BANDUNG, inakor.id – Perguruan tinggi swasta (PTS) di Jawa Barat di dorong untuk terlibat secara aktif dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi provinsi ini. Seperti tingginya angka pengangguran, kemiskinan, serta persoalan pengelolaan sampah.

Imbauan ini di sampaikan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman. Saat membuka Musyawarah Nasional ke-7 Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) yang di gelar di Kampus Unikom, Kota Bandung, Sabtu (2/8/2025).

banner 336x280

“Dalam pandangan budaya Sunda, kemajuan hanya bisa di capai melalui kolaborasi dan sinergi lintas sektor,” kata Herman dalam pidatonya.

Kegiatan tersebut juga di hadiri oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto.

Herman menjelaskan bahwa pembangunan daerah membutuhkan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Ia merujuk pada filosofi budaya Sunda, Tri Tangtu di Buana, yang menempatkan peran resi (kaum intelektual), prabu (pemerintah). Dan rama (rakyat) sebagai tiga pilar utama pembangunan.

Menurut data, angka kemiskinan di Jawa Barat tercatat 7,02 persen. Sementara tingkat pengangguran terbuka mencapai 6,74 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 4,7 persen. Dari total jumlah pengangguran, 20 persen di antaranya merupakan lulusan SMA atau SMK.

Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan APTISI. Akan mengikutsertakan sekitar 100.000 mahasiswa dari PTS dalam program KKN Tematik yang akan di laksanakan di 27 kabupaten dan kota.

Fokus utama dari program ini adalah pada isu pengelolaan sampah serta pengembangan kewirausahaan.

“Jawa Barat menghasilkan sekitar 29.000 ton sampah per hari. Sebagian besar tempat pembuangan akhir belum dilengkapi teknologi yang memadai. Karena itu, kami mendorong penanganan sampah dari tingkat rumah tangga hingga ke hulu,” ujar Herman.

Lebih lanjut, Pemprov Jabar juga akan menyediakan long list atau daftar digital permasalahan daerah sebagai referensi tema penelitian bagi PTS. Peneliti yang memilih topik dari daftar tersebut akan memperoleh akses data dan percepatan proses administratif, termasuk perizinan.

“Proses pengajuan proposal penelitian bisa selesai dalam satu hingga dua hari karena data sudah kami siapkan,” jelasnya.

Dalam Pelatihan Keterampilan Vokasional. Herman juga mengajak PTS untuk berkontribusi dalam memberikan pelatihan vokasi kepada lulusan SMA dan SMK agar lebih siap memasuki dunia kerja.

“Saat ini ada sekitar 320.000 lulusan SMA dan SMK yang belum bekerja. Jika sekitar 300 PTS di Jawa Barat turut serta memberikan pelatihan keterampilan yang relevan. Maka angka pengangguran bisa di tekan secara signifikan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa meskipun Jawa Barat merupakan provinsi dengan nilai investasi terbesar di Indonesia. Yakni sebesar Rp251 triliun, tantangan pengangguran tetap menjadi pekerjaan rumah.

“PTS jangan hanya sibuk di menara gading. Mereka harus hadir dan berkontribusi langsung dalam menyelesaikan persoalan-persoalan nyata bersama pemerintah dan masyarakat,” tutupnya.***

Suryana.

banner 336x280