Pangandaran, inakor.id – Direktur Eksekutif Sarasa Institute, Tedi Yusnanda N, memberikan pandangannya terhadap keputusan Ujang Endin, calon Bupati Pangandaran nomor urut 2, yang membatalkan kelanjutan gugatan hasil Pilkada ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Langkah ini, menurutnya, mencerminkan sikap politisi sejati yang mengutamakan stabilitas politik dan kepentingan masyarakat.

banner 336x280

“Saya menilai keputusan Ujang Endin sebagai langkah bijaksana yang memperlihatkan komitmen terhadap masa depan Pangandaran. Keputusan ini mencerminkan sikap luhur seorang pemimpin yang lebih mengutamakan stabilitas politik dan harmoni sosial dibanding ambisi pribadi. Dalam konteks demokrasi, sikap ini memperlihatkan kedewasaan politik yang jarang ditemukan,” katanya via WA, rabu (18/12/2024).

Tedi mengutip pandangan filsuf politik Edmund Burke, yang menyatakan bahwa, Pemimpin sejati adalah mereka yang tidak hanya memikirkan kepentingan saat ini, tetapi juga keberlangsungan masa depan.

“Dengan membatalkan gugatan, Ujang Endin tidak hanya mencegah polarisasi lebih dalam di masyarakat, tetapi juga memberikan ruang bagi pemerintahan baru untuk berjalan dengan lancar,” ungkapnya

Sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Pangandaran, Ujang Endin tetap memiliki peran strategis. Dengan lima kursi di DPRD Pangandaran, Gerindra dapat menjadi kekuatan penyeimbang yang efektif.

“Oposisi bukan hanya soal menentang, tetapi juga menjadi mitra kritis yang konstruktif. Dalam teori keseimbangan politik, oposisi yang sehat adalah elemen penting untuk memastikan kebijakan pemerintah berjalan sesuai aspirasi masyarakat,” imbuh Tedi

Tedi juga mengutip teori demokrasi dari Giovanni Sartori yang menekankan pentingnya oposisi dalam menjaga dinamika politik yang sehat.

“Oposisi adalah instrumen demokrasi yang memastikan adanya pengawasan terhadap kekuasaan. Dengan posisi strategis Gerindra, Ujang Endin dapat memainkan peran penting dalam isu-isu strategis seperti pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya

Tedi membandingkan langkah Ujang Endin dengan sikap negarawan dunia seperti Nelson Mandela.

“Mandela, dalam konteks pasca-apartheid di Afrika Selatan, memilih rekonsiliasi daripada dendam. Sikap ini menunjukkan bahwa politisi sejati adalah mereka yang berani mengorbankan ambisi pribadi demi kepentingan bersama,” ujarnya

Lebih jauh, ia melihat Ujang Endin memiliki potensi besar sebagai mentor politik bagi generasi muda Pangandaran.

“Dengan pengalaman dan kapasitasnya, Ujang Endin dapat menjadi influencer positif yang mendorong lahirnya politisi lokal berintegritas. Ini adalah langkah penting untuk menciptakan ekosistem politik yang lebih sehat di masa depan,” tutur Tedi

Keputusan Ujang Endin untuk tidak melanjutkan gugatan ini menjadi teladan dalam politik lokal.

“Butuh lebih banyak pemimpin seperti ini. Dalam politik demokrasi, kemenangan tidak hanya diukur dari perolehan suara, tetapi juga bagaimana seorang pemimpin mampu menjaga harmoni dan memastikan masa depan yang lebih baik untuk semua,” pungkas Tedi. (*)

banner 336x280