Pangandaran, inakor.id — Rumah Perjuangan 145 Pangandaran mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap isu lingkungan global melalui kampanye gaya hidup thrifting atau penggunaan pakaian bekas layak pakai. Gerakan ini dinilai sebagai alternatif yang tidak hanya ekonomis, tetapi juga ramah lingkungan.

Penggiat Rumah Perjuangan 145 Pangandaran, Asep Saepudin, menegaskan bahwa thrifting bukan sekadar tren, melainkan bagian dari pola konsumsi berkelanjutan.

banner 336x280

“Thrifting dapat dipahami sebagai bagian dari konsep sustainable consumption atau konsumsi berkelanjutan,” ujar Asep, Sabtu (11/4/2026).

Menurutnya, industri fesyen merupakan salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Produksi massal dalam industri fast fashion berdampak pada peningkatan emisi karbon, penggunaan air berlebih, serta pencemaran limbah tekstil.

“Dengan memanfaatkan kembali pakaian yang masih layak, kita bisa memperpanjang siklus hidup produk dan menekan kebutuhan produksi baru yang berdampak pada lingkungan,” jelasnya.

Rumah Perjuangan 145 Pangandaran memanfaatkan momentum ini untuk mengedukasi masyarakat melalui berbagai kegiatan seperti diskusi, bazar, dan kampanye digital. Upaya tersebut bertujuan membangun kesadaran bahwa gaya hidup ramah lingkungan dapat dilakukan secara sederhana dan terjangkau.

“Melalui thrifting, masyarakat tetap bisa tampil stylish dengan cara yang lebih sadar dan bertanggung jawab,” kata Asep.

Ia menambahkan, thrifting juga mencerminkan pergeseran nilai dalam masyarakat, dari yang semula berorientasi pada kebaruan barang menjadi lebih menekankan pada fungsi, keunikan, dan keberlanjutan.

“Setiap item memiliki cerita, karakter, dan identitas tersendiri, sehingga bisa menjadi media ekspresi diri,” tambahnya.

Selain berdampak pada lingkungan dan sosial, thrifting juga memberikan manfaat ekonomi. Aktivitas jual beli barang bekas layak pakai dinilai mampu menciptakan perputaran ekonomi di tingkat lokal serta membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Meski demikian, Asep mengingatkan pentingnya literasi dalam praktik thrifting. Ia menekankan bahwa tidak semua barang bekas layak digunakan kembali, sehingga aspek kebersihan, kualitas, dan etika konsumsi harus tetap diperhatikan.

“Thrifting itu bukan sekadar hemat, tetapi juga keren karena mencerminkan kepedulian terhadap bumi,” pungkasnya.*

 

(AW/ AG)

banner 336x280