Pangandaran, inakor.id – Kondisi memprihatinkan terlihat di kawasan belakang tanggul Sungai Citanduy, tempat puluhan warga masih bertahan meski risiko keselamatannya sangat tinggi. Situasi ini langsung mendapat perhatian dari Asep Noordin, Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, yang menilai keberadaan permukiman di lokasi tersebut sudah berada pada titik rawan.

Menurut Asep, lingkungan permukiman di Dusun Sukasari, Desa Sukanegara, Kecamatan Padaherang, tidak lagi layak dihuni karena posisinya berada di zona yang seharusnya steril dari aktivitas penduduk. Saat melakukan pengecekan di lapangan, ia menemukan 23 Kepala Keluarga (KK) tinggal tepat di antara tanggul pelindung dan aliran utama Sungai Citanduy wilayah yang sejatinya diperuntukkan sebagai area penopang tanggul.

banner 336x280

“Ini kondisi yang tidak bisa dibiarkan. Lahan warga berada di dalam area tanggul yang semestinya bebas bangunan,” ujar Asep Noordin melalui pesan WA, Rabu (25/11/2025).

Ia menjelaskan bahwa banjir yang sering terjadi bukan hanya akibat curah hujan tinggi, tetapi juga karena struktur permukiman yang terlalu dekat dengan badan sungai. Dengan jarak antara tanggul dan aliran sungai hanya 100–200 meter, setiap kenaikan debit air berpotensi langsung mengancam keselamatan warga.

“Dengan cuaca ekstrem seperti sekarang, tinggal di belakang tanggul sangat berisiko. Pemerintah daerah harus cepat mengambil tindakan,” tegasnya.

Asep meminta langkah mitigasi diperkuat, bukan hanya mengandalkan bantuan sembako saat banjir. Ia menekankan kebutuhan solusi teknis yang mampu memberikan perlindungan jangka panjang bagi masyarakat.

“Sembako hanya penanganan darurat. Yang lebih penting adalah upaya konkret untuk mengendalikan lonjakan debit air, terutama di Padaherang dan Kalipucang,” kata Asep Noordin.

Ia berharap pemerintah daerah bersama BBWS Citanduy segera menyiapkan langkah nyata agar warga tidak terus hidup dalam ancaman banjir setiap musim hujan tiba.**

 

(AW/ AG)

banner 336x280