Pangandaran, inakor.id — Suara tawa dan keseruan permainan masa kecil kembali terdengar di Saung Leuit Munjul, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Selasa (8/9/2026).
Bukan permainan di layar ponsel yang menjadi pusat perhatian. Kali ini, Komunitas Barudak Ulin mengajak masyarakat bernostalgia melalui kegiatan Ubar (Ulin Bareng) bertajuk “Ngubaran Katineung”.
Kegiatan yang digagas Komunitas Barudak Ulin bersama pengelola Saung Leuit Munjul tersebut menjadi ruang untuk kembali memainkan permainan tradisional yang perlahan mulai ditinggalkan.
Penggagas Komunitas Barudak Ulin, Acep Rifki Padilah, mengatakan kegiatan itu tidak sekadar menjadi ajang bermain dan bernostalgia. Lebih dari itu, pihaknya ingin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal kembali permainan yang dahulu menjadi bagian dari keseharian anak-anak.
“Ini sebagai sarana nostalgia sekaligus upaya menghidupkan kembali permainan tradisional yang sekarang sudah semakin jarang dimainkan,” kata Acep.
Menurut Acep, perubahan pola bermain anak menjadi salah satu alasan munculnya gagasan tersebut. Jika dahulu anak-anak dengan mudah ditemukan bermain bersama di luar rumah, kini gadget dan game online lebih banyak mengisi waktu luang mereka.
Kondisi tersebut, kata dia, bahkan terlihat dari lingkungan keluarganya sendiri.
“Keponakan saya masih anak-anak, tetapi sekarang lebih banyak bermain game online di gadget. Jarang sekali keluar rumah untuk bertemu dan bermain dengan teman-teman sebayanya,” ujarnya.
Berangkat dari kondisi itu, Acep berharap kegiatan Ulin Bareng tidak berhenti pada satu kesempatan. Ia membuka peluang agar kegiatan serupa dapat digelar secara rutin dengan melibatkan lebih banyak masyarakat.
“Ke depan kemungkinan akan kami laksanakan secara rutin. Bagi siapa saja yang ingin ikut, silakan datang langsung dan bergabung dalam kegiatan Ulin Bareng,” tuturnya.
Antusiasme terhadap kegiatan tersebut juga mendapat sambutan positif dari Dede Riki Saepudin alias Temon, selaku pengelola Saung Leuit Munjul.
Temon mengaku senang tempat yang dikelolanya dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk melakukan kegiatan yang bersifat positif dan membangun kebersamaan.
“Saya sangat senang tempat ini bisa diramaikan dengan kegiatan seperti ini. Apalagi kegiatannya positif dan memiliki visi yang sama dengan tempat yang sedang saya bangun,” kata Temon.
Menariknya, nostalgia tidak selalu berarti mudah. Hal itu dirasakan Acep ketika kembali memainkan pecle papatong, permainan yang pernah menjadi bagian dari masa kecilnya.
Meski sudah pernah memainkannya berulang kali ketika kecil, ia mengaku kemampuan tersebut tidak serta-merta kembali ketika permainan itu dicoba lagi.
“Dulu saya sering bermain pecle papatong. Tapi ketika sekarang dimainkan lagi, ternyata cukup sulit juga. Walaupun begitu, keseruannya tetap sama,” ujar Acep sembari tertawa.
Dalam agenda awal, sejumlah permainan tradisional sebenarnya telah disiapkan, di antaranya pecle papatong, gobag sodor, dan oray-orayan.
Namun, karena keterbatasan waktu, peserta baru sempat memainkan pecle papatong.
Meski hanya satu permainan yang terlaksana, semangat kegiatan tetap terasa. Tawa, interaksi langsung, dan suasana kebersamaan menjadi bagian penting dari “Ngubaran Katineung”.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi, permainan sederhana yang dimainkan bersama masih memiliki tempat untuk menghadirkan kebahagiaan dan mempererat hubungan antarsesama.***
(Agit/ Agus Giantoro)



Tinggalkan Balasan