Pangandaran, inakor.id — Ketua KUD Minasari Pangandaran, Jeje Wiradinata, mengungkapkan keprihatinannya terhadap menurunnya hasil tangkapan nelayan dalam beberapa waktu terakhir di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Babakan, Pangandaran.
Hal itu disampaikan Jeje usai melakukan pemantauan rutin di kawasan Pelabuhan Cikidang, Babakan, Pangandaran, Senin (27/4/2026). Ia mengaku selama empat pekan terakhir secara intens turun langsung untuk mengamati aktivitas pelelangan ikan sekaligus berdialog dengan para pelaku usaha perikanan, termasuk bakul dan nelayan.
“Saya sengaja rutin datang untuk melihat, menganalisa, dan mengamati langsung kondisi di lapangan. Ini juga menjadi bahan koordinasi dengan para bakul dan nelayan terkait berbagai persoalan yang mereka hadapi,” ujar Jeje.
Menurutnya, salah satu persoalan utama yang mencuat adalah potensi penurunan harga ikan yang dipengaruhi oleh minimnya hasil tangkapan. Kondisi tersebut berdampak langsung pada pendapatan nelayan.
Ia mencontohkan, dalam satu kali melaut, hasil tangkapan nelayan saat ini kerap tidak mencapai Rp1 juta. Setelah dikurangi biaya operasional seperti bahan bakar dan bekal sekitar Rp200 ribu, sisa pendapatan harus dibagi antara pemilik kapal (juragan) dan janggol.
“Kalau dihitung, pendapatan yang diterima nelayan bisa hanya sekitar Rp100 ribu sampai Rp200 ribu. Ini tentu sangat memprihatinkan,” jelasnya.
Jeje menegaskan, pihaknya akan segera melakukan dialog bersama para pemangku kepentingan untuk mencari solusi agar harga ikan tetap stabil dan kesejahteraan nelayan bisa terjaga.
“Kami akan duduk bersama, mencari langkah-langkah terbaik. Kami juga sudah menyiapkan beberapa model pengamanan harga agar kondisi ini tidak terus berlarut,” katanya.
Selain itu, ia juga berharap kondisi laut ke depan semakin membaik sehingga hasil tangkapan nelayan kembali meningkat.
“Kita semua berharap laut ini kembali penuh berkah. Namun tentu ada banyak hal yang perlu dievaluasi bersama,” pungkasnya.**
(Agit Warganet/ Agus Giantoro)



Tinggalkan Balasan