Pangandaran, inakor.id – Barisan Adat Raja Sultan Nusantara (Baranusa) menggelar Hajat Bumi dengan tema “Mupusti Tradisi, Mulasara Budaya, Neruskeun Carita Kolot” di kediaman Panglima Baranusa Yana Macan di Dusun Bojongkarekes, Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Senin (21/07/2025).

Acara tersebut berjalan khidmat. Nampak ratusan warga bersama tokoh-tokoh budaya dari berbagai daerah di Jawa Barat berkumpul dalam perhelatan Hajat Bumi atau Hajat Suya, sebuah tradisi adat sebagai bentuk syukur kepada alam dan penghormatan kepada leluhur.

banner 336x280

Momen sakral yang menyatukan seluruh elemen masyarakat tanpa sekat sosial. Tradisi ini tak hanya menjadi bagian dari pelestarian budaya lokal, tapi juga simbol nilai-nilai kesetaraan dan gotong royong.

Acara ini juga dihadiri oleh Staf Ahli Bupati Pangandaran, Hj. Tini Nirmala Sari, serta Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangandaran, perwakilan tokoh masyarakat Babakan, para kepala dusun, hingga budayawan dari berbagai kabupaten di Jawa Barat.

Mereka hadir tidak dalam kapasitas formal birokratis, melainkan turut larut dalam prosesi adat sebagai bagian dari warga yang sama-sama duduk di atas tilem (tikar) dan makan bersama. Semua tanpa perbedaan, tanpa kursi kehormatan, tanpa protokoler.

Hajat Bumi dimulai sejak pagi hari, diawali dengan kirab makanan oleh para lelaki dari rumah masing-masing menuju area utama acara. Mereka membawa aneka sajian khas kampung, nasi liwet, lauk pauk, hasil bumi, hingga jajanan tradisional. Makanan-makanan tersebut kemudian diserahkan kepada para perempuan yang telah menyiapkan tempat dan susunan sesaji.

Setelah prosesi penyerahan makanan selesai, seluruh warga berkumpul dalam satu hamparan tikar. Tak ada pemisahan antara pejabat dan masyarakat. Semua duduk setara, menyantap makanan bersama sebagai simbol kesatuan, rasa syukur, dan kerendahan hati.

Yana Macan Panglima Baranusa mengatakan, tradisi seperti ini luar biasa. Ini bukan hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memperkuat nilai-nilai sosial dan kebangsaan.

“Di sinilah ajaran leluhur kita hidup. Hidup sederhana, saling berbagi, dan menghormati alam,” ujarnya

Menurutnya, Hajat Bumi sudah dilakukan sejak masa kakek-nenek mereka dahulu, bahkan sebelum struktur pemerintahan modern terbentuk. Dulu, tradisi ini menjadi bentuk komunikasi spiritual antara manusia dan kekuatan alam. Sekaligus menjadi ruang konsolidasi sosial antarkampung.

“Saya ingin anak cucu kita tahu, bahwa kita pernah punya budaya hebat yang menjunjung kesetaraan tanpa pamrih,” ujar Yana Macan

Cerita-cerita tentang asal-usul desa, sejarah leluhur, dan petuah-petuah adat turut dibacakan dalam bentuk pantun dan carita pondok oleh para tokoh budaya. Bahkan beberapa budayawan dari Ciamis, Tasikmalaya, Garut, dan Bandung turut menyumbang narasi budaya yang memperkaya jalannya acara.

Dalam kesempatan itu Raden Koko Koswara yang merupakan trah kerajaan Galuh menyampaikan, kegiatan tersebut juga menjadi media edukasi budaya bagi generasi muda. Mereka diajak ikut serta dalam menata sesaji dan mendengarkan dongeng budaya dari para sesepuh.

“Ini bukan hanya budaya panggung, tapi budaya hidup. Anak-anak perlu melihat, merasakan, dan mengalami langsung,” terangnya

Raden Koko Koswara mengapresiasi antusiasme warga dan para tamu undangan dalam perayaan Hajat Bumi kali ini. Ia berharap acara ini tidak hanya menjadi kegiatan insidental, tetapi menjadi agenda budaya tahunan yang terintegrasi dengan program pariwisata dan pelestarian budaya lokal.

“Kita punya kearifan lokal yang kuat. Ini potensi besar untuk pariwisata berbasis budaya, sekaligus memperkuat identitas kita sebagai masyarakat Sunda,” tuturnya

Di tengah derasnya arus modernisasi, Hajat Bumi menjadi pengingat bahwa masyarakat masih memiliki akar yang kokoh. Akar yang tertanam dalam nilai gotong royong, kesederhanaan, dan hormat terhadap alam.

“Hajat Bumi bukan hanya ritual, ini adalah perlawanan terhadap lupa. Selama kita masih ingat carita kolot, kita tidak akan kehilangan jati diri,” ungkapnya

Masih di tempat yang sama, Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Pangandaran, Sugeng mengatakan, mengapresiasi Yana Macan dalam upaya pelestarian tradisi lokal.

“Kami sangat menghargai inisiatif masyarakat dan Padepokan Pak Yana Macan yang terus berupaya menghidupkan budaya lokal. Hajat bumi bukan hanya tradisi. Namun juga merupakan ekspresi syukur dan semangat gotong royong yang sangat penting bagi generasi saat ini,” ucapnya

Perayaan ini tidak hanya menjadi momen kebersamaan. Tetapi juga pengingat pentingnya menjaga dan meneruskan warisan budaya di tengah derasnya arus modernisasi.

“Hajat Bumi di Pangandaran menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih hidup dan memberi makna bagi kehidupan masyarakat,” imbuh Sugeng

Acara ditutup dengan pembacaan doa bersama untuk keselamatan kampung, hasil tani yang melimpah, serta perlindungan bagi generasi mendatang. Diiringi alunan kecapi suling, suasana hening berubah haru saat semua peserta berdiri dan mengucapkan salam hormat kepada para leluhur.**

 

(Agit Warganet)

banner 336x280