi seperti ini, mari kita utamakan empati, doa untuk para korban luka, dan dukungan untuk proses pemulihan. Mari hindari ujaran kebencian, saling menyalahkan, dan penyebaran informasi yang belum terverifikasi,” katanya.
Gus Arief juga mengapresiasi pembangunan Jembatan Pongpet yang dilakukan secara swakelola dengan melibatkan TNI dan masyarakat. Menurutnya, pembangunan tersebut pada dasarnya memiliki tujuan positif, terutama dalam mendukung akses masyarakat dan meningkatkan aktivitas perekonomian warga.
“Kami memahami bahwa semua pihak tentu tidak menghendaki terjadinya insiden ini. Untuk itu, kami mendukung penuh proses evaluasi secara objektif oleh dinas dan kementerian terkait, agar ke depan hal serupa tidak terulang lagi,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mengedepankan prinsip tabayyun dalam menyikapi informasi mengenai insiden tersebut, khususnya yang beredar di media sosial.
“Sebagai anak bangsa, terlebih sesama muslim, kita diajarkan untuk tabayyun, tidak mudah menghakimi, dan menjaga lisan di media sosial,” kata Gus Arief.
Ia menegaskan, peristiwa tersebut seharusnya menjadi momentum untuk melakukan introspeksi dan perbaikan bersama, bukan menjadi pemicu perpecahan di tengah masyarakat.
“Musibah bukan untuk bahan perdebatan dan saling tuding. Mari kita saring setiap informasi dan tidak menyebarkan sesuatu yang belum kita ketahui kebenarannya,” tegasnya.
Gus Arief berharap seluruh pihak dapat memberikan perhatian terhadap warga yang terdampak, termasuk dampak psikologis yang mungkin timbul setelah insiden tersebut. Ia menilai aspek keselamatan, pengawasan, kedisiplinan, dan edukasi masyarakat perlu menjadi perhatian dalam pemanfaatan fasilitas umum.
“Jembatan bisa diperbaiki. Tapi persatuan dan kepercayaan harus kita jaga bersama. Mari jadikan peristiwa ini sebagai bahan introspeksi dan perbaikan, bukan perpecahan,” pungkasnya.
Kader Muda NU Pangandaran menyatakan siap bersinergi dengan Pemerintah Daerah, TNI-Polri, serta seluruh komponen masyarakat dalam mendorong edukasi publik, menangkal penyebaran hoaks, dan mengawal proses perbaikan fasilitas agar aspek keselamatan masyarakat menjadi prioritas.***
(Agit/ Agus Giantoro)



Tinggalkan Balasan