Pangandaran, inakor.id – Lembur Kuring yang letaknya di Dusun Bojongkarekes RW. 13, Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran ada gerakan lokal yang sarat makna juga semangat gotong royong.
Lembur Kuring yang dibangun warga setempat bukan sekadar tempat tinggal, tetapi menjadi simbol kemandirian, ketangguhan pangan, dan kepedulian lingkungan. Melalui program bertajuk “Ngurus Lembur, Nata Kota”, warga di sana berinisiatif mengubah wajah dusun menjadi lebih hijau dan mandiri.
Di Lembur Kuring di setiap halaman rumah kini dipenuhi tanaman rempah-rempah dan pangan seperti jahe, kunyit, kencur, serai, pandan, cabai, tomat, aneka sayur, hingga tanaman obat keluarga (TOGA). Halaman-halaman yang dulunya gersang kini menjelma menjadi kebun produktif yang mendukung ketahanan pangan keluarga.
Yana Macan tokoh masyarakat dan budayawan mengatakan, erakan tersebut berakar dari kesadaran bersama akan pentingnya kedaulatan pangan dan keberlanjutan lingkungan. Bagi warga, halaman rumah bukan sekadar ruang kosong, melainkan sumber kehidupan, baik untuk memenuhi kebutuhan harian maupun sebagai warisan nilai kepada anak cucu.
“Ini bentuk cinta kami terhadap lembur kuring, terhadap tanah tempat kami tumbuh. Kami ingin Lembur Kuring menjadi kampung yang tangguh, hijau, dan penuh semangat berbagi,” ujar penggerak Lembur Kuring, Minggu (27/07/2025).
Menurutnya, tak hanya soal pangan, warga juga memprioritaskan aspek kebersihan dan pengurangan sampah, terutama sampah plastik. Setiap sudut dusun dijaga kebersihannya. Tak ada lagi sampah berserakan, apalagi plastik. Warga mengganti kebiasaan menggunakan plastik dengan daun pisang, daun jati, dan wadah ramah lingkungan lainnya.
“Langkah ini dilakukan sebagai upaya nyata meminimalkan limbah plastik sekaligus memperkuat budaya lokal yang ramah alam,” terangnya
Ia menjelaskan, setiap hari Jumat, warga rutin menggelar kegiatan “Jumat Berkah”, yakni agenda berbagi makanan hasil olahan dari kebun sendiri. Aneka kudapan tradisional, minuman herbal, dan camilan sehat disajikan secara gratis kepada siapa pun yang datang, tanpa kemasan plastik.
“Semua makanan ini kami buat dari hasil tanaman kami sendiri. Tidak mewah, tapi penuh berkah. Yang penting kami bisa saling berbagi dan mempererat hubungan antarwarga,” papar Yana Macan
Lembur Kuring bukan sekadar nama tempat, melainkan falsafah hidup. Dalam bahasa Sunda, “kuring” berarti “saya” atau “kami”, menandakan kepemilikan dan tanggung jawab kolektif terhadap kampung halaman. Filosofi inilah yang mendorong Yana Macan untuk menjaga kebersamaan, kemandirian, dan keberdayaan.
Gerakan ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak tokoh, aparat desa, hingga dusun-dusun tetangga yang mulai tertarik meniru gerakan serupa. Beberapa desa bahkan telah mengirim perwakilannya untuk belajar langsung ke Lembur Kuring, menyerap praktik baik dalam pengelolaan pangan dan lingkungan berbasis komunitas.
Di tengah tantangan urbanisasi dan ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar, warga Lembur Kuring justru memilih kembali ke akar: mencintai tanah, menanam, menjaga kebersihan, dan berbagi dari apa yang ada.
Dengan langkah kecil tapi konsisten, Lembur Kuring menjadi bukti nyata bahwa perubahan besar bisa dimulai dari dusun, dari kebun sendiri, dari rasa memiliki, dan dari semangat kebersamaan.**
(Agit Warganet)



Tinggalkan Balasan