Pangandaran, inakor.id – Di bulan suci Ramadhan, Pimpinan Pondok Pesantren Riyadussalikin, KH. Luthfi Fauzi, menyampaikan pesan kepada umat Islam agar tidak memaknai puasa sebatas kewajiban tahunan.
Ia menegaskan, ibadah puasa adalah sarana pembentukan karakter yang menyentuh seluruh aspek diri mulai dari fisik, ucapan, hingga kebersihan hati.
Dalam keterangannya, KH. Luthfi Fauzi menilai masih banyak orang yang merasa telah berpuasa secara sempurna, padahal baru sebatas menahan makan dan minum. Sementara perilaku sehari-hari, seperti berkata kasar, mudah tersulut emosi, atau membicarakan keburukan orang lain, kerap luput dari pengendalian.
Ia mengingatkan adanya potensi “hilangnya pahala” akibat kebiasaan yang dianggap sepele. Menurutnya, gosip, perdebatan tidak penting, dan komentar bernada merendahkan bisa mengurangi nilai ibadah yang dijalankan.
“Tidak ada artinya menahan lapar jika ucapan masih melukai. Tidak ada maknanya menahan haus jika hati tetap dipenuhi kemarahan,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Puasa sebagai Latihan Pengendalian Diri
KH. Luthfi Fauzi menekankan bahwa Ramadan seharusnya menjadi momentum memperbaiki diri. Puasa, kata dia, adalah proses melatih kesabaran, kelembutan sikap, serta meningkatkan kepedulian sosial.
Ia pun membagikan tiga langkah agar puasa dijalankan lebih bermakna.
Pertama, menjaga lisan sejak waktu subuh. Mengurangi perdebatan yang tidak perlu dan menahan komentar negatif menjadi cara sederhana namun berdampak besar dalam menjaga kualitas ibadah.
Kedua, memperbaharui niat setiap hari. Ia mengingatkan agar puasa tidak dijalani secara otomatis atau sekadar rutinitas, melainkan dengan kesadaran penuh akan tujuan ibadah.
Ketiga, memperbanyak amal secara tersembunyi. Sedekah tanpa publikasi, membantu orang lain tanpa diketahui banyak pihak, serta memperbanyak doa di waktu sepi dinilai sebagai bentuk latihan keikhlasan.
“Puasa adalah pendidikan pengendalian diri. Jika setelah Ramadhan tidak ada perubahan sikap, berarti ada yang perlu dibenahi,” tegasnya.
Jangan Jadikan Ramadhan Ajang Pamer Di tengah maraknya budaya berbagi aktivitas ibadah di media sosial
KH. Luthfi Fauzi juga mengingatkan agar umat tidak terjebak pada pencitraan. Menurutnya, ibadah yang terlalu dipamerkan berpotensi mengurangi nilai ketulusan.
“Yang dinilai Allah adalah hati, bukan unggahan,” katanya.
Ia berharap Ramadhan dapat dimanfaatkan sebagai momen introspeksi dan pembersihan diri bukan hanya dari rasa lapar dan haus, tetapi juga dari ego, amarah, serta keinginan berlebihan.
Bagi KH. Luthfi Fauzi, keberhasilan puasa tidak diukur dari lamanya menunggu azan magrib, melainkan dari perubahan sikap setelah Ramadhan usai. Jika hati menjadi lebih lembut dan kehidupan terasa lebih tenang, maka puasa telah dijalankan dengan benar.**
(AW/ AG)



Tinggalkan Balasan