Kota Bandung, INAKOR.ID – Komunitas Djembe Bandung Ngariung menggelar acara pelatihan dan pertunjukan bersama. Bertajuk Ngariung Djembe di Padepokan Seni Mayang Sunda, Jalan Peta No. 209, Kota Bandung, Sabtu (31/5/2025). Kegiatan ini menghadirkan pelatihan dasar Djembe, ritme musik Afrika, hingga sesi solo Djembe. Yang di bimbing langsung oleh Ka Iyan YDE, pegiat musik perkusi tradisional.
Lebih dari 20 sekolah dan lembaga pendidikan turut ambil bagian, mulai dari jenjang TK, SD, hingga SLB. Mereka berlatih dan tampil bersama dalam suasana meriah dan penuh semangat kolaboratif.
Sekolah yang ikut serta. Di antaranya: SD Binekas, SD AR-Rafi, SD Ashfiya, Rumah Hasanah, SD Tridaya, SD Tunas Bangsa, SD Islam Mutiara Hati. Tampil pula SD Islam Cendekia Muda, Ponpes Ashr Al Madani, Potads SLB Nike Ardila, Dreamworks, Aurel Amadeo, Altaf, SLB Terate. Kemudia dari USBP, Puspa Terang, Starland, TK Islam Cendekia, Percutwo, DXF, Gantari Gita Khatulistiwa, Rumah Belajar Biruku. Juga tampil pula SD Manaaratul Iman HIIs. Selain itu, hadir pula sejumlah peserta undangan lainnya.
Dalam konferensi pers, Ka Yan selaku panitia pelaksana menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya perkusi Afrika kepada generasi muda serta membangun semangat ekspresi dan kerja sama.
“Kegiatan ini menjadi sarana penyaluran ekspresi dan bakat anak-anak, agar mereka tidak hanya bergantung pada gawai dan permainan digital. Musik bisa menjadi medium yang menyenangkan sekaligus mendidik,” ungkap Ka Yan kepada awak media.
Ia menambahkan, pihaknya berharap kegiatan seperti ini dapat terus mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah dan instansi terkait.
“Kami mohon dukungan penuh dari Pemerintah Kota Bandung dan stakeholder lain agar semangat anak-anak ini bisa terus di jaga dan di kembangkan. Musik bukan hanya hiburan, tapi juga media pembentukan karakter,” lanjutnya.
Ka Yan juga mengajak masyarakat Bandung untuk lebih peduli dan aktif dalam kegiatan seni budaya, khususnya yang melibatkan anak-anak.
“Mari kita hidupkan kembali semangat berkesenian di lingkungan kita. Musik adalah bahasa universal yang bisa menyatukan semua kalangan.” pungkasnya.
Acara di tutup dengan doa bersama dan sesi foto bersama seluruh peserta, panitia, dan pelatih. Anak-anak tampak antusias dan gembira selama mengikuti kegiatan, menunjukkan bahwa seni bisa menjadi alternatif positif di tengah tantangan zaman digital.***
Suryana.



Tinggalkan Balasan