Pangandaran, inakor.id – Insiden mogoknya ambulans saat mengangkut jenazah korban kecelakaan laut di kawasan wisata Pasir Putih Pangandaran menimbulkan perhatian publik. Kendaraan yang merupakan milik RSUD Pandega Kabupaten Pangandaran tersebut dilaporkan mengalami gangguan teknis di tengah perjalanan menuju rumah duka di Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Peristiwa itu terjadi pada Kamis (25/12/2025).

Akibatnya, jenazah harus menunggu ambulans pengganti selama kurang lebih tiga jam sebelum akhirnya dipindahkan ke kendaraan lain untuk melanjutkan perjalanan.

banner 336x280

Salah seorang keluarga korban, Hadiat, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyampaikan bahwa ambulans mogok di wilayah Cimaragas, Kabupaten Ciamis.

“Benar, mogoknya di sekitar Cimaragas. Kurang lebih tiga jam kami menunggu kendaraan jemputan,” ujar Hadiat.

Menurutnya, ambulans berangkat dari RSUD Pandega Pangandaran sekitar pukul 12.00 WIB. Dengan kondisi normal, perjalanan ke Singaparna diperkirakan hanya memakan waktu sekitar tiga jam.

“Seharusnya sampai sekitar pukul 15.00 WIB. Tapi karena mogok di jalan, jenazah baru tiba di rumah duka setelah Maghrib,” katanya.

Hadiat juga mengaku sempat heran karena ambulans yang digunakan terlihat masih dalam kondisi baik. Akibat kendala tersebut, jenazah akhirnya dipindahkan ke ambulans milik RSUD KHZ Mustofa Singaparna yang tiba lebih dahulu di lokasi.

Sebelumnya, korban berinisial HF dilaporkan meninggal dunia setelah terjun dari atas bangkai kapal Viking Lagos di kawasan wisata Pasir Putih Pangandaran. Korban diduga tidak menyadari kedalaman perairan sehingga tidak mampu kembali ke permukaan. Jenazah korban kemudian ditemukan di area bekas baling-baling kapal dalam kondisi tidak bernyawa.

 

Tanggapan RSUD Pandega, Pangandaran terkait Ambulans Mogok

 

Menanggapi insiden mogoknya ambulans, pihak RSUD Pandega Pangandaran memberikan klarifikasi. Pengurus Ambulans RSUD Pandega Pangandaran, Iwan Hermawan, menegaskan bahwa kendaraan tersebut telah menjalani perawatan rutin sesuai standar operasional rumah sakit.

“Seluruh unit ambulans sudah melalui servis berkala sebelum masa libur Natal dan Tahun Baru. Namun secara teknis, tidak ada kendaraan yang bisa dijamin sepenuhnya bebas dari risiko gangguan,” ujar Iwan Hermawan, Selasa (30/12/2025).

Ia menjelaskan, saat kejadian posisi ambulans sudah lebih dekat ke wilayah Tasikmalaya dibandingkan Pangandaran. Sopir ambulans segera melaporkan kondisi tersebut kepada pengelola ambulans rumah sakit.

Sebagai langkah awal, RSUD Pandega menyiapkan unit ambulans pengganti dari Pangandaran. Namun, demi mempercepat proses penanganan, pihak keluarga memilih menggunakan ambulans terdekat dari Tasikmalaya yang lebih dahulu tiba di lokasi.

“Kami memahami keputusan keluarga karena situasinya darurat. Rumah sakit tidak menghalangi dan tetap bertanggung jawab,” katanya.

Berdasarkan data internal RSUD Pandega, ambulans yang mengalami gangguan tersebut telah beroperasi sekitar lima tahun dengan intensitas penggunaan yang cukup tinggi, termasuk untuk rujukan jarak jauh ke luar daerah. Kondisi ini menjadi salah satu perhatian pengelola ambulans.

Iwan Hermawan mengakui bahwa usia kendaraan dan jam operasional yang tinggi menjadi faktor yang terus dievaluasi. Ia menyebutkan, pada Agustus 2025 pihak rumah sakit telah menambah unit ambulans baru sebagai bagian dari upaya peremajaan armada.

“Armada ini memang memiliki jarak tempuh dan jam operasional yang tinggi. Karena itu, kami melakukan penambahan unit baru sebagai bagian dari peningkatan layanan,” jelasnya.

Terkait pembiayaan layanan, pihak rumah sakit memastikan tarif ambulans mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) dan dihitung berdasarkan jarak tempuh, dengan seluruh administrasi ditangani oleh bagian keuangan rumah sakit.

RSUD Pandega Pangandaran juga menyatakan bertanggung jawab atas insiden tersebut. Ambulans yang mengalami gangguan telah dibawa ke bengkel langganan untuk dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Namun, hasil evaluasi teknis masih menunggu karena keterbatasan aktivitas bengkel selama masa libur.

“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga atas ketidaknyamanan yang terjadi. Peristiwa ini menjadi bahan evaluasi agar ke depan layanan rujukan lebih siap dan andal,” pungkas Iwan Hermawan.

Insiden ini menjadi catatan penting bagi peningkatan sistem layanan kesehatan daerah, khususnya dalam memastikan kesiapan armada ambulans sebagai ujung tombak pelayanan darurat di wilayah dengan jarak rujukan yang jauh serta kondisi geografis yang menantang.**

 

(AW/ AG)

banner 336x280