ACEH, INAKOR.ID – Itu bukan kemenangan, itu pengaturan skor. Kalau memang juaranya sudah diatur, mending sekalian gak usah bertanding. Kalungkan saja medali juara buat tuan rumah.
Kalau saya orang Aceh, kemenangan yang diatur seperti itu tidak akan saya terima.
Memalukan !!!
Kita tidak punya harga diri sebagai manusia dan sebagai bangsa besar.
Bukankah orang Aceh terkenal dengan semangat patriotismenya yang tinggi?
Bukankah Tanah Aceh terkenal dengan sikap menjunjung tinggi agama dan adat?
Kita diajarkan oleh para tetua, kalau taklah kita berharta, jangan pula kita tak punya harga diri.
Sekarang bayangkan, saat ini mereka lolos ke semifinal. Nah untuk juara pertama berarti harus curang lagi? Harus seperti ini lagi? Apa gak malu, juara karena pengaturan seperti ini? Di olahraga, kalau kau tak berkualitas maka kau gak akan pernah bisa juara. Sejauh apa kau akan melompat kawan? Kau gk akan juara, camkan itu.
Saya juga tidak yakin pak Erick Thohir mau dan mampu mengurusi ini. Sikap yang paling mungkin datang dari pak Erik adalah berdiam sambil memaklumi bahwa ranah sepakbola PON memang sudah seharusnya seperti itu, penuh pengaturan permainan demi segelintir kepentingan tuan rumah atau elit semata. Biarlah toh fokus kita kepada tim nasional.
Merenung lah kawan, tiada guna mahkota yang kau dapat dari hasil merampok. Engkau bisa meletakkan mahkota itu di kepalamu dengan gagahnya. Namun tiada seorangpun yang akan hormat padamu, karena sejatinya dirimu bukanlah raja namun hanyalah pecundang curang yang tidak punya malu dan harga diri.
Pakaroso…!!!



Tinggalkan Balasan