Pangandaran, inakor.id – Keluhan dari sejumlah wisatawan terkait dugaan adanya pungutan tertentu pada layanan shuttle wisata mencuat setelah ramai postingan di media sosial. Menanggapi hal tersebut, Koordinator Bus Shuttle, Andi, memberikan klarifikasi dan menegaskan bahwa hal tersebut merupakan kesalahpahaman di masyarakat.

Menurut Andi, tidak ada praktik pungutan seperti yang dipersepsikan sebagian wisatawan. Ia menjelaskan bahwa layanan yang diberikan murni merupakan pelayanan kepada pengunjung wisata. Selain itu, ia juga menyinggung istilah “booking” yang kerap disalahpahami sebagai bentuk pungutan.

banner 336x280

“Di sini kami mengklarifikasi bahwa tidak ada pungutan dalam layanan shuttle. Kami memang khusus memberikan pelayanan untuk pengunjung wisata. Begitu juga dengan istilah ‘booking’, itu bukan pungutan, melainkan biasanya terkait rombongan yang sudah didampingi tour guide,” ujar Andi, Kamis (26/3/2026).

Ia menambahkan, kesalahpahaman sering terjadi ketika ada rombongan yang menggunakan jasa tour guide. Dalam kondisi tertentu, pemandu wisata tersebut ikut mengarahkan lokasi penjemputan atau tujuan penumpang, sehingga menimbulkan persepsi berbeda di kalangan pengguna jasa lainnya.

“Kadang-kadang ada tour guide yang ikut menunjukkan langsung di mana tempat penumpang berada. Namun penangkapan dari masyarakat atau pengguna jasa shuttle lain itu mungkin salah penafsiran,” jelasnya.

Sementara itu, Supir Bus Shuttle, Heryana, mengungkapkan bahwa sebagian besar wisatawan justru menyambut baik program layanan shuttle yang saat ini masih dalam tahap uji coba. Ia mengatakan, sebelum penumpang naik ke bus, dirinya selalu memberikan arahan terkait tujuan perjalanan serta menjelaskan bahwa layanan tersebut merupakan program pemerintah daerah.

“Biasanya sebelum naik saya arahkan dulu tujuan pengunjung. Setelah di dalam bus, mereka sering bertanya ini program siapa. Saya jelaskan ini program pemerintah daerah dan masih masa uji coba, jadi kalau ada keluhan bisa disampaikan untuk bahan evaluasi,” kata Heryana.

Menurutnya, banyak wisatawan menilai program tersebut membawa dampak positif, terutama dalam mengurangi kemacetan di kawasan pantai. Dengan kendaraan pribadi ditampung di area parkir terpusat, arus lalu lintas di dalam kawasan wisata menjadi lebih lancar.

“Alhamdulillah banyak yang bilang sekarang lebih enak, tidak macet di dalam pantai. Memang kalau semua mobil masuk ke dalam, justru antreannya panjang di jalan,” ujarnya.

Meski demikian, Heryana menyebut ada satu keluhan yang kerap disampaikan pengunjung, yakni saat jam-jam sibuk bertepatan dengan waktu check out penginapan, sekitar pukul 10.00 hingga 12.00 WIB. Pada waktu tersebut, lonjakan penumpang cukup tinggi sehingga berpotensi terjadi kepadatan.

“Keluhannya biasanya saat jam check out hotel. Di waktu itu penumpang banyak, jadi ada antrean. Tapi setelah pukul 13.00 WIB biasanya sudah kembali normal. Saya juga sarankan kalau mau kembali ke parkiran bisa setelah jam tersebut agar tidak terjebak macet,” jelasnya.

Selain itu, Heryana mengakui pengoperasian bus berukuran besar di kawasan wisata masih menghadapi tantangan, terutama karena kondisi jalan yang padat oleh kendaraan lain dan pejalan kaki. Menurutnya, situasi tersebut masih dalam tahap penyesuaian karena program tengah diuji coba.

“Untuk sementara memang ada sedikit kesulitan, karena kondisi jalan masih ramai dan banyak pejalan kaki. Dua kendaraan besar berpapasan juga masih agak sulit, jadi kami harus ekstra hati-hati,” katanya.

Ia berharap ke depan akan ada evaluasi terkait pengaturan jalur maupun titik kemacetan, sehingga operasional shuttle bisa lebih optimal dan memberikan kenyamanan bagi wisatawan.**

 

(AW/ AG) 

banner 336x280