MAKASSAR,INAKOR ,ID – Warga di tiga kelurahan di Kota Makassar, yakni Kelurahan Buloe, Kaluku Bodoa, dan Tallo, mengalami krisis air bersih yang semakin memprihatinkan saat musim kemarau tiba. Kondisi ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan belum mendapatkan solusi konkret dari pemerintah maupun Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Makassar.1/9/2025

Akibat tidak tersedianya sambungan air PDAM, masyarakat di ketiga kelurahan ini terpaksa membeli air bersih secara manual, bahkan hingga Rp1.000 per jerigen, setiap hari. Pengeluaran ini sangat membebani, terutama bagi keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah.

banner 336x280

“Bayangkan saja, satu rumah bisa habis 10–15 jerigen sehari. Kami harus mengeluarkan uang Rp10.000 hingga Rp15.000 per hari hanya untuk air bersih. Padahal kalau PDAM masuk, kami bisa jauh lebih hemat,” ujar Ibu Rina, warga Kaluku Bodoa.

Di kawasan sekitar Galangan Kapal, banyak warga juga mengeluhkan hal serupa. Mereka menyebut sudah bertahun-tahun menunggu janji pemasangan pipa PDAM, namun hingga kini belum terealisasi.

“Musim kemarau begini makin susah. Air makin mahal, dan tidak semua orang sanggup beli tiap hari. Kami hanya bisa berharap pemerintah akhirnya benar-benar mendengar suara kami,” tambah salah satu warga dari Kelurahan Buloe.

Kondisi ini diperparah oleh tidak adanya sumber air alternatif yang memadai. Satu-satunya harapan warga adalah penyambungan jaringan pipa air bersih dari PDAM ke rumah-rumah warga, yang hingga kini belum dilakukan.

Warga mendesak Pemerintah Kota Makassar dan PDAM segera turun tangan, karena krisis air bersih ini bukan hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga pada beban ekonomi masyarakat sehari-hari.

“Air bersih adalah kebutuhan dasar. Jangan sampai warga Makassar, di kota besar seperti ini, masih harus membeli air Rp1.000 per jerigen untuk bertahan hidup,” pungkas salah satu ibu – ibu yang menyalurkan Aspirasinya .

@s mnji

banner 336x280