CIMAHI, INAKOR.ID – Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa dari ribuan titik di Jawa Barat, kolonial Belanda justru memilih Cimahi sebagai jantung pertahanan militer terkuatnya?

Ada rahasia besar yang tersembunyi di bawah aspal dan barak tua kota ini.

banner 336x280

Sebuah kisah yang membawa kita kembali ke masa ketika Bandung hanyalah sunyi di dasar air.

Jauh sebelum gedung berdiri, saat Gedebage masih menjadi titik terdalam Danau Bandung Purba di ketinggian 660-685 mdpl, Cimahi muncul sebagai daerah yang lebih tinggi.

Dengan ketinggian bagian utara mencapai 1.040 mdpl, Cimahi bukan sekadar daratan, ia adalah tepian yang kokoh. Oase bagi kehidupan yang berada di atas daratannya.

Selisih ketinggian inilah yang membuat tanah Cimahi begitu stabil sejak jutaan tahun yang lalu.

Nama Cimahi sendiri adalah janji suci dari leluhur. Berasal dari bahasa Sunda Ci (Air) dan Mahi (Cukup), ia berarti air yang cukup untuk sumber penghidupan.

Namun dalam bahasa Sansekerta, maknanya lebih dalam, Pancaran Cahaya Bumi. Nama ini mulai dikenal dunia sejak 1811, ketika Gubernur Jenderal Willem Daendels membangun Jalan Raya Pos (Anyer-Panarukan).

Tahukah Anda? dalam sejarahnya,

Alun-Alun Cimahi yang kini menjadi tempat kita bersantai, dulunya adalah pos penjagaan Daendels yang sangat ketat untuk mengawasi jalur logistik utama Nusantara.

Pesona Cimahi semakin berkilau saat jalur kereta api jurusan Bandung-Cianjur dibangun (1874-1893). Belanda tahu tanah ini istimewa, stabil dan berenergi.

Maka pada 1886, berdirilah pusat pendidikan militer, rumah sakit Dustira, hingga penjara Poncol. Inilah yang membentuk karakter warga Cimahi yang disiplin, tangguh, namun tetap memiliki keramahtamahan.

Kontribusi militer terhadap Sumber Daya Alam di Cimahi bukan sekadar tentang penjagaan fisik. Mereka ikut menjaga alam Cimahi sebagai benteng ekologis utama untuk daerahnya dan Bandung.

Melalui penguasaan lahan-lahan latihan di wilayah utara, militer secara tidak langsung mengunci kawasan resapan air agar tetap menjadi ruang terbuka hijau, mencegah eksploitasi beton berlebihan yang dapat mengancam ketersediaan air bersih bagi warga.

Selain itu, keterlibatan aktif TNI dalam program strategis seperti Citarum Harum menjadi kunci dalam mendisiplinkan pengolahan limbah industri di sektor selatan serta memulihkan kesehatan aliran sungai, sehingga filosofi Cimahi sebagai air yang cukup tetap terjaga keberlangsungannya untuk masa depan.

Energi kebercukupan ini pula yang melahirkan semangat pantang menyerah dalam mengembangkan kreativitas.

Dari udara Cimahi yang sejuk, lahir artis ternama seperti Sule, Ziva Magnolya, hingga Rizky Febian membuktikan bahwa tanah ini tak pernah berhenti mencetak bintang.

Dari uraian di atas, kini kita menyadari bahwa Setiap kali Anda melangkah di Alun-Alun Cimahi, Setiap kali itu pula sebetulnya kita sedang berpijak di bekas pos penjagaan bersejarah di tepian danau purba.

Memahami Cimahi adalah belajar tentang filosofi kebercukupan. Kita tidak perlu menjadi yang paling luas, paling kaya, atau paling hebat sekalipun untuk menjadi berarti. kita hanya perlu menjadi “Mahi” cukup, stabil, dan bermanfaat bagi sesama.

Mental MERASA BERKECUKUPAN adalah Mental yang leluhur titipkan pada semua warga Cimahi.

Maka, ada baiknya kita tanamkan dan Wariskan hingga ke anak cucu kelak.

Cimahi mungkin tidak rusak oleh warganya, tapi akan hancur oleh oknum yang sifatnya keluar dari leluhurnya. Jaga Cimahi agar selalu “mahi” sampai kapanpun baik rezeki, sumber daya alam, hingga jalinan silaturahmi antar warganya.

banner 336x280