Pangandaran, inakor.id – Susi Pudjiastuti yang pernah menjabat sebagai menteri Kelautan dan Perikanan menghadiri acara Syukuran Nelayan Kabupaten Pangandaran atau Hajat Laut di Pantai Barat, Pangandaran, Jabar, Kamis, (11/07/2024).
Dalam sambutannya Susi terlihat marah, karena banyaknya penangkapan liar baby lobster atau benur yang dilakukan nelayan di perairan Pangandaran.
Susi mengatakan, hal itu akan berdampak serius dengan kepunahan populasi Lobster di laut Pangandaran.
“Pasalnya, Jika melihat data omset saat ini di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) pendapatannya sangat jauh dibanding pada tahun 1983,” katanya
Menurut dirinya, dulu total (pendapatan) dalam sehari tidak kurang dari 2 ton.
“Tadi pak Kadis (Dinas Kelautan perikanan dan Ketahanan Pangan, red) bilang total omzetnya Rp 54 Miliar setahun. Itu mah debu,” papar Susi
Susi juga merasa miris dengan pendapatan lobster saat ini yang terbilang sangat jauh dengan tahun-tahun lalu.
“Sekarang lihat nelayan dapat lobster 1-2 kwintal sudah merasa dapat banyak. Padahal itu sedikit,” ujarnya
Sementara, pada tahun-tahun lalu para nelayan bisa mendapatkan lebih banyak dari itu. Bukan hanya lobster saja, namun jenis ikan seperti bawal putih, jika ditangkap bisa mencapai 30 ton dalam satu malam.
“Nelayan pulang malam-malam bisa membawa uang Rp 7-10 juta dalam satu kali penangkapan,” terang Susi
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Ketahanan Pangan (DKPKP), Sarlan mengatakan, kemarahan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu karena bukti cintanya terhadap nelayan.
“Karena beliau (Susi) juga salah satu pelaku perikanan tangkap. Tadi juga beliau menceritakan masa mudanya menjadi bakul ikan melalui ember,” katanya kepada sejumlah wartawan
Menurutnya, poin yang disampaikan Susi itu yakni, menangkap ikan dengan ramah lingkungan tanpa merusak biota laut.
“Bu susi ingin nelayan itu kembali ke masa-masa lampau. Memang ikan tangkap saat ini sangat luar biasa,” tutur Sarlan
Sarlan juga membenarkan dengan apa yang sudah disampaikan Susi soal data omzet sebesar Rp 54 miliar dalam satu tahun.
“Data itu yang tercatat di TPI. Sedangkan data TPI ini data kumulatif di semua KUD di 13 pangkalan,” tandasnya
Sarlan juga mengaku, ada ikan yang keluar dari aturan yang sudah dibuat atau bertransaksi di luar TPI. Hal itu menyebabkan hilangnya potensi secara statistik perikanan tangkap di pangandaran.
“APBD juga menjadi masalah, Dan Seharusnya bertransaksi di TPI,” tutupnya (Agit Warganet)