Pangandaran, inakor.id – Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah atau Ramadhan 2026, nuansa religius mulai terasa di tengah masyarakat.

Aktivitas keagamaan di masjid, pesantren, dan majelis taklim kembali menggeliat seiring kesiapan umat Islam menyambut bulan penuh ampunan dan keberkahan.

banner 336x280

Dalam momentum tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Riyadussalikin, Kyai Haji Luthfi Fauzi, mengingatkan umat Islam agar tidak memaknai Ramadhan hanya sebagai agenda tahunan, melainkan sebagai ruang refleksi, pertaubatan, dan pembenahan diri secara menyeluruh.

“Ramadhan adalah madrasah kehidupan. Jika puasa hanya dimaknai sebatas menahan lapar dan haus, sementara hati tetap dipenuhi keburukan, maka yang tersisa hanya rasa lelah,” ujar Kyai Haji Luthfi Fauzi melalui pesan WhatsApp, Kamis (22/1/2026).

Ia menegaskan bahwa hakikat Ramadhan adalah meluruskan kembali orientasi hidup manusia, dari yang semula berpusat pada kepentingan duniawi menuju kesadaran spiritual dan nilai-nilai kemanusiaan.

“Puasa bukan sekadar ibadah fisik. Di dalamnya ada pendidikan kesabaran, kejujuran, serta kepedulian sosial. Jika Ramadhan tidak membawa perubahan sikap terhadap sesama, maka kualitas puasanya patut dievaluasi,” tuturnya.

Kyai Haji Luthfi Fauzi juga menyoroti kondisi sosial masyarakat saat ini yang cenderung mudah terpancing emosi, termasuk di ruang digital. Menurutnya, Ramadhan seharusnya menjadi pengendali hawa nafsu, baik dalam ucapan maupun perilaku, termasuk di media sosial.

Di lingkungan Pondok Pesantren Riyadussalikin, berbagai persiapan menyambut Ramadhan 2026 telah dilakukan. Mulai dari penguatan pengajian kitab, pembiasaan ibadah berjamaah, hingga penanaman nilai kepedulian sosial kepada para santri.

“Santri harus tampil sebagai penyejuk di tengah masyarakat. Ramadhan bukan ajang pamer ibadah, melainkan panggung pembuktian akhlak,” tegasnya.

Ia berharap para santri dan alumni Ponpes Riyadussalikin mampu menjadi teladan Islam yang ramah, rendah hati, dan mampu membumi di tengah kehidupan sosial masyarakat.

Lebih jauh, Kyai Haji Luthfi Fauzi menekankan pentingnya meluruskan niat sebelum memasuki bulan suci. Menurutnya, kesiapan batin jauh lebih menentukan kualitas ibadah Ramadhan dibandingkan persiapan seremonial semata.

“Jika niat sudah benar, ibadah akan terasa ringan. Namun bila masih bercampur dengan riya dan keinginan dipuji, Ramadhan bisa berlalu tanpa meninggalkan bekas spiritual,” ujarnya.

Ia juga mengajak umat Islam untuk saling memaafkan, memperbaiki hubungan keluarga, serta membersihkan hati sebagai bekal menyambut Ramadhan.

Menutup pesannya, Kyai Haji Luthfi Fauzi berharap Ramadhan 2026 dapat menjadi titik balik dalam membangun akhlak dan kesadaran spiritual umat Islam, khususnya generasi muda.

“Ramadhan itu waktunya singkat, tetapi dampaknya harus panjang. Jika selepas Ramadhan kita masih mudah marah dan sulit jujur, berarti ada yang perlu dibenahi dalam ibadah kita,” pungkasnya.

Ramadhan kian dekat. Bukan sekadar kesiapan lahiriah yang dibutuhkan, melainkan sejauh mana hati benar-benar siap menerima cahaya perubahan.**

 

(AW/ AG)

banner 336x280