Pangandaran, Inakor.id — Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Pangandaran resmi memiliki kepengurusan baru masa khidmat 2026–2031. Pelantikan sekaligus upgrading digelar di Gudang Kopra H. Toni, Bojonggebang, Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, Sabtu (26/9/2026) malam.
Kepengurusan baru tersebut dipimpin KH Ahmad Aziz Masykur sebagai Rais Syuriyah dan Gus Imam Ibnu Hajar sebagai Ketua Tanfidziyah.
Usai pelantikan, Gus Imam menyampaikan sejumlah fokus yang akan menjadi perhatian MWCNU Pangandaran selama lima tahun ke depan. Salah satu yang menjadi prioritas awal adalah memperkuat konsolidasi organisasi, mulai dari jajaran pengurus, badan otonom (banom), hingga pengurus ranting.

Menurutnya, program kerja organisasi tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya soliditas seluruh unsur NU di tingkat kecamatan.
“Bagi kami, badan otonom ini menjadi salah satu tolok ukur untuk menjalankan program-program strategis yang nantinya diputuskan dalam musyawarah kerja,” ujar Gus Imam.
Ia menegaskan, konsolidasi bukan hanya menyatukan kepengurusan, tetapi juga memastikan setiap unsur organisasi memahami tugas dan perannya masing-masing.
“Program kerja yang baik tanpa konsolidasi yang baik tentunya tidak akan bisa dijalankan dengan baik,” katanya.
Salah satu pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan, lanjut Gus Imam, adalah penguatan kepengurusan ranting. Dari enam ranting yang telah mendapatkan surat keputusan (SK), masih terdapat dua desa yang belum memiliki legalitas kepengurusan secara formal.
“Ini menjadi PR pertama kami agar segala bentuk program kerja MWCNU bisa dijalankan dengan baik di tengah masyarakat, khususnya melalui pengurus NU,” ujarnya.
Tingkatkan Layanan kepada Umat
Selain pembenahan internal, MWCNU Pangandaran juga akan mendorong peningkatan layanan kepada umat. Gus Imam menyebut bidang pendidikan, sosial, ekonomi dan kesehatan sebagai beberapa sektor yang perlu mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
“Ini menjadi hal-hal yang dibutuhkan oleh umat dan harus menjadi perhatian MWCNU ke depan,” katanya.
Perkuat Kaderisasi
Gus Imam juga menempatkan kaderisasi sebagai bagian penting dalam menjaga keberlangsungan organisasi. Menurutnya, kaderisasi harus dibangun secara berjenjang dan dimulai dari tingkat bawah dengan melibatkan badan otonom NU.
Sejumlah program kaderisasi seperti BKPNU, DPKPNU dan MKNU, kata dia, perlu terus didorong untuk memperkuat pemahaman kader terhadap organisasi.
Karena itu, ia meminta jajaran badan otonom, mulai dari Ansor, Fatayat NU, IPNU hingga IPPNU, ikut mengambil peran dalam proses kaderisasi sekaligus memperkuat konsolidasi organisasi.
“Kader-kader inilah yang nantinya akan menjadi generasi kita. Karena itu, kami memohon dukungan dari seluruh jajaran, terutama pimpinan badan otonom, agar proses kaderisasi ini dapat berjalan dengan baik,” tutur Gus Imam.
Ia berharap seluruh pengurus yang telah dilantik dapat menjalankan amanah dengan menempatkan kepentingan organisasi dan umat di atas kepentingan pribadi.
“Harus betul-betul menjadi sebuah kepentingan keorganisasian, sehingga amanah organisasi dapat dijalankan dengan baik,” pungkasnya.***
(Agit/ Agus Giantoro)



Tinggalkan Balasan